Seputar Kaltim

    Pawai Ogoh-ogoh di Samarinda jadi Simbol Pembersihan Jagad

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    11 Maret 2024 pukul 12:27 WITA

    Pawai ogoh-ogoh di Jalan Sentosa Samarinda, Minggu (10/3/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Hari Raya Nyepi identik dengan keberadaan patung besar menyeramkan yang biasa dikenal sebagai ogoh-ogoh. Patung itu akan diarak mengelilingi beberapa tempat sehari sebelum Hari Nyepi.

    Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kalimantan Timur, I Made Subamiya, menjelaskan bahwa ogoh-ogoh sendiri merupakan cerminan dari Bhuta Kala yang menyimbolkan kekuatan-kekuatan negatif.

    “Simbol ogoh-ogoh ini memang raksasa yang seram-seram sebagai simbol kekuatan negatif dari Bhuta Kala,” tutur Subamiya pada Seputarfakta.com, Minggu (10/3/2024).

    Ogoh-ogoh yang menyeramkan itu dimaknai sebagai Bhuta Kala yang bersifat jahat sehingga perlu dinetralisir supaya tidak mengganggu kehidupan manusia. 

    “Maka dari itu kita adakan upacara Tawur Agung supaya kekuatan-kekuatan negatif itu berubah menjadi kekuatan positif yang kemudian diarak keliling sebagai simbolisasi pembersihan jagad," jelasnya.

    Tradisi Tawur Agung Kesanga bukan hanya sekadar upacara keagamaan, tetapi juga merupakan warisan budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Hindu. Acara ini menciptakan momen kebersamaan dan kesatuan dalam merayakan spiritualitas yang mendalam.

    Upacara Tawur Agung Kesanga menjadi wujud nyata komitmen masyarakat Hindu dalam menjaga keseimbangan antara kekuatan positif dan negatif, serta meneguhkan keberadaan nilai-nilai kearifan lokal. 

    “Sebelumnya juga ada rangakaian yang kami lalui, namanya upacara melasti yang kita lakukan di Sungai Mahakam untuk di Kota Samarinda,” bebernya.

    Subamiya menambahkan, dengan semangat kebersamaan, masyarakat Samarinda melibatkan diri aktif dalam prosesi ini untuk menciptakan lingkungan yang bersih dari energi negatif, mengembalikan harmoni, dan memulai tahun baru dengan penuh kedamaian.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Pawai Ogoh-ogoh di Samarinda jadi Simbol Pembersihan Jagad

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    11 Maret 2024 pukul 12:27 WITA

    Pawai ogoh-ogoh di Jalan Sentosa Samarinda, Minggu (10/3/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Hari Raya Nyepi identik dengan keberadaan patung besar menyeramkan yang biasa dikenal sebagai ogoh-ogoh. Patung itu akan diarak mengelilingi beberapa tempat sehari sebelum Hari Nyepi.

    Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kalimantan Timur, I Made Subamiya, menjelaskan bahwa ogoh-ogoh sendiri merupakan cerminan dari Bhuta Kala yang menyimbolkan kekuatan-kekuatan negatif.

    “Simbol ogoh-ogoh ini memang raksasa yang seram-seram sebagai simbol kekuatan negatif dari Bhuta Kala,” tutur Subamiya pada Seputarfakta.com, Minggu (10/3/2024).

    Ogoh-ogoh yang menyeramkan itu dimaknai sebagai Bhuta Kala yang bersifat jahat sehingga perlu dinetralisir supaya tidak mengganggu kehidupan manusia. 

    “Maka dari itu kita adakan upacara Tawur Agung supaya kekuatan-kekuatan negatif itu berubah menjadi kekuatan positif yang kemudian diarak keliling sebagai simbolisasi pembersihan jagad," jelasnya.

    Tradisi Tawur Agung Kesanga bukan hanya sekadar upacara keagamaan, tetapi juga merupakan warisan budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Hindu. Acara ini menciptakan momen kebersamaan dan kesatuan dalam merayakan spiritualitas yang mendalam.

    Upacara Tawur Agung Kesanga menjadi wujud nyata komitmen masyarakat Hindu dalam menjaga keseimbangan antara kekuatan positif dan negatif, serta meneguhkan keberadaan nilai-nilai kearifan lokal. 

    “Sebelumnya juga ada rangakaian yang kami lalui, namanya upacara melasti yang kita lakukan di Sungai Mahakam untuk di Kota Samarinda,” bebernya.

    Subamiya menambahkan, dengan semangat kebersamaan, masyarakat Samarinda melibatkan diri aktif dalam prosesi ini untuk menciptakan lingkungan yang bersih dari energi negatif, mengembalikan harmoni, dan memulai tahun baru dengan penuh kedamaian.

    (Sf/Rs)