Cari disini...
Seputar Kaltim
Syam Saimun, Asisten II Pemkot Samarinda Saat Ditemui Usai Rapat di Balai Kota, Kamis (18/1/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda - Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, memastikan bahwa rencana pembangunan dermaga di kawasan Masjid Shiratal Mustaqiem, di Samarinda Seberang, tak akan menggangu eksistensi budaya maupun tradisi setempat.
Hal ini, disampaikan Asisten II Sekretariat Kota Samarinda Syam Saimun, menyusul adanya penolakan terkait rencana pengembangan objek wisata di kawasan Masjid Shiratal Mustaqiem Samarinda.
Sam Syaimun mengatakan, masjid yang masuk kategori cagar budaya itu adalah aset yang perlu diperhatikan.
Sam mengaku telah mengetahui penolakan warga, dari media sosial dan berita yang dibaca. "Sebagian besar warga melakukan penolakan, namun kami tetap lakukan langkah persuasif dan komunikasi intensif," ucap Sam, ditemui usai rapat di Balaikota, Kamis (18/1/2024).
Rencananya, pemerintah akan membangun dermaga yang terhubung langsung dengan Masjid Shiratal Mustaqiem. Sam mengatakan tidak ingin sampai timbul hal semacam ketegangan sosial karena rencana pengembangan pembangunan dermaga.
"Jangan diartikan kehadiran pemerintah untuk membangun dermaga menggusur nilai- nilai historis, dan tradisional atau entitas lokal yang ada di kawasan tersebut," jelasnya.
Ia menjelaskan kehadiran pemerintah tentunya adalah untuk lebih menyikapi potensi tersembunyi di kawasan samarinda seberang. Selain itu juga untuk menata kawasan tersebut, sejalan dengan misinya sebagai kota peradaban.
"Tentu tidak akan meninggalkan nilai-nilai historis dan tradisional maupun unsur-unsur yang ada di kawasan tersebut. Jadi kita banyak diskusi terkait dengan pembangunan pembangunan, tidak ujug-ujug main gusur," terangnya.
Sam menilai, Masjid Shiratal Mustaqiem merupakan aset budaya yang sangat tinggi nilai historisnya yang perlu dijaga bersama. Ia ingin menunjukan kepada masyarakat luas bahwa Samarinda memiliki masjid yang sarat akan sejarah.
"Secara historis masjid itu dibangun kerajaan Kutai Kartanegara. Pada saat itu Sultan Sulaiman sendiri yang menggagas pembangunan dan beliau sendiri yang menjadi imamnya," tutur Sam.
Ia mengungkapkan rasa khawatirnya terhadap bangunan masjid yang terbuat seratus persen dari kayu itu, yang rentan dengan kebakaran dan sambaran petir.
Terakhir, ia mengungkap tidak ada langkah khusus selain dari pendekatan sosialisasi yang akan dilakukan. Mereka akan mengusahakan semuanya berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku, sebagaimana mestinya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Syam Saimun, Asisten II Pemkot Samarinda Saat Ditemui Usai Rapat di Balai Kota, Kamis (18/1/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda - Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, memastikan bahwa rencana pembangunan dermaga di kawasan Masjid Shiratal Mustaqiem, di Samarinda Seberang, tak akan menggangu eksistensi budaya maupun tradisi setempat.
Hal ini, disampaikan Asisten II Sekretariat Kota Samarinda Syam Saimun, menyusul adanya penolakan terkait rencana pengembangan objek wisata di kawasan Masjid Shiratal Mustaqiem Samarinda.
Sam Syaimun mengatakan, masjid yang masuk kategori cagar budaya itu adalah aset yang perlu diperhatikan.
Sam mengaku telah mengetahui penolakan warga, dari media sosial dan berita yang dibaca. "Sebagian besar warga melakukan penolakan, namun kami tetap lakukan langkah persuasif dan komunikasi intensif," ucap Sam, ditemui usai rapat di Balaikota, Kamis (18/1/2024).
Rencananya, pemerintah akan membangun dermaga yang terhubung langsung dengan Masjid Shiratal Mustaqiem. Sam mengatakan tidak ingin sampai timbul hal semacam ketegangan sosial karena rencana pengembangan pembangunan dermaga.
"Jangan diartikan kehadiran pemerintah untuk membangun dermaga menggusur nilai- nilai historis, dan tradisional atau entitas lokal yang ada di kawasan tersebut," jelasnya.
Ia menjelaskan kehadiran pemerintah tentunya adalah untuk lebih menyikapi potensi tersembunyi di kawasan samarinda seberang. Selain itu juga untuk menata kawasan tersebut, sejalan dengan misinya sebagai kota peradaban.
"Tentu tidak akan meninggalkan nilai-nilai historis dan tradisional maupun unsur-unsur yang ada di kawasan tersebut. Jadi kita banyak diskusi terkait dengan pembangunan pembangunan, tidak ujug-ujug main gusur," terangnya.
Sam menilai, Masjid Shiratal Mustaqiem merupakan aset budaya yang sangat tinggi nilai historisnya yang perlu dijaga bersama. Ia ingin menunjukan kepada masyarakat luas bahwa Samarinda memiliki masjid yang sarat akan sejarah.
"Secara historis masjid itu dibangun kerajaan Kutai Kartanegara. Pada saat itu Sultan Sulaiman sendiri yang menggagas pembangunan dan beliau sendiri yang menjadi imamnya," tutur Sam.
Ia mengungkapkan rasa khawatirnya terhadap bangunan masjid yang terbuat seratus persen dari kayu itu, yang rentan dengan kebakaran dan sambaran petir.
Terakhir, ia mengungkap tidak ada langkah khusus selain dari pendekatan sosialisasi yang akan dilakukan. Mereka akan mengusahakan semuanya berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku, sebagaimana mestinya.
(Sf/Rs)