Cari disini...
Seputar Kaltim
Rapat koordinasi optimalisasi serapan gabah semester II 2026 di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Babulu, Kamis (9/7/2026). (Foto: Distan PPU/Seputarfakta.com)
Penajam - Potensi panen padi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencapai sekitar 22 ribu ton pada Agustus 2026. Dinas Pertanian memperkirakan 14 ribu ton di antaranya tidak akan terserap jika kuota pengadaan Bulog tidak bertambah.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam rapat koordinasi optimalisasi serapan gabah semester II tahun 2026 yang digelar Perum Bulog Kantor Wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Babulu, Kamis (9/7/2026).
Kepala Dinas Pertanian PPU, Rozihan Asward mengatakan luas tambah tanam tahun ini mencapai sekitar 6.500 hektare. Potensi panen yang besar itu perlu diimbangi kepastian serapan dari Bulog agar gabah petani tidak menumpuk saat musim panen tiba.
"Kalau mengacu luas tambah tanam dan proyeksi panen, ada sekitar 14 ribu ton gabah yang kemungkinan tidak terserap. Kami berharap Bulog bisa memberi informasi lebih awal soal kuota serapan supaya langkah antisipasi bisa disiapkan," katanya.
Data Bulog menunjukkan hingga semester pertama 2026 serapan gabah di wilayah kerja Paser-PPU baru mencapai 10.951,9 ton atau 59,57 persen dari target 18.385 ton. Artinya masih ada sekitar 7.433 ton yang harus dipenuhi pada semester kedua.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kaltim-Kaltara, Musazdin Said menilai peluang memenuhi target masih terbuka karena PPU akan memasuki puncak panen dalam waktu dekat.
Yang menjadi perhatian justru kualitas gabah. Rendemen padi di PPU masih berada di angka 42 persen, lebih rendah dari target 45 persen.
"Peran penyuluh, Perpadi dan tim jemput gabah sangat penting. Penentuan waktu panen dan penanganan pascapanen harus tepat supaya kualitas gabah meningkat dan bisa diserap maksimal," ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Perpadi PPU, Kosidin menyatakan siap membantu menyerap gabah petani yang belum tertampung Bulog. Gabah itu akan diolah menjadi beras giling lokal dengan harga pembelian yang disamakan dengan harga Bulog.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Rapat koordinasi optimalisasi serapan gabah semester II 2026 di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Babulu, Kamis (9/7/2026). (Foto: Distan PPU/Seputarfakta.com)
Penajam - Potensi panen padi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencapai sekitar 22 ribu ton pada Agustus 2026. Dinas Pertanian memperkirakan 14 ribu ton di antaranya tidak akan terserap jika kuota pengadaan Bulog tidak bertambah.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam rapat koordinasi optimalisasi serapan gabah semester II tahun 2026 yang digelar Perum Bulog Kantor Wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Babulu, Kamis (9/7/2026).
Kepala Dinas Pertanian PPU, Rozihan Asward mengatakan luas tambah tanam tahun ini mencapai sekitar 6.500 hektare. Potensi panen yang besar itu perlu diimbangi kepastian serapan dari Bulog agar gabah petani tidak menumpuk saat musim panen tiba.
"Kalau mengacu luas tambah tanam dan proyeksi panen, ada sekitar 14 ribu ton gabah yang kemungkinan tidak terserap. Kami berharap Bulog bisa memberi informasi lebih awal soal kuota serapan supaya langkah antisipasi bisa disiapkan," katanya.
Data Bulog menunjukkan hingga semester pertama 2026 serapan gabah di wilayah kerja Paser-PPU baru mencapai 10.951,9 ton atau 59,57 persen dari target 18.385 ton. Artinya masih ada sekitar 7.433 ton yang harus dipenuhi pada semester kedua.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kaltim-Kaltara, Musazdin Said menilai peluang memenuhi target masih terbuka karena PPU akan memasuki puncak panen dalam waktu dekat.
Yang menjadi perhatian justru kualitas gabah. Rendemen padi di PPU masih berada di angka 42 persen, lebih rendah dari target 45 persen.
"Peran penyuluh, Perpadi dan tim jemput gabah sangat penting. Penentuan waktu panen dan penanganan pascapanen harus tepat supaya kualitas gabah meningkat dan bisa diserap maksimal," ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Perpadi PPU, Kosidin menyatakan siap membantu menyerap gabah petani yang belum tertampung Bulog. Gabah itu akan diolah menjadi beras giling lokal dengan harga pembelian yang disamakan dengan harga Bulog.
(Sf/Lo)