Cari disini...
Seputar Kaltim
Pengamat Ekonomi UINSI Samarinda, Ahmad Syarif. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Wajah baru Pasar Pagi Samarinda yang kini mengusung konsep modern rupanya masih menyisakan pekerjaan rumah.
Alih-alih dipadati pembeli, banyak pedagang justru mengeluhkan sepinya pengunjung dan tata letak bangunan yang dinilai menyulitkan akses transaksi jual-beli.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Ahmad Syarif, menyoroti fenomena ini sebagai dampak dari culture shock atau masa adaptasi masyarakat dalam transisi dari gaya pasar tradisional ke pasar modern.
Menurut Syarif, salah satu keluhan utama para pedagang adalah posisi tenant (kios) yang dinilai terlalu menjorok ke dalam. Kondisi ini membuat barang dagangan tidak langsung terlihat oleh pengunjung yang baru datang.
"Akibatnya, banyak pedagang yang malah ingin berjualan di lantai satu atau memajang barangnya agak keluar dari tenant agar mudah diakses. Tapi, imbasnya pasar jadi tidak teratur lagi. Ini adalah bentuk pergeseran interaksi. Dulu di pasar tradisional tidak ada sekat, sekarang disekat, tentu butuh adaptasi," ujar Syarif ditemui di Samarinda, Rabu (1/4/2026).
Selain masalah tata letak, Syarif menilai lesunya pasar juga dipengaruhi oleh transisi sistem pembayaran. Digitalisasi pasar yang mendorong penggunaan uang elektronik diyakini masih menjadi kendala bagi sebagian masyarakat yang terbiasa menggunakan uang tunai.
Meski mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Samarinda yang telah mendirikan bangunan pasar modern tersebut, Syarif menekankan perlunya strategi taktis jangka pendek agar pasar tidak mati suri. Pengelola dituntut untuk lebih kreatif menciptakan daya tarik pasar.
Solusi pertama yang ditawarkan adalah kejelasan informasi. Syarif menyarankan pemasangan papan direktori di setiap titik awal masuk lantai.
"Masyarakat butuh petunjuk jelas. Lantai 1 jual apa, lantai 2 jual apa, sehingga mereka tidak pusing keliling membuang waktu mencari barang," tegasnya.
Solusi kedua adalah perlunya menghidupkan ekosistem ekonomi melalui gelaran UMKM Expo, bazar, atau pasar murah di dalam area Pasar Pagi.
Namun, terobosan paling potensial yang ditekankan Syarif adalah pemanfaatan ruang terbuka di lantai paling atas (rooftop) sebagai public space atau kafe kekinian yang portabel.
Dengan area yang luas dan pemandangan Kota Samarinda dari ketinggian, terutama saat sunset menjelang magrib, area ini diyakini bisa menjadi magnet kuat bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
"Masyarakat sekarang butuh public space untuk bersantai sepulang kerja. Kafe di atas sana sangat menjual. Dampaknya (multiplier effect), saat anak muda ini berjalan naik ke atas, mereka akan melihat barang-barang di lantai bawah. Ini akan menjadi cerita dan strategi marketing dari mulut ke mulut," urainya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Pengamat Ekonomi UINSI Samarinda, Ahmad Syarif. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Wajah baru Pasar Pagi Samarinda yang kini mengusung konsep modern rupanya masih menyisakan pekerjaan rumah.
Alih-alih dipadati pembeli, banyak pedagang justru mengeluhkan sepinya pengunjung dan tata letak bangunan yang dinilai menyulitkan akses transaksi jual-beli.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Ahmad Syarif, menyoroti fenomena ini sebagai dampak dari culture shock atau masa adaptasi masyarakat dalam transisi dari gaya pasar tradisional ke pasar modern.
Menurut Syarif, salah satu keluhan utama para pedagang adalah posisi tenant (kios) yang dinilai terlalu menjorok ke dalam. Kondisi ini membuat barang dagangan tidak langsung terlihat oleh pengunjung yang baru datang.
"Akibatnya, banyak pedagang yang malah ingin berjualan di lantai satu atau memajang barangnya agak keluar dari tenant agar mudah diakses. Tapi, imbasnya pasar jadi tidak teratur lagi. Ini adalah bentuk pergeseran interaksi. Dulu di pasar tradisional tidak ada sekat, sekarang disekat, tentu butuh adaptasi," ujar Syarif ditemui di Samarinda, Rabu (1/4/2026).
Selain masalah tata letak, Syarif menilai lesunya pasar juga dipengaruhi oleh transisi sistem pembayaran. Digitalisasi pasar yang mendorong penggunaan uang elektronik diyakini masih menjadi kendala bagi sebagian masyarakat yang terbiasa menggunakan uang tunai.
Meski mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Samarinda yang telah mendirikan bangunan pasar modern tersebut, Syarif menekankan perlunya strategi taktis jangka pendek agar pasar tidak mati suri. Pengelola dituntut untuk lebih kreatif menciptakan daya tarik pasar.
Solusi pertama yang ditawarkan adalah kejelasan informasi. Syarif menyarankan pemasangan papan direktori di setiap titik awal masuk lantai.
"Masyarakat butuh petunjuk jelas. Lantai 1 jual apa, lantai 2 jual apa, sehingga mereka tidak pusing keliling membuang waktu mencari barang," tegasnya.
Solusi kedua adalah perlunya menghidupkan ekosistem ekonomi melalui gelaran UMKM Expo, bazar, atau pasar murah di dalam area Pasar Pagi.
Namun, terobosan paling potensial yang ditekankan Syarif adalah pemanfaatan ruang terbuka di lantai paling atas (rooftop) sebagai public space atau kafe kekinian yang portabel.
Dengan area yang luas dan pemandangan Kota Samarinda dari ketinggian, terutama saat sunset menjelang magrib, area ini diyakini bisa menjadi magnet kuat bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
"Masyarakat sekarang butuh public space untuk bersantai sepulang kerja. Kafe di atas sana sangat menjual. Dampaknya (multiplier effect), saat anak muda ini berjalan naik ke atas, mereka akan melihat barang-barang di lantai bawah. Ini akan menjadi cerita dan strategi marketing dari mulut ke mulut," urainya.
(Sf/Lo)