Seputar Kaltim

    Para Paslon Saling Beri Seruan untuk Tidak Lakukan Ujaran Kebencian, Tapi Buzzer Giring Opini Telah Bergerak

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    03 Oktober 2024 pukul 15:11 WITA

    Kedua Paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim yang sedang melakukan kampanye. (Foto: Maulana/Seoutarfakta.com)

    Samarinda - Sudah sepekan masa kampanye bergulir, kedua pasangan Calon (Paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur, baik paslon kosong satu Isran Noor-Hadi Mulyadi, maupun paslon kosong dua Rudy Mas’ud-Seno Aji sudah bergerak ke sejumlah daerah. 

    Dalam setiap kampanye terbuka maupun tertutup, kedua paslon ini selalu menitipkan pesan kepada para pendukungnya untuk bernarasi yang baik dan tidak memberikan ujaran kebencian kepada lawan politik.

    Isran Noor dalam acara pengukuhan partai koalisi pemenangan Isran-Hadi Samarinda, ia menyampaikan kepada pendukung untuk menceritakan kepada masyarakat informasi yang sebenarnya.  

    “Kepada semua tim sukses, kepada juru kampanye, kepada para relawan di dalam melaksanakan kampanye ada beberapa syarat yang tidak boleh dilakukan, jangan menghina lawan, jangan menjelekkan lawan, jangan memfitnah lawan,” jelas Isran, di Samarinda, Rabu (3/10/2024).

    Isran menambahkan hanya ada satu yang dibolehkan dalam kampanye. “Yang boleh hanya menceritakan fakta-fakta, kenapa? Kita harus memberikan informasi yang benar kepada masyarakat Kaltim,” tambahnya.

    Bahkan, kata dia, fakta-fakta yang sekalipun itu buruk dari salah satu paslon, juga perlu disampaikan. Hal ini menurutnya menjadi bahan pertimbangan masyarakat untuk memilih saat pemilihan nanti.

    Sementara itu, paslon kosong dua, Rudy-Seno sedari awal pencalonan selalu memberikan narasi untuk pendukungnya tetap memberikan suasana yang hangat.

    “Mari kita buktikan bahwa Kaltim bisa menunjukkan demokrasi yang terbaik. Kita bisa memastikan pemilu yang aman dan tenteram bagi semua. Maka dari itu, perlunya untuk saling beradu mengenai hal posisif, seperti halnya gagasan, visi misi untuk memimpin masyarakat Benua Etam,” ujar Rudy Mas’ud saat kampanye bersama relawan Rabu Biru di Samarinda, Rabu (25/9/2024).

    Narasi positif dari kedua paslon tersebut sebenarnya sudah didengungkan oleh para buzzer atau sebagai orang penyebar informasi kampanye seputar paslon. Namun, dalam hal ini pertarungan buzzer kedua paslon di media sosial mengganggu kestabilan iklim demokrasi di daerah ini.

    Adapun contoh buzzer yang paling sering ditemui di kolom komentar, yaitu memberikan narasi seolah-olah program kerja dari salah satu paslon tersebut tidak bisa akan pernah terlaksana. Giringan opini tersebut semakin liar hingga menjerumus kepada ujaran kebencian dan memancing warganet untuk berkomentar.

    Menanggapi itu, Pengamat Komunikasi Politik dari Dosen FISIP Universitas Mulawarman Syaiful Bachtiar menilai kinerja buzzer di media sosial. Ia menyebut ada buzzer yang diperuntukkan simpatisan paslon dan buzzer untuk menggiring opini. 

    Menurut Syaiful kinerja buzzer di media sosial dapat memberikan perhatian masyarakat ke paslon tertentu.

