Seputar Kaltim

    Pelebaran SKM Ancam Ekosistem Ikan Endemik, Prof Esti: Sekarang Masih Ada, Nanti Akan Hilang

    Penulis:Maulana|Redaktur:Buniyamin
    03 Juni 2023 pukul 16:47 WITA

    Guru Besar Perikanan Unmul dan Kepala Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Akuakultur, Esti Handayani Hardi. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda berencana melakukan pelebaran sungai di Hulu Sungai Karang Mumus (SKM).

    Pelebaran ini bermaksud untuk melancarkan aliran air agar volume air yang tertampung lebih besar dan tidak menyebabkan banjir.

    Namun dalam pelaksanaannya, pelebaran ini memangkas keberlangsungan ekosistem yang ada disana, yakni ikan, tumbuhan dan serangga.

    Beberapa studi mengenai proses pelebaran, penyempitan maupun pembuatan bendungan sungai akan merubah struktur komunitas. Artinya ekosistem akan bergeser ke arah positif atau negatif.

    Guru Besar Fakultas Perikanan Universitas Mulawarman (Unmul) sekaligus Kepala Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Akuakultur, Prof Esti Handayani Hardi menyebut ada beberapa dampak negatif bagi ekosistem atas perubahan struktur sungai.

    "Perubahan struktur sungai membuat beberapa jenis ikan endemik akan hilang. Semisal ada pohon tertentu di bantaran sungai, jika pohon itu tidak ada akan mengubah ekosistem," ungkapnya. 

    Perubahan ekosistem, kata dia, membuat ikan berubah, apalagi ikan itu memiliki aktivitas atau tingkah laku yang bisa dibentuk. "Berubahnya jenis ikan itu terjadi karena dampak jangka panjangnya, kalau jangka pendeknya tidak sampai hilangnya populasi. Ikan memiliki tingkah laku yang bisa dibentuk, kalau ada perubahan sedikit bisa berubah," jelasnya. 

    Prof Esti Handayani memberikan contoh seperti halnya sampah atau limbah di SKM, ikan tersebut akan pergi dan jenis lainnya akan datang. "Bila dicemari dengan sampah atau limbah, ikan yang hilang itu seperti ikan-ikan endemik, hias, cupang, haruan, bahkan papuyu. Dan yang datang itu ikan sapu-sapu," lanjutnya.

    Sebelum populasi berubah, ada perubahan lainnya yang terjadi pada ikan. "Yakni perubahan histologinya, perubahan imunologi dari ikan, perubahan enzimatis, perubahan dari cara memijah hingga kematangan gonad bergeser sampai nanti paling ujung ke populasinya," paparnya. 

    Harapnya, kata dia, ke depan saat pemerintah melakukan pelebaran sungai jangan sampai mengganggu seluruh kawasan SKM.

    "Harus disediakan areal khusus di mana ikan tetap hidup untuk mencari makan, memijah dan lainnya. Sekarang ada kecanggihan alat radar yang mendeteksi ikan dan plankton yang paling banyak. Perubahan populasi itu diujung, mungkin sekarang ikan masih ada di situ, tapi kalau ekosistem berubah pasti akan berubah struktur komunitasnya itu, dengan begitu diperhatikan kembali," pungkasnya.

    (Sf/By)

    Seputar Kaltim

    Pelebaran SKM Ancam Ekosistem Ikan Endemik, Prof Esti: Sekarang Masih Ada, Nanti Akan Hilang

    Penulis:Maulana|Redaktur:Buniyamin
    03 Juni 2023 pukul 16:47 WITA

    Guru Besar Perikanan Unmul dan Kepala Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Akuakultur, Esti Handayani Hardi. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda berencana melakukan pelebaran sungai di Hulu Sungai Karang Mumus (SKM).

    Pelebaran ini bermaksud untuk melancarkan aliran air agar volume air yang tertampung lebih besar dan tidak menyebabkan banjir.

    Namun dalam pelaksanaannya, pelebaran ini memangkas keberlangsungan ekosistem yang ada disana, yakni ikan, tumbuhan dan serangga.

    Beberapa studi mengenai proses pelebaran, penyempitan maupun pembuatan bendungan sungai akan merubah struktur komunitas. Artinya ekosistem akan bergeser ke arah positif atau negatif.

    Guru Besar Fakultas Perikanan Universitas Mulawarman (Unmul) sekaligus Kepala Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Akuakultur, Prof Esti Handayani Hardi menyebut ada beberapa dampak negatif bagi ekosistem atas perubahan struktur sungai.

    "Perubahan struktur sungai membuat beberapa jenis ikan endemik akan hilang. Semisal ada pohon tertentu di bantaran sungai, jika pohon itu tidak ada akan mengubah ekosistem," ungkapnya. 

    Perubahan ekosistem, kata dia, membuat ikan berubah, apalagi ikan itu memiliki aktivitas atau tingkah laku yang bisa dibentuk. "Berubahnya jenis ikan itu terjadi karena dampak jangka panjangnya, kalau jangka pendeknya tidak sampai hilangnya populasi. Ikan memiliki tingkah laku yang bisa dibentuk, kalau ada perubahan sedikit bisa berubah," jelasnya. 

    Prof Esti Handayani memberikan contoh seperti halnya sampah atau limbah di SKM, ikan tersebut akan pergi dan jenis lainnya akan datang. "Bila dicemari dengan sampah atau limbah, ikan yang hilang itu seperti ikan-ikan endemik, hias, cupang, haruan, bahkan papuyu. Dan yang datang itu ikan sapu-sapu," lanjutnya.

    Sebelum populasi berubah, ada perubahan lainnya yang terjadi pada ikan. "Yakni perubahan histologinya, perubahan imunologi dari ikan, perubahan enzimatis, perubahan dari cara memijah hingga kematangan gonad bergeser sampai nanti paling ujung ke populasinya," paparnya. 

    Harapnya, kata dia, ke depan saat pemerintah melakukan pelebaran sungai jangan sampai mengganggu seluruh kawasan SKM.

    "Harus disediakan areal khusus di mana ikan tetap hidup untuk mencari makan, memijah dan lainnya. Sekarang ada kecanggihan alat radar yang mendeteksi ikan dan plankton yang paling banyak. Perubahan populasi itu diujung, mungkin sekarang ikan masih ada di situ, tapi kalau ekosistem berubah pasti akan berubah struktur komunitasnya itu, dengan begitu diperhatikan kembali," pungkasnya.

    (Sf/By)