Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Pemerintah Kota Bontang mengklaim angka stunting di wilayahnya mengalami penurunan signifikan dalam setahun terakhir.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam Rapat Paripurna ke-2 Masa Persidangan III DPRD Kota Bontang 2026, prevalensi stunting turun dari sekitar 25 persen pada 2024 menjadi 17 persen pada 2025.
Penurunan sebesar delapan poin tersebut disebut sebagai hasil dari berbagai intervensi yang dilakukan pemerintah bersama sejumlah pihak terkait.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengatakan penanganan stunting terus dilakukan melalui pendekatan kolaboratif dan program yang lebih terarah.
“Dengan adanya intervensi yang kita lakukan untuk stunting, kita sudah mengalami penurunan yang cukup signifikan,” ujar Neni dalam paparan data tersebut.
Meski demikian, pemerintah menilai tantangan penanganan stunting di Bontang masih cukup besar. Sejumlah wilayah masih mencatat angka kasus yang tinggi.
Kelurahan Tanjung Laut menjadi wilayah dengan jumlah kasus stunting terbanyak, yakni mencapai 147 anak. Disusul Tanjung Laut Indah sebanyak 146 anak dan Bontang Lestari dengan 124 anak.
Selain itu, Berbas Tengah mencatat 117 kasus, Belimbing 93 kasus dan Guntung sebanyak 83 kasus. Sementara jumlah terendah berada di Kelurahan Kanaan dengan 21 anak.
Dalam upaya percepatan penurunan stunting, Pemkot Bontang menetapkan tiga fokus utama penanganan. Pertama, memperkuat kolaborasi antar-OPD, tenaga kesehatan, dunia usaha, komunitas dan masyarakat.
Kedua, melakukan intervensi tepat sasaran bagi kelompok berisiko sejak masa kehamilan hingga 1.000 hari pertama kehidupan anak. Ketiga, memperkuat monitoring dan evaluasi data agar program penanganan berjalan lebih efektif.
Neni menegaskan persoalan stunting tidak bisa ditangani pemerintah sendiri. Menurutnya, keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan angka stunting di Kota Bontang.
“Tidak bisa hanya berharap pada pemerintah. Semua pihak harus bergerak bersama. Ini soal masa depan anak-anak kita,” katanya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Pemerintah Kota Bontang mengklaim angka stunting di wilayahnya mengalami penurunan signifikan dalam setahun terakhir.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam Rapat Paripurna ke-2 Masa Persidangan III DPRD Kota Bontang 2026, prevalensi stunting turun dari sekitar 25 persen pada 2024 menjadi 17 persen pada 2025.
Penurunan sebesar delapan poin tersebut disebut sebagai hasil dari berbagai intervensi yang dilakukan pemerintah bersama sejumlah pihak terkait.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengatakan penanganan stunting terus dilakukan melalui pendekatan kolaboratif dan program yang lebih terarah.
“Dengan adanya intervensi yang kita lakukan untuk stunting, kita sudah mengalami penurunan yang cukup signifikan,” ujar Neni dalam paparan data tersebut.
Meski demikian, pemerintah menilai tantangan penanganan stunting di Bontang masih cukup besar. Sejumlah wilayah masih mencatat angka kasus yang tinggi.
Kelurahan Tanjung Laut menjadi wilayah dengan jumlah kasus stunting terbanyak, yakni mencapai 147 anak. Disusul Tanjung Laut Indah sebanyak 146 anak dan Bontang Lestari dengan 124 anak.
Selain itu, Berbas Tengah mencatat 117 kasus, Belimbing 93 kasus dan Guntung sebanyak 83 kasus. Sementara jumlah terendah berada di Kelurahan Kanaan dengan 21 anak.
Dalam upaya percepatan penurunan stunting, Pemkot Bontang menetapkan tiga fokus utama penanganan. Pertama, memperkuat kolaborasi antar-OPD, tenaga kesehatan, dunia usaha, komunitas dan masyarakat.
Kedua, melakukan intervensi tepat sasaran bagi kelompok berisiko sejak masa kehamilan hingga 1.000 hari pertama kehidupan anak. Ketiga, memperkuat monitoring dan evaluasi data agar program penanganan berjalan lebih efektif.
Neni menegaskan persoalan stunting tidak bisa ditangani pemerintah sendiri. Menurutnya, keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan angka stunting di Kota Bontang.
“Tidak bisa hanya berharap pada pemerintah. Semua pihak harus bergerak bersama. Ini soal masa depan anak-anak kita,” katanya.
(Sf/Lo)