    "Bagi para buzzer, selama kebisingan di media sosial untuk memperkaya wawasan pengetahuan masyarakat terhadap para calon, itu jauh lebih posistif. Ketimbang buzzer yang mendiskriminasi, memotong video diluar batas kewajaran, dan bisa merugikan paslon tertentu," tutupnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Para Paslon Saling Beri Seruan untuk Tidak Lakukan Ujaran Kebencian, Tapi Buzzer Giring Opini Telah Bergerak

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    03 Oktober 2024 pukul 15:11 WITA

    Kedua Paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim yang sedang melakukan kampanye. (Foto: Maulana/Seoutarfakta.com)

    Samarinda - Sudah sepekan masa kampanye bergulir, kedua pasangan Calon (Paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur, baik paslon kosong satu Isran Noor-Hadi Mulyadi, maupun paslon kosong dua Rudy Mas’ud-Seno Aji sudah bergerak ke sejumlah daerah. 

    Dalam setiap kampanye terbuka maupun tertutup, kedua paslon ini selalu menitipkan pesan kepada para pendukungnya untuk bernarasi yang baik dan tidak memberikan ujaran kebencian kepada lawan politik.

    Isran Noor dalam acara pengukuhan partai koalisi pemenangan Isran-Hadi Samarinda, ia menyampaikan kepada pendukung untuk menceritakan kepada masyarakat informasi yang sebenarnya.  

    “Kepada semua tim sukses, kepada juru kampanye, kepada para relawan di dalam melaksanakan kampanye ada beberapa syarat yang tidak boleh dilakukan, jangan menghina lawan, jangan menjelekkan lawan, jangan memfitnah lawan,” jelas Isran, di Samarinda, Rabu (3/10/2024).

    Isran menambahkan hanya ada satu yang dibolehkan dalam kampanye. “Yang boleh hanya menceritakan fakta-fakta, kenapa? Kita harus memberikan informasi yang benar kepada masyarakat Kaltim,” tambahnya.

    Bahkan, kata dia, fakta-fakta yang sekalipun itu buruk dari salah satu paslon, juga perlu disampaikan. Hal ini menurutnya menjadi bahan pertimbangan masyarakat untuk memilih saat pemilihan nanti.

    Sementara itu, paslon kosong dua, Rudy-Seno sedari awal pencalonan selalu memberikan narasi untuk pendukungnya tetap memberikan suasana yang hangat.

    “Mari kita buktikan bahwa Kaltim bisa menunjukkan demokrasi yang terbaik. Kita bisa memastikan pemilu yang aman dan tenteram bagi semua. Maka dari itu, perlunya untuk saling beradu mengenai hal posisif, seperti halnya gagasan, visi misi untuk memimpin masyarakat Benua Etam,” ujar Rudy Mas’ud saat kampanye bersama relawan Rabu Biru di Samarinda, Rabu (25/9/2024).

    Narasi positif dari kedua paslon tersebut sebenarnya sudah didengungkan oleh para buzzer atau sebagai orang penyebar informasi kampanye seputar paslon. Namun, dalam hal ini pertarungan buzzer kedua paslon di media sosial mengganggu kestabilan iklim demokrasi di daerah ini.

    Adapun contoh buzzer yang paling sering ditemui di kolom komentar, yaitu memberikan narasi seolah-olah program kerja dari salah satu paslon tersebut tidak bisa akan pernah terlaksana. Giringan opini tersebut semakin liar hingga menjerumus kepada ujaran kebencian dan memancing warganet untuk berkomentar.

    Menanggapi itu, Pengamat Komunikasi Politik dari Dosen FISIP Universitas Mulawarman Syaiful Bachtiar menilai kinerja buzzer di media sosial. Ia menyebut ada buzzer yang diperuntukkan simpatisan paslon dan buzzer untuk menggiring opini. 

    Menurut Syaiful kinerja buzzer di media sosial dapat memberikan perhatian masyarakat ke paslon tertentu.

    "Bagi para buzzer, selama kebisingan di media sosial untuk memperkaya wawasan pengetahuan masyarakat terhadap para calon, itu jauh lebih posistif. Ketimbang buzzer yang mendiskriminasi, memotong video diluar batas kewajaran, dan bisa merugikan paslon tertentu," tutupnya.

    (Sf/Rs)