Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim
Uji Beban yang dilakukan oleh pihak Dinas PUPR-PERA Kaltim bersama Ahli Struktur UGM. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR-PERA) Kalimantan Timur kembali melakukan penutupan sementara akses jembatan pada Rabu (4/2/2026).
Langkah ini diambil sebagai respons cepat dan serius menyusul insiden tertabraknya fender dan pilar jembatan yang terjadi pada 25 Januari 2026 lalu.
Tercatat, ini merupakan insiden ketiga kalinya yang menimpa aset vital tersebut, khususnya pada bagian Pilar P9 dan P10.
Demi memastikan keselamatan pengguna jalan dan integritas struktur jembatan, Dinas PUPR-PERA menggandeng tim ahli struktur dari Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk melakukan pemeriksaan teknis mendalam menggunakan metode Uji Dinamis dan Non-Destructive Test (NDT).
Ahli Struktur UGM, Christopher Triyoso, yang memimpin teknis pemeriksaan di lapangan, menjelaskan bahwa pengujian kali ini memiliki pendekatan yang spesifik.
Berbeda dengan uji beban statis yang biasanya menggunakan beban ekstrem, uji dinamik kali ini menggunakan truk berukuran sedang dengan bobot sekitar 8 ton.
Christopher memaparkan bahwa fungsi truk tersebut bukan untuk membebani jembatan hingga batas maksimal, melainkan sebagai alat untuk memberikan "hentakan" atau impuls getaran pada struktur.
"Melalui pengujian ini, kami ingin mengetahui frekuensi getaran yang terjadi pada jembatan. Setiap struktur pada dasarnya memiliki karakteristik getaran masing-masing, dan getaran tersebut berkaitan erat dengan tingkat kekakuan struktur," jelas Christopher saat ditemui di lapangan.
Logika teknisnya, apabila terjadi kerusakan atau perubahan kekakuan pada struktur akibat benturan keras, maka frekuensi getaran jembatan akan berubah dari standar normalnya.
"Hal inilah yang ingin kami lihat, apakah frekuensinya masih sama atau terdapat perubahan," tambahnya.
Tim ahli memfokuskan titik pengujian pada satu bentang yang disangga oleh tiga pilar. Hentakan dilakukan di dua titik strategis, yakni di tengah bentang dan seperempat bentang, yang dinilai cukup merepresentasikan kondisi struktur pasca-tabrakan.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR-PERA, Muhammad Muhran, menegaskan bahwa meski hasil uji pasca-tabrakan pertama dan kedua menyatakan jembatan masih dalam kondisi sehat dan aman, insiden ketiga ini tidak bisa dianggap remeh. Prinsip kehati-hatian (precautionary principle) menjadi prioritas utama pemerintah.
"Secara teknis, dari hasil uji pertama dan kedua, jembatan dinyatakan aman. Namun karena ini merupakan kejadian ketiga, kami merasa perlu memastikan kembali kondisi struktur jembatan demi keamanan, keselamatan, dan kesehatan aset bersama," ujar Muhran di sela-sela pemantauan.
Muhran juga menjelaskan adanya sedikit keterlambatan dalam pelaksanaan uji coba hari ini. Selain faktor cuaca hujan yang mengguyur lokasi sejak pagi, tim penguji juga baru saja tiba dari perjalanan tugas di Ambon. Namun, ia optimis pengujian dapat diselesaikan sesuai target.
Penutupan jembatan yang melibatkan rekayasa lalu lintas ini tak pelak menimbulkan kepadatan di beberapa titik. Terkait hal tersebut, Muhran menyampaikan apresiasi kepada pihak kepolisian, Dinas Perhubungan, dan stakeholder lain yang membantu pengamanan, sekaligus memohon maaf kepada masyarakat.
"Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat atas ketidaknyamanan ini. Kami menargetkan kegiatan selesai pukul 16.00 WITA. Namun apabila bisa selesai lebih cepat, maka jembatan akan segera kami buka kembali," janjinya.
Terkait hasil akhir pemeriksaan, Christopher Triyoso menyebutkan bahwa data yang diambil hari ini bersifat sementara. Proses pengolahan data dan analisis komputasi membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk menghasilkan kesimpulan menyeluruh mengenai status kelayakan jembatan pasca-insiden ini.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mematuhi arahan petugas di lapangan hingga jembatan dinyatakan aman sepenuhnya dan dibuka kembali sore ini.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim

Uji Beban yang dilakukan oleh pihak Dinas PUPR-PERA Kaltim bersama Ahli Struktur UGM. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR-PERA) Kalimantan Timur kembali melakukan penutupan sementara akses jembatan pada Rabu (4/2/2026).
