Seputar Kaltim

    Palaran Masuk Level Kritis, Pemkot Samarinda Siapkan Cadangan Air Hadapi Intrusi Laut

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    11 September 2026 pukul 16:25 WITA

    Wali Kota Samarinda, Andi Harun. (Foto: Arsensia Serlyani/Seputarfakta.com)

    Samarinda– Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mulai mengaktifkan langkah mitigasi menghadapi ancaman kekeringan dan intrusi air laut, terutama di wilayah Palaran yang kini telah masuk level kritis.

    Perumda Tirta Kencana disiapkan untuk mengaktifkan distribusi air tangki apabila instalasi pengambilan air atau intake harus dihentikan akibat kadar klorida melampaui ambang batas.

    Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan Samarinda merupakan daerah yang rentan menghadapi kemarau panjang karena kondisi sumber air baku dapat terdampak intrusi air laut.

    Pengalaman pada 2015

    menjadi salah satu dasar pemerintah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kondisi serupa.

    “Nah, Samarinda itu adalah satu daerah yang sangat rentan terhadap potensi kekeringan lama atau kemarau panjang. Kenapa? Pengalaman di tahun-tahun lalu, terutama 2015, problem kita yang paling terbesar di air, karena sangat rentan terhadap intrusi,” ujar Andi Harun, Jumat (11/9/2026).

    Menurutnya, Pemkot Samarinda tidak hanya mengandalkan sumber air dari sistem distribusi utama.

    Pemerintah kini mengidentifikasi sumur bor milik warga di seluruh wilayah Samarinda untuk disiapkan sebagai sumber air cadangan apabila kondisi kekeringan memasuki level tertinggi.

    Identifikasi tersebut dilakukan lurah bersama unsur kewilayahan dengan dukungan Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kapolsek, dan Danramil.

    “Lurah berikut dapat dukungan dari Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kapolsek, dan Danramil, itu melakukan identifikasi terhadap semua sumur bor warga yang ada di seluruh pelosok Samarinda ini untuk bisa menjadi kekuatan cadangan,” ungkapnya.

    Andi Harun menjelaskan, Pemkot Samarinda memiliki empat tingkatan kondisi dalam menghadapi ancaman kekeringan, yakni normal, waspada, siaga, dan kritis.

    Status tersebut menjadi dasar pemerintah dalam menentukan langkah penanganan dan pengaktifan sumber daya cadangan.

    Untuk wilayah Palaran, menurut Andi Harun, kondisi telah masuk level kritis.

    Pemerintah pun mulai mengoperasikan skema distribusi air cadangan melalui tangki sebagai bagian dari langkah antisipasi.

    “Di Palaran sudah bergerak itu. Levelnya sudah level masuk pada level kritis. Kenapa? Karena kita sudah menyediakan tangki air,” katanya.

    Perumda Tirta Kencana, lanjutnya, juga telah menjalankan standar operasional prosedur (SOP) yang disiapkan pemerintah sejak beberapa pekan sebelumnya.

    SOP tersebut mengatur langkah yang dilakukan apabila sumber air baku tidak lagi memenuhi standar untuk diproduksi menjadi air bersih.

    Andi Harun mengatakan salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah kandungan klorida.

    Apabila kadar klorida

    pada intake melewati ambang batas 250 ppm akibat intrusi air laut, produksi air dari sumber tersebut harus dihentikan sementara.

    “Jadi jika ada intake kita yang off tidak bisa produksi air karena intrusi air laut yang menyebabkan kandungan klorida kita melewati ambang batas 250 ppm, ya, maka kita langsung off-kan,” jelasnya.

    Namun, penghentian produksi dari intake terdampak tidak berarti distribusi air berhenti sepenuhnya.

    Pemerintah telah menyiapkan langkah lanjutan berupa suplai air menggunakan tangki maupun skema distribusi lainnya.

    “Tapi tidak hanya kita off-kan, tapi langsung kita aktifkan suplai air tangki atau dalam bentuk lain,” tegas Andi Harun.

    Langkah tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan Pemkot Samarinda menghadapi potensi kemarau panjang.

