Seputar Kaltim

    Pemkab Kukar Targetkan Angka Stunting Turun ke 14 Persen

    Penulis:Muhammad Anshori|Redaktur:Buniyamin
    03 Januari 2024 pukul 19:28 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Martina Yulianti. (Foto:M.anshori/seputarfakta.com).

    Tenggarong - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) menargetkan akan menurunkan angka stunting ke 14 persen di 2024 ini.

    Ini diungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Martina Yulianti mengatakan untuk mengejar target tersebut, Dinkes akan melakukan kembali intervensi dengan pendekatan gizi spesifik yang lebih gencar lagi.

    Kata dia, dengan pendekatan itu diharapkan penurunan stunting bisa terjadi. Pendekatan spesifik juga dilakukan untuk melihat faktor risiko kemungkinan stunting di kemudian hari.

    “Ini berkaitan dengan evaluasi dan masalah gizi pada sasaran intervensi yang diberikan kepada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, bayi, anak, remaja putri, ibu hamil dan ibu melahirkan,” ungkap, Rabu (3/1/2023).

    Melalui  kerja sama lintas sektor dan menyasar pada kelompok umum, maka target stunting di Kukar bisa segera tercapai.

    “Intervensi spesifik ini meliputi sebelum lahir dan setelah lahir. Seperti pada remaja putri, ibu hamil, Balita,” ungkapnya.

    Ia menyebutkan ada 11 program Intervensi spesifik, yakni sebelum lahir meliputi remaja putri konsumsi tablet tambah darah, skrining anemia pada siswa, Pemeriksaan kehamilan (ANC), ibu hamil mengonsumsi tablet tambah darah selama kehamilannya dan ibu hamil KEK mendapat tambahan asupan gizi protein hewani.

    Sementara, Intervensi setelah lahir dilakukan dengan kegiatan, ASI Eksklusif minimal enam bulan, pemberian MPASI kaya protein hewani pada usia enam sampai 23 bulan, balita dipantau pertumbuhan dan perkembangannya.

    “Diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat mendeteksi masalah gizi yang terjadi, bisa dilakukan intervensi lebih awal dan dirujuk sehingga dapat mencegah stunting dan munculnya gizi buruk,” pungkasnya.

    Berdasarkan data yang dimiliki Dinkes, selama 2023, kasus stunting yang sebelumnya mencapai 1.625 turun di angka 948, gizi buruk tidak stunting 117 menjadi 22, gizi kurang tidak stunting 458 menjadi 117, berat badan kurang tidak stunting dari 244 menjadi 125 dengan catatan membaik secara keseluruhan 1.042.

    (Sf/By)

    Seputar Kaltim

    Pemkab Kukar Targetkan Angka Stunting Turun ke 14 Persen

    Penulis:Muhammad Anshori|Redaktur:Buniyamin
    03 Januari 2024 pukul 19:28 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Martina Yulianti. (Foto:M.anshori/seputarfakta.com).

    Tenggarong - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) menargetkan akan menurunkan angka stunting ke 14 persen di 2024 ini.

    Ini diungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Martina Yulianti mengatakan untuk mengejar target tersebut, Dinkes akan melakukan kembali intervensi dengan pendekatan gizi spesifik yang lebih gencar lagi.

    Kata dia, dengan pendekatan itu diharapkan penurunan stunting bisa terjadi. Pendekatan spesifik juga dilakukan untuk melihat faktor risiko kemungkinan stunting di kemudian hari.

    “Ini berkaitan dengan evaluasi dan masalah gizi pada sasaran intervensi yang diberikan kepada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, bayi, anak, remaja putri, ibu hamil dan ibu melahirkan,” ungkap, Rabu (3/1/2023).

    Melalui  kerja sama lintas sektor dan menyasar pada kelompok umum, maka target stunting di Kukar bisa segera tercapai.

    “Intervensi spesifik ini meliputi sebelum lahir dan setelah lahir. Seperti pada remaja putri, ibu hamil, Balita,” ungkapnya.

    Ia menyebutkan ada 11 program Intervensi spesifik, yakni sebelum lahir meliputi remaja putri konsumsi tablet tambah darah, skrining anemia pada siswa, Pemeriksaan kehamilan (ANC), ibu hamil mengonsumsi tablet tambah darah selama kehamilannya dan ibu hamil KEK mendapat tambahan asupan gizi protein hewani.

    Sementara, Intervensi setelah lahir dilakukan dengan kegiatan, ASI Eksklusif minimal enam bulan, pemberian MPASI kaya protein hewani pada usia enam sampai 23 bulan, balita dipantau pertumbuhan dan perkembangannya.

    “Diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat mendeteksi masalah gizi yang terjadi, bisa dilakukan intervensi lebih awal dan dirujuk sehingga dapat mencegah stunting dan munculnya gizi buruk,” pungkasnya.

    Berdasarkan data yang dimiliki Dinkes, selama 2023, kasus stunting yang sebelumnya mencapai 1.625 turun di angka 948, gizi buruk tidak stunting 117 menjadi 22, gizi kurang tidak stunting 458 menjadi 117, berat badan kurang tidak stunting dari 244 menjadi 125 dengan catatan membaik secara keseluruhan 1.042.

    (Sf/By)