Cari disini...
Seputar Kaltim
Gedung Pasar Pagi Samarinda. (Foto: Arsensia Serlyani/Seputarfakta.com)
Samarinda – Wacana pembenahan Pasar Pagi Samarinda tidak cukup hanya mengandalkan penambahan fasilitas seperti eskalator untuk kembali menarik aktivitas perdagangan.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani, menilai ramainya pasar tetap bergantung pada keberadaan pedagang, daya beli masyarakat, serta perubahan pola belanja yang kini semakin dipengaruhi perdagangan daring.
Nurrahmani mengatakan penambahan fasilitas fisik belum tentu membuat Pasar Pagi kembali ramai jika tidak diikuti dengan aktivitas perdagangan dan keterisian kios.
“Apakah yakin juga misalnya tentang pembicaraan hanya disediakan eskalator, apakah itu menjamin bahwa itu pasti ramai di Pasar Pagi? Kan belum tentu juga. Kasih eskalator, kasih fisik, belum tentu juga membuat ramai kalau enggak ada yang menghuninya,” ujar Nurrahman, Senin (14/9/2026)i.
Menurutnya, kondisi Pasar Pagi juga harus dilihat dari perkembangan pola belanja masyarakat.
Pasar yang telah berjalan sekitar dua tahun itu menghadapi perubahan perilaku konsumen, termasuk semakin berkembangnya belanja secara online.
“Seiring dengan waktu, berapa tahun Pasar Pagi? Dua tahun kan? Itu kan tentang belanja online, ada nilai ekonomi, itu kan pasti mempengaruhi semua,” ungkapnya.
Karena itu, Nurrahmani menilai eskalator tidak bisa ditempatkan sebagai satu-satunya solusi untuk menghidupkan kembali aktivitas Pasar Pagi.
Pemerintah perlu melihat persoalan secara lebih menyeluruh, termasuk kondisi pedagang dan pola penempatan kios.
Ia membuka kemungkinan adanya penataan atau perubahan posisi pedagang apabila nantinya diperlukan.
Pedagang yang memiliki beberapa kios atau kepemilikan dalam satu keluarga, misalnya, dapat menggabungkan atau memindahkan aktivitas dagangnya agar lebih terkonsentrasi.
“Bisa, bisa jadi perombakan. Nanti ada yang punya, misalnya yang di bawah merasa, ‘Iya aku banyak tersebar-sebar, aku mau naik ke atas.’ Bisa saja,” katanya.
Sementara itu, terkait wacana rebranding Pasar Pagi dari pasar tradisional menjadi pasar modern, Nurrahmani menegaskan belum ada keputusan.
Menurutnya, perubahan konsep pasar membutuhkan pembahasan dan kajian lebih lanjut karena akan berdampak terhadap keseluruhan konsep perdagangan di dalamnya.
“Oh itu nanti saya enggak berani menyampaikan. Mau rebranding seperti apa, mau dijadikan pasar modern, perlu telaah,” ujarnya.
Nurrahmani mengatakan rebranding bukan sekadar mengganti nama atau tampilan pasar. Jika konsep Pasar Pagi benar-benar diubah menjadi pasar modern, maka karakter dan fasilitas perdagangan di dalamnya juga dapat ikut berubah.
“Kalau sudah di-branding itu kan pasti konsepnya beda lagi. Bisa jadi misalnya pasar basah enggak ada lagi. Itu perlu pembicaraan yang lebih lanjut lagi,” katanya.
Ia menegaskan pembahasan terkait rebranding belum dilakukan dalam pertemuan saat ini. Pemerintah masih membahas penataan Pasar Pagi secara bertahap, termasuk pemetaan antara area perdagangan grosir dan eceran.
“Nanti mungkin sampai entah sampai kapan ini menjadi agenda Senin-Senin yang harus kita laksanakan. Nah nanti hari Rabu mungkin kalau kami bisa, itu mengerucut lagi nih pertemuannya tentang yang grosir dengan eceran,” jelasnya.
