Seputar Kaltim

    Pasokan Air Gurimbang di Berau Kembali Stabil, Perumdam Batiwakkal Tetap Waspadai Intrusi Air Laut

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    02 September 2026 pukul 17:49 WITA

    Direktur Utama Perumdam Batiwakkal, Saipul Rahman. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Pasokan air bersih Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Batiwakkal di kawasan Gurimbang, Kabupaten Berau, kini kembali stabil setelah sebelumnya sempat terdampak intrusi air laut akibat kemarau.

    Kondisi kemarau yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir membuat debit air sungai menurun. Akibatnya, air laut masuk cukup jauh hingga mencapai titik intake Gurimbang dan menyebabkan kadar salinitas air baku mengalami peningkatan signifikan.

    Direktur Utama Perumdam Batiwakkal, Saipul Rahman, mengatakan kadar salinitas tertinggi yang terpantau sempat mencapai 1.700 ppm. Angka tersebut jauh melampaui ambang batas maksimal yang menjadi acuan dalam pengolahan air.

    "Intrusi air laut ini paling parah sempat menyentuh angka 1.700 ppm. Sesuai Permenkes Nomor 2 Tahun 2023, ambang batas maksimal adalah 300 ppm. Kalau melebihi angka tersebut, operasional pengolahan terpaksa kami hentikan demi menjaga kualitas air,"  ujar Saipul Rahman.

    Akibat kondisi tersebut, operasional intake Gurimbang yang sebelumnya berjalan selama 24 jam sempat dikurangi menjadi 12 jam sejak 24 Agustus 2026. Pembatasan dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk memastikan air yang diproduksi tetap memenuhi standar kualitas.

    Tak hanya itu, Perumdam Batiwakkal juga melakukan rekayasa teknis untuk menjaga pasokan kepada masyarakat. Salah satunya dengan mengoptimalkan interkoneksi SPAM dari wilayah Sambaliung.

    "Kita lakukan interkoneksi sistem dengan buka-tutup katup agar pasokan air bisa saling mengisi dan menutup kekurangan dari Gurimbang," terangnya.

    Dirinya pun menyebut bahwa langkah tersebut dilakukan guna membantu menjaga kebutuhan air masyarakat selama operasional intake Gurimbang dibatasi. Dirinya mengatakan pasokan selama periode tersebut masih aman dan terkendali.

    Kondisi itu juga didukung oleh kesiapan masyarakat yang sebagian besar telah memiliki tandon atau tempat penampungan air secara mandiri. Imbauan dari kepala kampung setempat turut membantu warga menyesuaikan penggunaan air berdasarkan jadwal pengaliran.

    "Sekarang operasional sudah kembali normal 24 jam penuh. Tetapi kami tetap waspada. Petugas di lapangan melakukan pengecekan kualitas air secara intensif setiap satu jam sekali," ungkapnya.

    Pemantauan juga dilakukan di intake Rinding untuk memastikan pasokan air tetap terkendali dari potensi dampak kekeringan. Pengawasan ini menjadi bagian dari langkah antisipasi selama musim kemarau masih berlangsung.

    Ia berharap hujan segera turun, terutama di wilayah hulu. Menurutnya, meningkatnya debit air sungai dapat membantu mendorong air asin kembali ke laut sehingga risiko intrusi dapat ditekan.

    "Kami juga minta agar masyarakat menghemat penggunaan air. Kegiatan yang menyerap banyak air dan bisa ditunda seperti mencuci kendaraan atau menyiram jalanan sebaiknya dibatasi dulu," imbaunya.

    Saipul Rahman menegaskan, penghematan air perlu dilakukan bersama agar ketersediaan pasokan tetap terjaga dan tidak mengurangi pelayanan bagi pelanggan lain, terutama masyarakat yang berada di titik ujung jaringan distribusi.

