Seputar Kaltim

    Pemantauan Inflasi Jelang Nataru, BPS Berau Dorong Pengawasan Harga Lebih Ketat

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    16 Desember 2025 pukul 16:19 WITA

    Pasar pagi Adji Dilayas Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Berau menekankan pentingnya pengawasan harga menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, karena penyebab inflasi Desember 2025 masih dalam proses pemantauan dan belum dapat dipastikan. Sehingga, kondisi ini pun mendorong BPS meminta pengendalian inflasi diperketat.

    Kepala BPS Kabupaten Berau, Yudi Wahyudin, menjelaskan bahwa meski inflasi tahun 2025 relatif lebih stabil dibandingkan 2024, beberapa faktor seperti liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) dan cuaca yang kurang mendukung berpotensi mendorong kenaikan harga, terutama pada komoditas pangan dan perikanan.

    "Untuk Desember 2025, kami masih melakukan pendataan. Belum bisa dipastikan komoditas mana yang paling banyak memengaruhi inflasi. Oleh karena itu, pengendalian harga harus diperketat agar inflasi tetap terkendali," ujar Yudi.

    Hingga November 2025, inflasi year-on-year (y-on-y) tercatat sebesar 2,76 persen. Inflasi month-to-month (m-to-m) sempat naik pada Oktober yakni 0,53 persen dan November 0,74 persen karena liburan dan cuaca buruk yang memengaruhi distribusi komoditas pangan seperti minyak goreng, beras, termasuk emas perhiasan, ikan layang dan udang basah.

    "Peningkatan di Oktober-November ini ada efek liburan, termasuk persiapan Natal dan Tahun Baru, serta faktor cuaca yang memengaruhi pasokan, terutama komoditas perikanan," terangnya.

    Oleh karena itu, untuk Desember 2025, khususnya menjelang Nataru, BPS belum dapat memastikan komoditas mana yang paling dominan menyumbang inflasi sebab proses pendataan masih berjalan.

    Sebagai gambaran, pada Desember 2024, komoditas penyumbang inflasi antara lain ikan layang, beras, kopi bubuk, udang basah, sayuran, rokok kretek, dan bahan bakar rumah tangga. 

    "Meski begitu, kondisi ini tidak otomatis sama dengan Desember 2025," ujarnya.

    Sehingganya, untuk menghadapi potensi kenaikan harga BPS mendorong pengendalian inflasi melalui pengawasan harga secara berkelanjutan, operasi pasar, penguatan produksi lokal, serta dukungan pemerintah daerah terhadap sektor perikanan dan pangan. 

    Yudi menekankan bahwa langkah ini penting untuk menjaga stabilitas harga selama Nataru dan mencegah inflasi melampaui target nasional Bank Indonesia (BI).

    "Kita berharap dengan pengawasan yang lebih ketat, harga tetap stabil, dan inflasi dapat dikendalikan meski ada tekanan menjelang Natal dan Tahun Baru," pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Pemantauan Inflasi Jelang Nataru, BPS Berau Dorong Pengawasan Harga Lebih Ketat

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    16 Desember 2025 pukul 16:19 WITA

    Pasar pagi Adji Dilayas Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Berau menekankan pentingnya pengawasan harga menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, karena penyebab inflasi Desember 2025 masih dalam proses pemantauan dan belum dapat dipastikan. Sehingga, kondisi ini pun mendorong BPS meminta pengendalian inflasi diperketat.

    Kepala BPS Kabupaten Berau, Yudi Wahyudin, menjelaskan bahwa meski inflasi tahun 2025 relatif lebih stabil dibandingkan 2024, beberapa faktor seperti liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) dan cuaca yang kurang mendukung berpotensi mendorong kenaikan harga, terutama pada komoditas pangan dan perikanan.

    "Untuk Desember 2025, kami masih melakukan pendataan. Belum bisa dipastikan komoditas mana yang paling banyak memengaruhi inflasi. Oleh karena itu, pengendalian harga harus diperketat agar inflasi tetap terkendali," ujar Yudi.

    Hingga November 2025, inflasi year-on-year (y-on-y) tercatat sebesar 2,76 persen. Inflasi month-to-month (m-to-m) sempat naik pada Oktober yakni 0,53 persen dan November 0,74 persen karena liburan dan cuaca buruk yang memengaruhi distribusi komoditas pangan seperti minyak goreng, beras, termasuk emas perhiasan, ikan layang dan udang basah.

    "Peningkatan di Oktober-November ini ada efek liburan, termasuk persiapan Natal dan Tahun Baru, serta faktor cuaca yang memengaruhi pasokan, terutama komoditas perikanan," terangnya.

    Oleh karena itu, untuk Desember 2025, khususnya menjelang Nataru, BPS belum dapat memastikan komoditas mana yang paling dominan menyumbang inflasi sebab proses pendataan masih berjalan.

    Sebagai gambaran, pada Desember 2024, komoditas penyumbang inflasi antara lain ikan layang, beras, kopi bubuk, udang basah, sayuran, rokok kretek, dan bahan bakar rumah tangga. 

    "Meski begitu, kondisi ini tidak otomatis sama dengan Desember 2025," ujarnya.

    Sehingganya, untuk menghadapi potensi kenaikan harga BPS mendorong pengendalian inflasi melalui pengawasan harga secara berkelanjutan, operasi pasar, penguatan produksi lokal, serta dukungan pemerintah daerah terhadap sektor perikanan dan pangan. 

    Yudi menekankan bahwa langkah ini penting untuk menjaga stabilitas harga selama Nataru dan mencegah inflasi melampaui target nasional Bank Indonesia (BI).

    "Kita berharap dengan pengawasan yang lebih ketat, harga tetap stabil, dan inflasi dapat dikendalikan meski ada tekanan menjelang Natal dan Tahun Baru," pungkasnya.

    (Sf/Rs)