Pembahasan tersebut nantinya juga akan menentukan batasan antara pedagang grosir dan eceran, termasuk jumlah kios yang dapat digunakan pedagang untuk kategori eceran.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Gedung Pasar Pagi Samarinda. (Foto: Arsensia Serlyani/Seputarfakta.com)
Samarinda – Wacana pembenahan Pasar Pagi Samarinda tidak cukup hanya mengandalkan penambahan fasilitas seperti eskalator untuk kembali menarik aktivitas perdagangan.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani, menilai ramainya pasar tetap bergantung pada keberadaan pedagang, daya beli masyarakat, serta perubahan pola belanja yang kini semakin dipengaruhi perdagangan daring.
Nurrahmani mengatakan penambahan fasilitas fisik belum tentu membuat Pasar Pagi kembali ramai jika tidak diikuti dengan aktivitas perdagangan dan keterisian kios.
“Apakah yakin juga misalnya tentang pembicaraan hanya disediakan eskalator, apakah itu menjamin bahwa itu pasti ramai di Pasar Pagi? Kan belum tentu juga. Kasih eskalator, kasih fisik, belum tentu juga membuat ramai kalau enggak ada yang menghuninya,” ujar Nurrahman, Senin (14/9/2026)i.
Menurutnya, kondisi Pasar Pagi juga harus dilihat dari perkembangan pola belanja masyarakat.
Pasar yang telah berjalan sekitar dua tahun itu menghadapi perubahan perilaku konsumen, termasuk semakin berkembangnya belanja secara online.
“Seiring dengan waktu, berapa tahun Pasar Pagi? Dua tahun kan? Itu kan tentang belanja online, ada nilai ekonomi, itu kan pasti mempengaruhi semua,” ungkapnya.
Karena itu, Nurrahmani menilai eskalator tidak bisa ditempatkan sebagai satu-satunya solusi untuk menghidupkan kembali aktivitas Pasar Pagi.
Pemerintah perlu melihat persoalan secara lebih menyeluruh, termasuk kondisi pedagang dan pola penempatan kios.
Ia membuka kemungkinan adanya penataan atau perubahan posisi pedagang apabila nantinya diperlukan.
Pedagang yang memiliki beberapa kios atau kepemilikan dalam satu keluarga, misalnya, dapat menggabungkan atau memindahkan aktivitas dagangnya agar lebih terkonsentrasi.
“Bisa, bisa jadi perombakan. Nanti ada yang punya, misalnya yang di bawah merasa, ‘Iya aku banyak tersebar-sebar, aku mau naik ke atas.’ Bisa saja,” katanya.
Sementara itu, terkait wacana rebranding Pasar Pagi dari pasar tradisional menjadi pasar modern, Nurrahmani menegaskan belum ada keputusan.
Menurutnya, perubahan konsep pasar membutuhkan pembahasan dan kajian lebih lanjut karena akan berdampak terhadap keseluruhan konsep perdagangan di dalamnya.
“Oh itu nanti saya enggak berani menyampaikan. Mau rebranding seperti apa, mau dijadikan pasar modern, perlu telaah,” ujarnya.
Nurrahmani mengatakan rebranding bukan sekadar mengganti nama atau tampilan pasar. Jika konsep Pasar Pagi benar-benar diubah menjadi pasar modern, maka karakter dan fasilitas perdagangan di dalamnya juga dapat ikut berubah.
“Kalau sudah di-branding itu kan pasti konsepnya beda lagi. Bisa jadi misalnya pasar basah enggak ada lagi. Itu perlu pembicaraan yang lebih lanjut lagi,” katanya.
Ia menegaskan pembahasan terkait rebranding belum dilakukan dalam pertemuan saat ini. Pemerintah masih membahas penataan Pasar Pagi secara bertahap, termasuk pemetaan antara area perdagangan grosir dan eceran.
“Nanti mungkin sampai entah sampai kapan ini menjadi agenda Senin-Senin yang harus kita laksanakan. Nah nanti hari Rabu mungkin kalau kami bisa, itu mengerucut lagi nih pertemuannya tentang yang grosir dengan eceran,” jelasnya.
Pembahasan tersebut nantinya juga akan menentukan batasan antara pedagang grosir dan eceran, termasuk jumlah kios yang dapat digunakan pedagang untuk kategori eceran.
(Sf/Rs)