Cari disini...
Seputar Kaltim
Wali Kota Samarinda, Andi Harun saat meresmikan Pasar Baqa, Rabu (15/5/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Kepala Dinas Perdagangan Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengungkapkan bahwa Pasar Baqa akan menjadi pasar berikutnya yang dijadikan pasar yang memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) di Samarinda.
"Bulan Juni 2024 ini sudah dimulai penilaiannya," kata Marnabas, Minggu (26/5/2024).
Saat ini, Samarinda sudah memiliki dua pasar berstandar SNI, yaitu Pasar Palaran dan Merdeka.
Pendampingan untuk pasar SNI berlangsung kurang lebih selama enam bulan. Ia menambahkan bahwa untuk menjadi pasar SNI, ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi, terutama fasilitas dan akses bagi disabilitas dan ibu menyusui harus terpenuhi. Termasuk tempat ibadah.
"Pasar harus bersih, memiliki ruang menyusui, layanan kesehatan, akurasi timbangan yang baik, musala, serta tempat per blok yang seragam. Misal, ikan ya ikan semua di satu tempat, sayur di tempat lain. Hal ini sulit dicapai tanpa kerja sama yang baik dari semua pihak," ungkapnya.
Selain itu, aksesibilitas untuk disabilitas, fasilitas WC yang memadai, dan pemasangan CCTV juga menjadi syarat penting.
"Pemenuhan fasilitas ini cukup sulit dibandingkan dengan standar operasional prosedur (SOP) lainnya. Komitmen untuk menjadi pasar SNI itu cukup besar," ujarnya.
Marnabas mencontohkan Pasar Merdeka yang sebelumnya merupakan pasar yang terbilang kumuh, kini telah diubah menjadi pasar yang bagus dan tertata.
"Pasar SNI nantinya kurang lebih akan menjadi seperti mal. Petugas kebersihan bekerja hingga pasar selesai, dan bisa menegur pedagang yang membuang sampah sembarangan," kata Marnabas.
Mantan Kepala Dinas Sosial ini pun berencana, selanjutnya adalah menjadikan Pasar Pagi sebagai pasar SNI setelah selesai dibangun.
"Kalau untuk Pasar Segiri itu kan pasar induk. Saat ini, tata letaknya masih berhamburan dengan ayam dan sayur yang ada di mana-mana. Tapi pelan-pelan, itu juga pasti bisa diubah jadi SNI," jelasnya.
Terkait dengan anggaran, menurutnya anggaran yang dikeluarkan untuk memenuhi standar SNI tidak banyak.
Hanya perlu komitmen dan keinginan bersama untuk mewujudkan itu.
Lantaran, pengawasan dan penilaiannya pun akan terus berlanjut bahkan setelah mendapatkan label Pasar SNI. Sehingga kebersihan serta pemeliharaan sarana dan prasarana harus menjadi tanggung jawab bersama, baik dari pemerintah maupun para penghuni pasar.
"Misalnya, untuk mengadakan ruang menyusui, cukup dengan memberi sekat-sekat, karena tidak ada ketentuan khusus seperti ukuran ruang dan sebagainya. Yang penting layak, sudah selesai. Tergantung kemauan kita. Kalau kita kompak semua, ya bisa saja," bebernya.
Ia berharap ke depannya semua pasar di Samarinda bisa berstandar SNI. Terlebih semua infrastruktur pasar sudah mulai dibenahi bertahap.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Wali Kota Samarinda, Andi Harun saat meresmikan Pasar Baqa, Rabu (15/5/2024). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Kepala Dinas Perdagangan Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengungkapkan bahwa Pasar Baqa akan menjadi pasar berikutnya yang dijadikan pasar yang memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) di Samarinda.
"Bulan Juni 2024 ini sudah dimulai penilaiannya," kata Marnabas, Minggu (26/5/2024).
Saat ini, Samarinda sudah memiliki dua pasar berstandar SNI, yaitu Pasar Palaran dan Merdeka.
Pendampingan untuk pasar SNI berlangsung kurang lebih selama enam bulan. Ia menambahkan bahwa untuk menjadi pasar SNI, ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi, terutama fasilitas dan akses bagi disabilitas dan ibu menyusui harus terpenuhi. Termasuk tempat ibadah.
"Pasar harus bersih, memiliki ruang menyusui, layanan kesehatan, akurasi timbangan yang baik, musala, serta tempat per blok yang seragam. Misal, ikan ya ikan semua di satu tempat, sayur di tempat lain. Hal ini sulit dicapai tanpa kerja sama yang baik dari semua pihak," ungkapnya.
Selain itu, aksesibilitas untuk disabilitas, fasilitas WC yang memadai, dan pemasangan CCTV juga menjadi syarat penting.
"Pemenuhan fasilitas ini cukup sulit dibandingkan dengan standar operasional prosedur (SOP) lainnya. Komitmen untuk menjadi pasar SNI itu cukup besar," ujarnya.
Marnabas mencontohkan Pasar Merdeka yang sebelumnya merupakan pasar yang terbilang kumuh, kini telah diubah menjadi pasar yang bagus dan tertata.
"Pasar SNI nantinya kurang lebih akan menjadi seperti mal. Petugas kebersihan bekerja hingga pasar selesai, dan bisa menegur pedagang yang membuang sampah sembarangan," kata Marnabas.
Mantan Kepala Dinas Sosial ini pun berencana, selanjutnya adalah menjadikan Pasar Pagi sebagai pasar SNI setelah selesai dibangun.
"Kalau untuk Pasar Segiri itu kan pasar induk. Saat ini, tata letaknya masih berhamburan dengan ayam dan sayur yang ada di mana-mana. Tapi pelan-pelan, itu juga pasti bisa diubah jadi SNI," jelasnya.
Terkait dengan anggaran, menurutnya anggaran yang dikeluarkan untuk memenuhi standar SNI tidak banyak.
Hanya perlu komitmen dan keinginan bersama untuk mewujudkan itu.
Lantaran, pengawasan dan penilaiannya pun akan terus berlanjut bahkan setelah mendapatkan label Pasar SNI. Sehingga kebersihan serta pemeliharaan sarana dan prasarana harus menjadi tanggung jawab bersama, baik dari pemerintah maupun para penghuni pasar.
"Misalnya, untuk mengadakan ruang menyusui, cukup dengan memberi sekat-sekat, karena tidak ada ketentuan khusus seperti ukuran ruang dan sebagainya. Yang penting layak, sudah selesai. Tergantung kemauan kita. Kalau kita kompak semua, ya bisa saja," bebernya.
Ia berharap ke depannya semua pasar di Samarinda bisa berstandar SNI. Terlebih semua infrastruktur pasar sudah mulai dibenahi bertahap.
(Sf/Rs)