    "Penggunaan air yang berlebihan dikhawatirkan akan merugikan pelanggan lain, terutama yang berada di titik ujung jaringan distribusi," tandasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Pasokan Air Gurimbang di Berau Kembali Stabil, Perumdam Batiwakkal Tetap Waspadai Intrusi Air Laut

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    02 September 2026 pukul 17:49 WITA

    Direktur Utama Perumdam Batiwakkal, Saipul Rahman. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Pasokan air bersih Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Batiwakkal di kawasan Gurimbang, Kabupaten Berau, kini kembali stabil setelah sebelumnya sempat terdampak intrusi air laut akibat kemarau.

    Kondisi kemarau yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir membuat debit air sungai menurun. Akibatnya, air laut masuk cukup jauh hingga mencapai titik intake Gurimbang dan menyebabkan kadar salinitas air baku mengalami peningkatan signifikan.

    Direktur Utama Perumdam Batiwakkal, Saipul Rahman, mengatakan kadar salinitas tertinggi yang terpantau sempat mencapai 1.700 ppm. Angka tersebut jauh melampaui ambang batas maksimal yang menjadi acuan dalam pengolahan air.

    "Intrusi air laut ini paling parah sempat menyentuh angka 1.700 ppm. Sesuai Permenkes Nomor 2 Tahun 2023, ambang batas maksimal adalah 300 ppm. Kalau melebihi angka tersebut, operasional pengolahan terpaksa kami hentikan demi menjaga kualitas air,"  ujar Saipul Rahman.

    Akibat kondisi tersebut, operasional intake Gurimbang yang sebelumnya berjalan selama 24 jam sempat dikurangi menjadi 12 jam sejak 24 Agustus 2026. Pembatasan dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk memastikan air yang diproduksi tetap memenuhi standar kualitas.

    Tak hanya itu, Perumdam Batiwakkal juga melakukan rekayasa teknis untuk menjaga pasokan kepada masyarakat. Salah satunya dengan mengoptimalkan interkoneksi SPAM dari wilayah Sambaliung.

    "Kita lakukan interkoneksi sistem dengan buka-tutup katup agar pasokan air bisa saling mengisi dan menutup kekurangan dari Gurimbang," terangnya.

    Dirinya pun menyebut bahwa langkah tersebut dilakukan guna membantu menjaga kebutuhan air masyarakat selama operasional intake Gurimbang dibatasi. Dirinya mengatakan pasokan selama periode tersebut masih aman dan terkendali.

    Kondisi itu juga didukung oleh kesiapan masyarakat yang sebagian besar telah memiliki tandon atau tempat penampungan air secara mandiri. Imbauan dari kepala kampung setempat turut membantu warga menyesuaikan penggunaan air berdasarkan jadwal pengaliran.

    "Sekarang operasional sudah kembali normal 24 jam penuh. Tetapi kami tetap waspada. Petugas di lapangan melakukan pengecekan kualitas air secara intensif setiap satu jam sekali," ungkapnya.

    Pemantauan juga dilakukan di intake Rinding untuk memastikan pasokan air tetap terkendali dari potensi dampak kekeringan. Pengawasan ini menjadi bagian dari langkah antisipasi selama musim kemarau masih berlangsung.

    Ia berharap hujan segera turun, terutama di wilayah hulu. Menurutnya, meningkatnya debit air sungai dapat membantu mendorong air asin kembali ke laut sehingga risiko intrusi dapat ditekan.

    "Kami juga minta agar masyarakat menghemat penggunaan air. Kegiatan yang menyerap banyak air dan bisa ditunda seperti mencuci kendaraan atau menyiram jalanan sebaiknya dibatasi dulu," imbaunya.

    Saipul Rahman menegaskan, penghematan air perlu dilakukan bersama agar ketersediaan pasokan tetap terjaga dan tidak mengurangi pelayanan bagi pelanggan lain, terutama masyarakat yang berada di titik ujung jaringan distribusi.

    "Penggunaan air yang berlebihan dikhawatirkan akan merugikan pelanggan lain, terutama yang berada di titik ujung jaringan distribusi," tandasnya.

    (Sf/Rs)