Seputar Kaltim

    Pemdes Labangka Barat Berhasil Terapkan Budidaya Multispesies, Manfaatkan Mangrove sebagai Pakan

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Buniyamin
    21 Desember 2024 pukul 18:42 WITA

    Pj Gubernur Kaltim saat memperlihatkan hasil budidaya multispesies di Desa Labangka Barat, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara (PPU).(Istimewa )

    Penajam – Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Akmal Malik melakukan panen perdana terhadap empat komoditi, yaitu Udang Tiger, Kepiting, Ikan Bandeng dan Rumput Laut Gracilaria di Desa Labangka Barat, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara (PPU), Sabtu (21/12/2024). 

    Keempat komoditi tersebut dipanen setelah tiga bulan dilakukan pembibitan. Proses panen ini terbilang cukup cepat karena pemilihan tempat untuk budidaya multispesies sangat ramah lingkungan, yaitu dengan memanfaatkan lahan yang ditumbuhi tanaman mangrove. 

    Bahkan bentuk tambak yang digunakan untuk budidaya multispesies ini sangat berbeda dengan tambak pada umumnya. Biasanya tambak berbentuk kotak persegi atau lingkaran, tapi tambak pada budidaya multispesies ini mengular mengelilingi pohon mangrove.

    “Empat komoditi itu dibudidaya pada tempat yang sama dengan memanfaatkan Rumput Laut Gracilaria dan sebagai pakan untuk Udang Tiger, Kepiting dan Ikan Bandeng di lahan seluas empat Hektare (Ha),” ucap Akmal.

    Dengan metode seperti ini, pembudidaya hewan air tawar di lokasi tersebut tidak perlu lagi memikirkan ongkos pakan untuk hewan di tambaknya, karena memanfaatkan ekosistem di sekitar. 

    “Meski dibudidaya di kawasan mangrove, tapi komoditi itu tidak merusak ekosistem perairan dan lingkungan di mangrove. Ini serupa dengan pola kehutanan sosial yang dianhurkan Kementerian Kehutanan,” ungkapnya.

    Akmal mengaku keempat komoditi yang baru saja dipanen itu memiliki nilai jual tinggi di pasaran dan berharap metode budidaya multispesies ini bisa menjadi percontohan untuk wilayah di sekitarnya.

    Apalagi, kata dia, masih ada sekitar 200 Ha lahan yang memiliki potensi yang sama untuk penerapan budidaya multispesies dengan memanfaatkan tanaman mangrove sebagai pakan.

    Ia meminta pemerintah daerah untuk bisa mengoptimalkan lalan-lahan seluas ratusan Ha itu. Ini bertujuan agar hewan air tidak lagi diimpor dari luar daerah. “Udang, Ikan Bandeng dan Kepiting tidak lagi didatangkan dari Sulawesi karena kita telah memproduksi sendiri,” tandasnya.

    (Sf/By)

    Seputar Kaltim

    Pemdes Labangka Barat Berhasil Terapkan Budidaya Multispesies, Manfaatkan Mangrove sebagai Pakan

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Buniyamin
    21 Desember 2024 pukul 18:42 WITA

    Pj Gubernur Kaltim saat memperlihatkan hasil budidaya multispesies di Desa Labangka Barat, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara (PPU).(Istimewa )

    Penajam – Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Akmal Malik melakukan panen perdana terhadap empat komoditi, yaitu Udang Tiger, Kepiting, Ikan Bandeng dan Rumput Laut Gracilaria di Desa Labangka Barat, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara (PPU), Sabtu (21/12/2024). 

    Keempat komoditi tersebut dipanen setelah tiga bulan dilakukan pembibitan. Proses panen ini terbilang cukup cepat karena pemilihan tempat untuk budidaya multispesies sangat ramah lingkungan, yaitu dengan memanfaatkan lahan yang ditumbuhi tanaman mangrove. 

    Bahkan bentuk tambak yang digunakan untuk budidaya multispesies ini sangat berbeda dengan tambak pada umumnya. Biasanya tambak berbentuk kotak persegi atau lingkaran, tapi tambak pada budidaya multispesies ini mengular mengelilingi pohon mangrove.

    “Empat komoditi itu dibudidaya pada tempat yang sama dengan memanfaatkan Rumput Laut Gracilaria dan sebagai pakan untuk Udang Tiger, Kepiting dan Ikan Bandeng di lahan seluas empat Hektare (Ha),” ucap Akmal.

    Dengan metode seperti ini, pembudidaya hewan air tawar di lokasi tersebut tidak perlu lagi memikirkan ongkos pakan untuk hewan di tambaknya, karena memanfaatkan ekosistem di sekitar. 

    “Meski dibudidaya di kawasan mangrove, tapi komoditi itu tidak merusak ekosistem perairan dan lingkungan di mangrove. Ini serupa dengan pola kehutanan sosial yang dianhurkan Kementerian Kehutanan,” ungkapnya.

    Akmal mengaku keempat komoditi yang baru saja dipanen itu memiliki nilai jual tinggi di pasaran dan berharap metode budidaya multispesies ini bisa menjadi percontohan untuk wilayah di sekitarnya.

    Apalagi, kata dia, masih ada sekitar 200 Ha lahan yang memiliki potensi yang sama untuk penerapan budidaya multispesies dengan memanfaatkan tanaman mangrove sebagai pakan.

    Ia meminta pemerintah daerah untuk bisa mengoptimalkan lalan-lahan seluas ratusan Ha itu. Ini bertujuan agar hewan air tidak lagi diimpor dari luar daerah. “Udang, Ikan Bandeng dan Kepiting tidak lagi didatangkan dari Sulawesi karena kita telah memproduksi sendiri,” tandasnya.

    (Sf/By)