Seputar Kaltim

    Pemkab Kutim Bersama ITS Kaji Studi Kelayakan Rumah Produksi di Kawasan Transmigrasi

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    16 Oktober 2025 pukul 08:33 WITA

    Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, bersama tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) saat diskusi kajian studi kelayakan pembangunan rumah produksi di kawasan transmigrasi Maloy-Kaliorang. (foto:lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tengah melakukan kajian rencana pembangunan rumah produksi unggulan di kawasan transmigrasi Maloy-Kaliorang.

    Kajian ini merupakan bagian dari kegiatan penyusunan dokumen rencana teknis pengembangan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat transmigrasi, sekaligus studi kelayakan sarana dan prasarana produksi, yang dilakukan di wilayah transmigrasi Kutim.

    Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS, Fadlilatul Taufany, menjelaskan bahwa kegiatan ini terdiri dari beberapa tahap. Tahap awal adalah penyusunan rencana teknis dan studi kelayakan yang fokus pada pengembangan sentra ketahanan pangan.

    “Kami akan mendetailkan produk unggulan, khususnya di sektor ketahanan pangan. Apakah produk-produk itu layak (visible) dikembangkan lebih lanjut atau tidak,” ujar Fadlilatul dalam forum diskusi yang digelar di Sangatta, Rabu (15/10/2025).

    Menurutnya, jika hasil studi menyatakan layak, maka akan dilanjutkan ke tahap perencanaan teknis detail (detail engineering design) dan pembangunan fisik rumah produksi.

    Fadlilatul mengungkapkan, berdasarkan observasi awal, terdapat beberapa komoditas potensial di kawasan transmigrasi Kutim. Di antaranya pisang dan padi untuk ketahanan pangan, serta sawit untuk sektor perkebunan. Ia juga menyinggung adanya potensi lain yang bisa dikembangkan dalam skala masyarakat.

    Sementara itu, Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, menegaskan bahwa daerah saat ini masih kekurangan kajian mendalam sebagai dasar dalam mengambil kebijakan pembangunan berbasis potensi lokal.

    “Kita belum punya kajian yang maksimal. Kajian-kajian ini penting untuk menyusun kebijakan yang tepat, terutama di kawasan transmigrasi,” ucap Mahyunadi.

    Ia berharap rumah produksi ini bisa menjadi tempat pengolahan bahan baku lokal menjadi produk bernilai tambah, seperti minyak goreng skala kecil, kemasan produk, tepung tapioka, gula aren, dan produk-produk UMKM lainnya.

    "Rumah produksi ini bukan seperti pabrik besar, tapi rumah produksi yang bisa memberdayakan masyarakat. Skala kecil, tapi berdampak besar,” pungkasnya.

    Melalui kolaborasi antara Pemkab Kutim, ITS, dan Kementerian Transmigrasi, diharapkan kajian ini melahirkan strategi pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Pemkab Kutim Bersama ITS Kaji Studi Kelayakan Rumah Produksi di Kawasan Transmigrasi

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    16 Oktober 2025 pukul 08:33 WITA

    Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, bersama tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) saat diskusi kajian studi kelayakan pembangunan rumah produksi di kawasan transmigrasi Maloy-Kaliorang. (foto:lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tengah melakukan kajian rencana pembangunan rumah produksi unggulan di kawasan transmigrasi Maloy-Kaliorang.

    Kajian ini merupakan bagian dari kegiatan penyusunan dokumen rencana teknis pengembangan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat transmigrasi, sekaligus studi kelayakan sarana dan prasarana produksi, yang dilakukan di wilayah transmigrasi Kutim.

    Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS, Fadlilatul Taufany, menjelaskan bahwa kegiatan ini terdiri dari beberapa tahap. Tahap awal adalah penyusunan rencana teknis dan studi kelayakan yang fokus pada pengembangan sentra ketahanan pangan.

    “Kami akan mendetailkan produk unggulan, khususnya di sektor ketahanan pangan. Apakah produk-produk itu layak (visible) dikembangkan lebih lanjut atau tidak,” ujar Fadlilatul dalam forum diskusi yang digelar di Sangatta, Rabu (15/10/2025).

    Menurutnya, jika hasil studi menyatakan layak, maka akan dilanjutkan ke tahap perencanaan teknis detail (detail engineering design) dan pembangunan fisik rumah produksi.

    Fadlilatul mengungkapkan, berdasarkan observasi awal, terdapat beberapa komoditas potensial di kawasan transmigrasi Kutim. Di antaranya pisang dan padi untuk ketahanan pangan, serta sawit untuk sektor perkebunan. Ia juga menyinggung adanya potensi lain yang bisa dikembangkan dalam skala masyarakat.

    Sementara itu, Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, menegaskan bahwa daerah saat ini masih kekurangan kajian mendalam sebagai dasar dalam mengambil kebijakan pembangunan berbasis potensi lokal.

    “Kita belum punya kajian yang maksimal. Kajian-kajian ini penting untuk menyusun kebijakan yang tepat, terutama di kawasan transmigrasi,” ucap Mahyunadi.

    Ia berharap rumah produksi ini bisa menjadi tempat pengolahan bahan baku lokal menjadi produk bernilai tambah, seperti minyak goreng skala kecil, kemasan produk, tepung tapioka, gula aren, dan produk-produk UMKM lainnya.

    "Rumah produksi ini bukan seperti pabrik besar, tapi rumah produksi yang bisa memberdayakan masyarakat. Skala kecil, tapi berdampak besar,” pungkasnya.

    Melalui kolaborasi antara Pemkab Kutim, ITS, dan Kementerian Transmigrasi, diharapkan kajian ini melahirkan strategi pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.

    (Sf/Rs)