    Pemerintah berupaya memastikan ketersediaan sumber air alternatif tetap terdata sehingga dapat segera digunakan ketika sumber air utama mengalami gangguan akibat intrusi air laut.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Palaran Masuk Level Kritis, Pemkot Samarinda Siapkan Cadangan Air Hadapi Intrusi Laut

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    11 September 2026 pukul 16:25 WITA

    Wali Kota Samarinda, Andi Harun. (Foto: Arsensia Serlyani/Seputarfakta.com)

    Samarinda– Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mulai mengaktifkan langkah mitigasi menghadapi ancaman kekeringan dan intrusi air laut, terutama di wilayah Palaran yang kini telah masuk level kritis.

    Perumda Tirta Kencana disiapkan untuk mengaktifkan distribusi air tangki apabila instalasi pengambilan air atau intake harus dihentikan akibat kadar klorida melampaui ambang batas.

    Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan Samarinda merupakan daerah yang rentan menghadapi kemarau panjang karena kondisi sumber air baku dapat terdampak intrusi air laut.

    Pengalaman pada 2015

    menjadi salah satu dasar pemerintah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kondisi serupa.

    “Nah, Samarinda itu adalah satu daerah yang sangat rentan terhadap potensi kekeringan lama atau kemarau panjang. Kenapa? Pengalaman di tahun-tahun lalu, terutama 2015, problem kita yang paling terbesar di air, karena sangat rentan terhadap intrusi,” ujar Andi Harun, Jumat (11/9/2026).

    Menurutnya, Pemkot Samarinda tidak hanya mengandalkan sumber air dari sistem distribusi utama.

    Pemerintah kini mengidentifikasi sumur bor milik warga di seluruh wilayah Samarinda untuk disiapkan sebagai sumber air cadangan apabila kondisi kekeringan memasuki level tertinggi.

    Identifikasi tersebut dilakukan lurah bersama unsur kewilayahan dengan dukungan Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kapolsek, dan Danramil.

    “Lurah berikut dapat dukungan dari Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kapolsek, dan Danramil, itu melakukan identifikasi terhadap semua sumur bor warga yang ada di seluruh pelosok Samarinda ini untuk bisa menjadi kekuatan cadangan,” ungkapnya.

    Andi Harun menjelaskan, Pemkot Samarinda memiliki empat tingkatan kondisi dalam menghadapi ancaman kekeringan, yakni normal, waspada, siaga, dan kritis.

    Status tersebut menjadi dasar pemerintah dalam menentukan langkah penanganan dan pengaktifan sumber daya cadangan.

    Untuk wilayah Palaran, menurut Andi Harun, kondisi telah masuk level kritis.

    Pemerintah pun mulai mengoperasikan skema distribusi air cadangan melalui tangki sebagai bagian dari langkah antisipasi.

    “Di Palaran sudah bergerak itu. Levelnya sudah level masuk pada level kritis. Kenapa? Karena kita sudah menyediakan tangki air,” katanya.

    Perumda Tirta Kencana, lanjutnya, juga telah menjalankan standar operasional prosedur (SOP) yang disiapkan pemerintah sejak beberapa pekan sebelumnya.

    SOP tersebut mengatur langkah yang dilakukan apabila sumber air baku tidak lagi memenuhi standar untuk diproduksi menjadi air bersih.

    Andi Harun mengatakan salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah kandungan klorida.

    Apabila kadar klorida

    pada intake melewati ambang batas 250 ppm akibat intrusi air laut, produksi air dari sumber tersebut harus dihentikan sementara.

    “Jadi jika ada intake kita yang off tidak bisa produksi air karena intrusi air laut yang menyebabkan kandungan klorida kita melewati ambang batas 250 ppm, ya, maka kita langsung off-kan,” jelasnya.

    Namun, penghentian produksi dari intake terdampak tidak berarti distribusi air berhenti sepenuhnya.

    Pemerintah telah menyiapkan langkah lanjutan berupa suplai air menggunakan tangki maupun skema distribusi lainnya.

    “Tapi tidak hanya kita off-kan, tapi langsung kita aktifkan suplai air tangki atau dalam bentuk lain,” tegas Andi Harun.

    Langkah tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan Pemkot Samarinda menghadapi potensi kemarau panjang.

    Pemerintah berupaya memastikan ketersediaan sumber air alternatif tetap terdata sehingga dapat segera digunakan ketika sumber air utama mengalami gangguan akibat intrusi air laut.

    (Sf/Rs)