Cari disini...
Seputar Kaltim
Kondisi Pelabaran Sungai Karang Mumus di Hulu. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Hulu Sungai Karang Mumus (SKM) masih menjadi tempat hidupnya tumbuhan, ikan dan primata yang membentuk ekosistem sungai.
Namun, pelebaran yang dilakukan oleh pemerintah mendapatkan masalah bagi keberlangsungan ekosistem disana.
Koordinator lapangan Gerakan Memungut Sehelai Sampah Karang Mumus (GMSS-SKM), Bachtiar menyebut pemerintah melakukan pelebaran agar debit aliran sungai yang besar tidak menyebabkan banjir.
"Aspek tersebut ujar pemerintah sudah dikaji, namun itu menurut saya dari aspek hidrologi saja. Kalau dari aspek ekologi mungkin belum ada perhatian khusus, banyak terjadi penebangan pohon-pohon yang telah kami tanam sejak lama, bahkan pohon-pohon yang jarang terlihat dan hanya terdapat di bantaran sungai ini," kata Iyau, sapaannya.
Langkah koordinasi sudah pernah dilakukan oleh pemkot sejak lama, pihaknya pun sudah memperingatkan bahwa ada titik di mana tidak boleh untuk diperlebar.
"Untuk di daerah muang, ini masih kami lindungi karena memang titik ini laju air tidak sama dan pepohonan yang masih asri," jabarnya.
Melalui penelusuran seputarfakta.com, pelabaran sungai yang dilakukan sejak 2022 itu, tidak ada ikan yang melintas sedikit pun, karena ada pengerjaan dilakukan dengan alat berat eksavator.
"Bagaimana bisa hidup, sedangkan tidak ada tempat buat dia hidup dan makan, pepohonan di bantaran sungai juga sudah tertebang habis oleh pengurukan tanah tersebut," jawab Iyau.
Iyau prihatin dengan keadaan demikian, harapnya ada langkah konservasi yang dilakukan oleh pemerintah.
"Kami akan terus konsisten untuk membuka sekolah sungai ini, bukan hanya gerakan bersihkan sampah di sungai ini, namun pelestarian terhadap lingkungan pula kita terus lakukan," pungkasnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kondisi Pelabaran Sungai Karang Mumus di Hulu. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Hulu Sungai Karang Mumus (SKM) masih menjadi tempat hidupnya tumbuhan, ikan dan primata yang membentuk ekosistem sungai.
Namun, pelebaran yang dilakukan oleh pemerintah mendapatkan masalah bagi keberlangsungan ekosistem disana.
Koordinator lapangan Gerakan Memungut Sehelai Sampah Karang Mumus (GMSS-SKM), Bachtiar menyebut pemerintah melakukan pelebaran agar debit aliran sungai yang besar tidak menyebabkan banjir.
"Aspek tersebut ujar pemerintah sudah dikaji, namun itu menurut saya dari aspek hidrologi saja. Kalau dari aspek ekologi mungkin belum ada perhatian khusus, banyak terjadi penebangan pohon-pohon yang telah kami tanam sejak lama, bahkan pohon-pohon yang jarang terlihat dan hanya terdapat di bantaran sungai ini," kata Iyau, sapaannya.
Langkah koordinasi sudah pernah dilakukan oleh pemkot sejak lama, pihaknya pun sudah memperingatkan bahwa ada titik di mana tidak boleh untuk diperlebar.
"Untuk di daerah muang, ini masih kami lindungi karena memang titik ini laju air tidak sama dan pepohonan yang masih asri," jabarnya.
Melalui penelusuran seputarfakta.com, pelabaran sungai yang dilakukan sejak 2022 itu, tidak ada ikan yang melintas sedikit pun, karena ada pengerjaan dilakukan dengan alat berat eksavator.
"Bagaimana bisa hidup, sedangkan tidak ada tempat buat dia hidup dan makan, pepohonan di bantaran sungai juga sudah tertebang habis oleh pengurukan tanah tersebut," jawab Iyau.
Iyau prihatin dengan keadaan demikian, harapnya ada langkah konservasi yang dilakukan oleh pemerintah.
"Kami akan terus konsisten untuk membuka sekolah sungai ini, bukan hanya gerakan bersihkan sampah di sungai ini, namun pelestarian terhadap lingkungan pula kita terus lakukan," pungkasnya.
(Sf/By)