Seputar Kaltim

    Padi Gunung Kongbeng Menyusut, Sawah Jadi Andalan Petani Penuhi Kebutuhan Pangan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    16 Oktober 2026 pukul 15:18 WITA

    Camat Kongbeng, Petrus Ivung. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Pertanian padi di Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), mengalami perubahan seiring menyusutnya tanaman padi gunung akibat larangan membuka lahan dengan cara membakar.

    Di sisi lain, persawahan tetap berkembang dan memungkinkan petani menanam padi hingga dua kali dalam setahun.

    Camat Kongbeng, Petrus Ivung mengatakan, penyusutan padi gunung terjadi sejak diberlakukannya larangan membuka lahan dengan cara membakar.

    “Setelah ada larangan membuka lahan dengan cara membakar, padi gunung itu langsung turun drastis,” ujar Petrus.

    Ia menjelaskan, beberapa tahun lalu luas tanaman padi gunung di Kongbeng diperkirakan mencapai 20 hektare atau lebih. Namun, saat ini luasnya telah menyusut hingga tidak mencapai beberapa hektare.

    Meski tanaman padi gunung berkurang, pertanian padi di Kongbeng tetap berjalan melalui persawahan yang menurut Petrus justru semakin luas.

    “Kalau sekarang tidak sampai beberapa hektare lah. Sudah turun ya. Sudah turun, tetapi persawahan itu tetap. Malah luas lagi,” tuturnya.

    Petrus menyebutkan, setiap keluarga petani rata-rata menggarap sawah seluas setengah hingga satu hektare. Lahan tersebut dapat ditanami dua kali dalam setahun untuk menunjang kebutuhan pangan keluarga.

    “Kalau dikatakan cukup, mungkin cukup, karena mereka sudah menanam dua kali dalam satu tahun,” katanya.

    Selain untuk konsumsi keluarga, sebagian hasil panen dipasarkan melalui badan usaha milik desa (BUMDes). Petani menyerahkan hasil panen kepada BUMDes untuk kemudian dijual kepada perusahaan.

    “Jadi petani ini kasih ke BUMDes, BUMDes yang lanjut lagi dijual ke perusahaan-perusahaan gitu,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Padi Gunung Kongbeng Menyusut, Sawah Jadi Andalan Petani Penuhi Kebutuhan Pangan

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    16 Oktober 2026 pukul 15:18 WITA

    Camat Kongbeng, Petrus Ivung. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Pertanian padi di Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), mengalami perubahan seiring menyusutnya tanaman padi gunung akibat larangan membuka lahan dengan cara membakar.

    Di sisi lain, persawahan tetap berkembang dan memungkinkan petani menanam padi hingga dua kali dalam setahun.

    Camat Kongbeng, Petrus Ivung mengatakan, penyusutan padi gunung terjadi sejak diberlakukannya larangan membuka lahan dengan cara membakar.

    “Setelah ada larangan membuka lahan dengan cara membakar, padi gunung itu langsung turun drastis,” ujar Petrus.

    Ia menjelaskan, beberapa tahun lalu luas tanaman padi gunung di Kongbeng diperkirakan mencapai 20 hektare atau lebih. Namun, saat ini luasnya telah menyusut hingga tidak mencapai beberapa hektare.

    Meski tanaman padi gunung berkurang, pertanian padi di Kongbeng tetap berjalan melalui persawahan yang menurut Petrus justru semakin luas.

    “Kalau sekarang tidak sampai beberapa hektare lah. Sudah turun ya. Sudah turun, tetapi persawahan itu tetap. Malah luas lagi,” tuturnya.

    Petrus menyebutkan, setiap keluarga petani rata-rata menggarap sawah seluas setengah hingga satu hektare. Lahan tersebut dapat ditanami dua kali dalam setahun untuk menunjang kebutuhan pangan keluarga.

    “Kalau dikatakan cukup, mungkin cukup, karena mereka sudah menanam dua kali dalam satu tahun,” katanya.

    Selain untuk konsumsi keluarga, sebagian hasil panen dipasarkan melalui badan usaha milik desa (BUMDes). Petani menyerahkan hasil panen kepada BUMDes untuk kemudian dijual kepada perusahaan.

    “Jadi petani ini kasih ke BUMDes, BUMDes yang lanjut lagi dijual ke perusahaan-perusahaan gitu,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)