Cari disini...
Seputar Kaltim
Sejumlah aplikasi pinjaman online di Playstore. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Budaya mudik atau pulang kampung halaman saat Idulfitri diprediksi membuat pinjaman online atau pinjol bakal meningkat.
Mengambil data dari survei yang dilakukan oleh BTPN pada 28 Februari hingga 18 Maret, terjadi lonjakan transaksi pinjol sebesar 35 persen.
Pengamat Ekonomi sekaligus akademisi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Ahmad Syarif mengungkapkan pinjol menjadi alat transaksi yang diminati menjelang Idulfitri, baik untuk kebutuhan perayaan, modal usaha maupun renovasi rumah.
Tradisi mudik yang kembali marak pasca-pandemi Covid-19 turut berkontribusi pada peningkatan ini dan budaya memberikan hadiah serta Tunjangan Hari Raya (THR) kepada keluarga saat mudik menjadi salah satu faktor pemicu.
"Setelah Covid-19, terjadi lonjakan pemudik yang signifikan. Tren pinjol tahun ini naik dibandingkan tahun sebelumnya," ungkap Syarif.
Namun, tidak semua masyarakat mampu memenuhi tradisi ini dari penghasilan mereka sendiri, terutama bagi kelas bawah dengan pendapatan rendah dan THR yang tidak memadai.
Apalagi kebutuhan sekunder juga menjadi pertimbangan, meski seringkali tidak sebanding dengan pendapatan karyawan.
"Kebutuhan yang tidak terpenuhi seringkali ditutupi dengan pinjol," tambah Syarif.
Peraturan pemerintah yang mengharuskan perusahaan membayar THR dengan ketentuan minimal gaji tidak selalu terpenuhi. Sebab, kondisi keuangan perusahaan yang bervariasi.
"Ketidakmampuan perusahaan dalam membayarkan THR menjadi anomali tersendiri, tapi kita tidak bisa menyalahkan perusahaan untuk biaya produksi. Sebab, lonjakan harga pokok domestik dan bahan baku," jelasnya.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) penerima pinjaman secara akumulasi, jumlah transaksi dari Januari 2023 hingga Januari 2024 ini mengalami peningkatan pengguna.
Khususnya di Kaltim, pada Januari 2024 sudah mencapai 9.797.416 akun yang telah meminjam sejak usaha pinjol didirikan.
Namun jumlah itu sangat berbeda jauh dari Januari 2023 yang hanya mencapai 7.692.605 akun. Jika dihitung selisihnya selama setahun ini, maka mencapai 2.104.811 akun baru selama setahun.
Kemudian ada beberapa hal kebiasaan masyarakat yang menjadikan pinjol sebagai prioritas utama dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Staff Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Kaltim, Wahyu mengatakan prediksi kemungkinan kenaikan jumlah penerima pinjaman dari pinjol belum bisa disampaikan.
"Sebagaimana data dari OJK yang bisa diakses publik masih per Januari 2024, sehingga belum bisa diketahui perkembangan penggunaan pinjol di periode Maret-April (Ramadan)," ungkap Wahyu.
Namun, OJK terus melaksanakan edukasi keuangan dalam rangka peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat selama Ramadan ini.
Ia menyebut ada edukasi keuangan pada momentum Ramadan 2024 dioptimpalkan melalui kempanye nasional keuangan syariah bertajuk program Gebyar Ramadan Keuangan Syariah atau GERAK Syariah 2024.
"Jadi kegiatan kampanye keuangan syariah tersebut terdiri dari 295 literasi keuangan syariah, 124 kegiatan inklusi keuangan syariah dan 146 kegiatan sosial yang dipadukan dengan kegiatan literasi/inklusi keuangan syariah, dengan total target peserta edukasi sebanyak 786.929 orang," tuturnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Sejumlah aplikasi pinjaman online di Playstore. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Budaya mudik atau pulang kampung halaman saat Idulfitri diprediksi membuat pinjaman online atau pinjol bakal meningkat.
Mengambil data dari survei yang dilakukan oleh BTPN pada 28 Februari hingga 18 Maret, terjadi lonjakan transaksi pinjol sebesar 35 persen.
Pengamat Ekonomi sekaligus akademisi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Ahmad Syarif mengungkapkan pinjol menjadi alat transaksi yang diminati menjelang Idulfitri, baik untuk kebutuhan perayaan, modal usaha maupun renovasi rumah.
Tradisi mudik yang kembali marak pasca-pandemi Covid-19 turut berkontribusi pada peningkatan ini dan budaya memberikan hadiah serta Tunjangan Hari Raya (THR) kepada keluarga saat mudik menjadi salah satu faktor pemicu.
"Setelah Covid-19, terjadi lonjakan pemudik yang signifikan. Tren pinjol tahun ini naik dibandingkan tahun sebelumnya," ungkap Syarif.
Namun, tidak semua masyarakat mampu memenuhi tradisi ini dari penghasilan mereka sendiri, terutama bagi kelas bawah dengan pendapatan rendah dan THR yang tidak memadai.
Apalagi kebutuhan sekunder juga menjadi pertimbangan, meski seringkali tidak sebanding dengan pendapatan karyawan.
"Kebutuhan yang tidak terpenuhi seringkali ditutupi dengan pinjol," tambah Syarif.
Peraturan pemerintah yang mengharuskan perusahaan membayar THR dengan ketentuan minimal gaji tidak selalu terpenuhi. Sebab, kondisi keuangan perusahaan yang bervariasi.
"Ketidakmampuan perusahaan dalam membayarkan THR menjadi anomali tersendiri, tapi kita tidak bisa menyalahkan perusahaan untuk biaya produksi. Sebab, lonjakan harga pokok domestik dan bahan baku," jelasnya.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) penerima pinjaman secara akumulasi, jumlah transaksi dari Januari 2023 hingga Januari 2024 ini mengalami peningkatan pengguna.
Khususnya di Kaltim, pada Januari 2024 sudah mencapai 9.797.416 akun yang telah meminjam sejak usaha pinjol didirikan.
Namun jumlah itu sangat berbeda jauh dari Januari 2023 yang hanya mencapai 7.692.605 akun. Jika dihitung selisihnya selama setahun ini, maka mencapai 2.104.811 akun baru selama setahun.
Kemudian ada beberapa hal kebiasaan masyarakat yang menjadikan pinjol sebagai prioritas utama dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Staff Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Kaltim, Wahyu mengatakan prediksi kemungkinan kenaikan jumlah penerima pinjaman dari pinjol belum bisa disampaikan.
"Sebagaimana data dari OJK yang bisa diakses publik masih per Januari 2024, sehingga belum bisa diketahui perkembangan penggunaan pinjol di periode Maret-April (Ramadan)," ungkap Wahyu.
Namun, OJK terus melaksanakan edukasi keuangan dalam rangka peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat selama Ramadan ini.
Ia menyebut ada edukasi keuangan pada momentum Ramadan 2024 dioptimpalkan melalui kempanye nasional keuangan syariah bertajuk program Gebyar Ramadan Keuangan Syariah atau GERAK Syariah 2024.
"Jadi kegiatan kampanye keuangan syariah tersebut terdiri dari 295 literasi keuangan syariah, 124 kegiatan inklusi keuangan syariah dan 146 kegiatan sosial yang dipadukan dengan kegiatan literasi/inklusi keuangan syariah, dengan total target peserta edukasi sebanyak 786.929 orang," tuturnya.
(Sf/By)