Cari disini...
Seputar Kaltim
Kabid Inovasi, Teknologi, dan Pengkajian Pengaturan Bapelitbang PPU, Anita Megawati. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Penjaringan inovasi daerah di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat lonjakan partisipasi tahun ini. Sebanyak 62 inovasi OPD, sekolah, hingga puskesmas ikut dalam lomba inovasi daerah 2026.
Kabid Inovasi, Teknologi, dan Pengkajian Pengaturan Bapelitbang PPU, Anita Megawati, mengatakan jumlah tersebut meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata hanya sekitar 20 inovasi.
“Alhamdulillah, tahun ini partisipasinya meningkat. Sebelumnya hanya sekitar 20 inovasi, sekarang sudah mencapai 62," kata Anita, Selasa (8/9/2026).
Penjaringan telah dibuka sejak Maret 2026, sedangkan proses penjurian dilakukan pada Agustus. Peserta dari sekolah dasar menjadi salah satu kelompok yang cukup banyak mengikuti lomba.
Menurut Anita, inovasi yang dibuat perangkat daerah setidaknya diarahkan pada pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM). Pemkab PPU juga telah memiliki peraturan bupati yang mewajibkan setiap OPD menghasilkan sedikitnya satu inovasi dalam setahun.
Inovasi yang masuk dibagi dalam tiga kategori, yakni initial innovation untuk ide yang belum diterapkan, on going innovation bagi inovasi yang baru berjalan, serta mature innovation yang telah diterapkan dan memberikan manfaat.
"Inovasi itu tidak harus berupa aplikasi. Bisa berupa pelayanan yang memudahkan masyarakat atau membuat pekerjaan lebih ringan. Di sekolah misalnya ada pilah sampah, program murid belajar menjadi guru kecil, sekolah inklusif dan lainnya," jelasnya.
Penilaian juga mengacu pada 20 indikator indeks inovasi daerah sesuai ketentuan Kementerian Dalam Negeri. Parameter tersebut mencakup regulasi, SPM, kepuasan masyarakat dan indikator lainnya.
Hasil penilaian inovasi daerah nantinya berpengaruh terhadap posisi PPU dalam Innovative Government Award (IGA), yang mengukur tingkat inovasi pemerintah daerah.
"Ujungnya masuk ke indeks inovasi daerah yang setiap tahun dinilai melalui IGA. Dari situ terlihat apakah PPU masih inovatif, kurang inovatif atau sangat inovatif," ujarnya.
Bapelitbang PPU berharap peningkatan partisipasi tahun ini ikut memperkuat posisi daerah dalam penilaian tersebut. Anita menyebut capaian inovasi juga berkaitan dengan penilaian terhadap daerah dalam skema transfer ke daerah.
"Penilaian inovasi ini juga berkaitan dengan dana transfer ke daerah. Karena itu, bagaimana inovasi kita setiap tahun menjadi bagian dari penilaian," katanya.
Ia menambahkan, inovasi dari daerah lain juga dapat direplikasi di PPU. Replikasi tersebut tetap harus disertai kerja sama dengan daerah asal inovasi.
Saat ini Bapelitbang PPU masih memproses Surat Keputusan (SK) bupati untuk menetapkan pemenang dari tiga kategori lomba.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kabid Inovasi, Teknologi, dan Pengkajian Pengaturan Bapelitbang PPU, Anita Megawati. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Penjaringan inovasi daerah di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat lonjakan partisipasi tahun ini. Sebanyak 62 inovasi OPD, sekolah, hingga puskesmas ikut dalam lomba inovasi daerah 2026.
Kabid Inovasi, Teknologi, dan Pengkajian Pengaturan Bapelitbang PPU, Anita Megawati, mengatakan jumlah tersebut meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata hanya sekitar 20 inovasi.
“Alhamdulillah, tahun ini partisipasinya meningkat. Sebelumnya hanya sekitar 20 inovasi, sekarang sudah mencapai 62," kata Anita, Selasa (8/9/2026).
Penjaringan telah dibuka sejak Maret 2026, sedangkan proses penjurian dilakukan pada Agustus. Peserta dari sekolah dasar menjadi salah satu kelompok yang cukup banyak mengikuti lomba.
Menurut Anita, inovasi yang dibuat perangkat daerah setidaknya diarahkan pada pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM). Pemkab PPU juga telah memiliki peraturan bupati yang mewajibkan setiap OPD menghasilkan sedikitnya satu inovasi dalam setahun.
Inovasi yang masuk dibagi dalam tiga kategori, yakni initial innovation untuk ide yang belum diterapkan, on going innovation bagi inovasi yang baru berjalan, serta mature innovation yang telah diterapkan dan memberikan manfaat.
"Inovasi itu tidak harus berupa aplikasi. Bisa berupa pelayanan yang memudahkan masyarakat atau membuat pekerjaan lebih ringan. Di sekolah misalnya ada pilah sampah, program murid belajar menjadi guru kecil, sekolah inklusif dan lainnya," jelasnya.
Penilaian juga mengacu pada 20 indikator indeks inovasi daerah sesuai ketentuan Kementerian Dalam Negeri. Parameter tersebut mencakup regulasi, SPM, kepuasan masyarakat dan indikator lainnya.
Hasil penilaian inovasi daerah nantinya berpengaruh terhadap posisi PPU dalam Innovative Government Award (IGA), yang mengukur tingkat inovasi pemerintah daerah.
"Ujungnya masuk ke indeks inovasi daerah yang setiap tahun dinilai melalui IGA. Dari situ terlihat apakah PPU masih inovatif, kurang inovatif atau sangat inovatif," ujarnya.
Bapelitbang PPU berharap peningkatan partisipasi tahun ini ikut memperkuat posisi daerah dalam penilaian tersebut. Anita menyebut capaian inovasi juga berkaitan dengan penilaian terhadap daerah dalam skema transfer ke daerah.
"Penilaian inovasi ini juga berkaitan dengan dana transfer ke daerah. Karena itu, bagaimana inovasi kita setiap tahun menjadi bagian dari penilaian," katanya.
Ia menambahkan, inovasi dari daerah lain juga dapat direplikasi di PPU. Replikasi tersebut tetap harus disertai kerja sama dengan daerah asal inovasi.
Saat ini Bapelitbang PPU masih memproses Surat Keputusan (SK) bupati untuk menetapkan pemenang dari tiga kategori lomba.
(Sf/Lo)