Cari disini...
Seputar Kaltim
Pengerjaan perbaikan saluran air di Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran. (Foto: Dokumentasi BPBD Samarinda/Seputarfakta.com)
Samarinda - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, mengungkapkan ada empat titik rawan banjir di Kecamatan Palaran Samarinda yakni berada di daerah Jalan Ampera khususnya area permukiman baru RT 45, Jalan Kopi, Jalan Parikesit, dan Jalan Melanti.
Suwarso menerangkan bahwa banjir yang melanda wilayah Palaran pada tanggal 3 Mei lalu telah merendam sekitar 40 bangunan yang terbagi di dua kelurahan, yakni Kelurahan Rawa Makmur dan Bukuan. Dalam jumlah tersebut termasuk satu masjid dan satu sekolah, yaitu SD N 011 dan SMP N 20 Palaran.
Suwarso menjelaskan bahwa rendaman yang cukup lama terjadi terutama di daerah Bukuan, disebabkan oleh gulma dan sedimentasi. Selain itu, di sungai sekitar Sungai Nahkoda, terjadi penyempitan yang signifikan, sekitar 350 meter di sepanjang Sungai Mahakam, menyebabkan air surut dengan lambat.
Menghadapi situasi tersebut, pihak terkait, termasuk Dinas PUPR provinsi dan kota, kemudain Balai Wilayah Sungai (BWS), serta BPBD, bersama-sama dengan lurah dan camat setempat telah melakukan pengecekan penyebab banjir.
Hasilnya menunjukkan bahwa banjir disebabkan oleh gulma, sedimentasi, penyempitan, dan bahkan adanya pematangan lahan di Rawa Makmur, yang menyebabkan aliran air hujan menuju saluran drainase, membanjiri rumah warga dan sekolah.
“Beberapa hari setelah kejadian itu kita membagi bagian kerja. PUPR kota telah memulai pekerjaan penanganan di Jalan Peti Kemas sepanjang 1,2 kilometer sejak hari Sabtu lalu. Sedangkan pekerjaan di Sungai Nahkoda yang menjadi penyebab rendaman selama tiga hari akan ditangani oleh pihak provinsi, dengan peralatan yang telah tersedia di Palaran,” jelas Suwarso, Senin (13/5/2024).
Selain upaya dari pemerintah, bantuan swadaya dari masyarakat juga turut dilibatkan. Misalnya, di Jalan Kopi sepanjang 1 kilometer, pekerjaannya dilakukan oleh masyarakat, dengan fokus pada akses menuju SMP N 20. Hari Senin (13/5/2024), pekerjaan dilakukan di Jalan Imigrasi yang mengalami pematangan lahan, serta akan dilanjutkan ke Jalan Melanti di Rawa Makmur yang juga terdampak banjir.
Adapun penanganan dampak sosial dari banjir di Jalan Parikesit yang berdampak hingga ke Pelabuhan Lama masih dalam pendekatan. Hal ini juga akan ditangani oleh pihak provinsi. Upaya-upaya ini dianggap efektif dalam menanggulangi banjir karena telah teridentifikasi bahwa penyebab utamanya adalah penyempitan penampang pada sungai yang disebut sebagai "bottle neck".
Suwarso menyatakan bahwa target penyelesaian pekerjaan di Jalan Peti Kemas dalam waktu empat hari, sementara di Rawa Makmur, diharapkan selesai dalam waktu sebulan, mengingat curah hujan yang masih tinggi. Dia juga menekankan pentingnya kesiapan menghadapi perubahan cuaca yang mungkin terjadi, mengingat anomali iklim yang telah terjadi sebelumnya.
“Mudah-mudahan dalam waktu paling lambat sebulan pengerjaan sudah selesai. Dan kami ada menurunkan sekitar lima alat excavator, salah satunya dari swadaya juga,” pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Pengerjaan perbaikan saluran air di Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran. (Foto: Dokumentasi BPBD Samarinda/Seputarfakta.com)
Samarinda - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, mengungkapkan ada empat titik rawan banjir di Kecamatan Palaran Samarinda yakni berada di daerah Jalan Ampera khususnya area permukiman baru RT 45, Jalan Kopi, Jalan Parikesit, dan Jalan Melanti.
Suwarso menerangkan bahwa banjir yang melanda wilayah Palaran pada tanggal 3 Mei lalu telah merendam sekitar 40 bangunan yang terbagi di dua kelurahan, yakni Kelurahan Rawa Makmur dan Bukuan. Dalam jumlah tersebut termasuk satu masjid dan satu sekolah, yaitu SD N 011 dan SMP N 20 Palaran.
Suwarso menjelaskan bahwa rendaman yang cukup lama terjadi terutama di daerah Bukuan, disebabkan oleh gulma dan sedimentasi. Selain itu, di sungai sekitar Sungai Nahkoda, terjadi penyempitan yang signifikan, sekitar 350 meter di sepanjang Sungai Mahakam, menyebabkan air surut dengan lambat.
Menghadapi situasi tersebut, pihak terkait, termasuk Dinas PUPR provinsi dan kota, kemudain Balai Wilayah Sungai (BWS), serta BPBD, bersama-sama dengan lurah dan camat setempat telah melakukan pengecekan penyebab banjir.
Hasilnya menunjukkan bahwa banjir disebabkan oleh gulma, sedimentasi, penyempitan, dan bahkan adanya pematangan lahan di Rawa Makmur, yang menyebabkan aliran air hujan menuju saluran drainase, membanjiri rumah warga dan sekolah.
“Beberapa hari setelah kejadian itu kita membagi bagian kerja. PUPR kota telah memulai pekerjaan penanganan di Jalan Peti Kemas sepanjang 1,2 kilometer sejak hari Sabtu lalu. Sedangkan pekerjaan di Sungai Nahkoda yang menjadi penyebab rendaman selama tiga hari akan ditangani oleh pihak provinsi, dengan peralatan yang telah tersedia di Palaran,” jelas Suwarso, Senin (13/5/2024).
Selain upaya dari pemerintah, bantuan swadaya dari masyarakat juga turut dilibatkan. Misalnya, di Jalan Kopi sepanjang 1 kilometer, pekerjaannya dilakukan oleh masyarakat, dengan fokus pada akses menuju SMP N 20. Hari Senin (13/5/2024), pekerjaan dilakukan di Jalan Imigrasi yang mengalami pematangan lahan, serta akan dilanjutkan ke Jalan Melanti di Rawa Makmur yang juga terdampak banjir.
Adapun penanganan dampak sosial dari banjir di Jalan Parikesit yang berdampak hingga ke Pelabuhan Lama masih dalam pendekatan. Hal ini juga akan ditangani oleh pihak provinsi. Upaya-upaya ini dianggap efektif dalam menanggulangi banjir karena telah teridentifikasi bahwa penyebab utamanya adalah penyempitan penampang pada sungai yang disebut sebagai "bottle neck".
Suwarso menyatakan bahwa target penyelesaian pekerjaan di Jalan Peti Kemas dalam waktu empat hari, sementara di Rawa Makmur, diharapkan selesai dalam waktu sebulan, mengingat curah hujan yang masih tinggi. Dia juga menekankan pentingnya kesiapan menghadapi perubahan cuaca yang mungkin terjadi, mengingat anomali iklim yang telah terjadi sebelumnya.
“Mudah-mudahan dalam waktu paling lambat sebulan pengerjaan sudah selesai. Dan kami ada menurunkan sekitar lima alat excavator, salah satunya dari swadaya juga,” pungkasnya.
(Sf/Rs)