Langkah ini diambil sebagai respons cepat dan serius menyusul insiden tertabraknya fender dan pilar jembatan yang terjadi pada 25 Januari 2026 lalu.
Tercatat, ini merupakan insiden ketiga kalinya yang menimpa aset vital tersebut, khususnya pada bagian Pilar P9 dan P10.
Demi memastikan keselamatan pengguna jalan dan integritas struktur jembatan, Dinas PUPR-PERA menggandeng tim ahli struktur dari Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk melakukan pemeriksaan teknis mendalam menggunakan metode Uji Dinamis dan Non-Destructive Test (NDT).
Ahli Struktur UGM, Christopher Triyoso, yang memimpin teknis pemeriksaan di lapangan, menjelaskan bahwa pengujian kali ini memiliki pendekatan yang spesifik.
Berbeda dengan uji beban statis yang biasanya menggunakan beban ekstrem, uji dinamik kali ini menggunakan truk berukuran sedang dengan bobot sekitar 8 ton.
Christopher memaparkan bahwa fungsi truk tersebut bukan untuk membebani jembatan hingga batas maksimal, melainkan sebagai alat untuk memberikan "hentakan" atau impuls getaran pada struktur.
"Melalui pengujian ini, kami ingin mengetahui frekuensi getaran yang terjadi pada jembatan. Setiap struktur pada dasarnya memiliki karakteristik getaran masing-masing, dan getaran tersebut berkaitan erat dengan tingkat kekakuan struktur," jelas Christopher saat ditemui di lapangan.
Logika teknisnya, apabila terjadi kerusakan atau perubahan kekakuan pada struktur akibat benturan keras, maka frekuensi getaran jembatan akan berubah dari standar normalnya.
"Hal inilah yang ingin kami lihat, apakah frekuensinya masih sama atau terdapat perubahan," tambahnya.
Tim ahli memfokuskan titik pengujian pada satu bentang yang disangga oleh tiga pilar. Hentakan dilakukan di dua titik strategis, yakni di tengah bentang dan seperempat bentang, yang dinilai cukup merepresentasikan kondisi struktur pasca-tabrakan.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR-PERA, Muhammad Muhran, menegaskan bahwa meski hasil uji pasca-tabrakan pertama dan kedua menyatakan jembatan masih dalam kondisi sehat dan aman, insiden ketiga ini tidak bisa dianggap remeh. Prinsip kehati-hatian (precautionary principle) menjadi prioritas utama pemerintah.
"Secara teknis, dari hasil uji pertama dan kedua, jembatan dinyatakan aman. Namun karena ini merupakan kejadian ketiga, kami merasa perlu memastikan kembali kondisi struktur jembatan demi keamanan, keselamatan, dan kesehatan aset bersama," ujar Muhran di sela-sela pemantauan.
Muhran juga menjelaskan adanya sedikit keterlambatan dalam pelaksanaan uji coba hari ini. Selain faktor cuaca hujan yang mengguyur lokasi sejak pagi, tim penguji juga baru saja tiba dari perjalanan tugas di Ambon. Namun, ia optimis pengujian dapat diselesaikan sesuai target.
Penutupan jembatan yang melibatkan rekayasa lalu lintas ini tak pelak menimbulkan kepadatan di beberapa titik. Terkait hal tersebut, Muhran menyampaikan apresiasi kepada pihak kepolisian, Dinas Perhubungan, dan stakeholder lain yang membantu pengamanan, sekaligus memohon maaf kepada masyarakat.
"Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat atas ketidaknyamanan ini. Kami menargetkan kegiatan selesai pukul 16.00 WITA. Namun apabila bisa selesai lebih cepat, maka jembatan akan segera kami buka kembali," janjinya.
Terkait hasil akhir pemeriksaan, Christopher Triyoso menyebutkan bahwa data yang diambil hari ini bersifat sementara. Proses pengolahan data dan analisis komputasi membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk menghasilkan kesimpulan menyeluruh mengenai status kelayakan jembatan pasca-insiden ini.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mematuhi arahan petugas di lapangan hingga jembatan dinyatakan aman sepenuhnya dan dibuka kembali sore ini.
(Sf/Rs)