Cari disini...
Seputar Kaltim
Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) PPU, Andy Sunra Satriady Sumaryo. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)
Penajam - Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Pelabuhan Buluminung, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terancam tidak tercapai tahun ini.
Hingga akhir Juni 2026, realisasi pendapatan baru menyentuh Rp1,2 miliar, jauh di bawah capaian periode yang sama tahun lalu, telah mencapai sekitar Rp3 miliar hingga Rp4 miliar.
Sekretaris Dinas Perhubungan PPU, Andy Sunra Satriady Sumaryo, mengatakan kondisi tersebut dipicu merosotnya aktivitas bongkar muat batu bara yang selama ini menjadi penyumbang terbesar pendapatan pelabuhan.
"Target kita Rp8 miliar. Kemungkinan tidak tercapai sehingga nanti akan dilakukan penyesuaian," katanya, Senin (6/7/2026).
Andy menjelaskan, aktivitas pemuatan batu bara turun lebih dari 50 persen. Bahkan hingga pertengahan tahun ini belum ada lagi kegiatan loading batu bara di Pelabuhan Buluminung.
Menurutnya, penurunan itu dipengaruhi kebijakan pemerintah terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor pertambangan yang berdampak pada aktivitas pengiriman batu bara.
"Sekarang hampir tidak ada loading batu bara. Padahal selama ini kontribusi terbesar pendapatan pelabuhan berasal dari komoditas itu," ujarnya.
Ia mengatakan aktivitas bongkar muat Crude Palm Oil (CPO) masih berjalan normal, tetapi nilainya belum mampu menutup penurunan pendapatan dari batu bara.
Sekali pemuatan batu bara, kata Andy, volume muatan dapat mencapai sekitar 7.500 ton, sedangkan CPO rata-rata hanya 2.500 ton atau sekitar sepertiganya.
"Kalau CPO memang tetap jalan, tetapi kontribusinya tidak sebesar batu bara. Batu bara dua sampai tiga kali loading saja setara sekitar sembilan kali pengiriman CPO," jelasnya.
Pada 2025 lalu, PAD Pelabuhan Buluminung masih mampu mencapai sekitar Rp6 miliar karena aktivitas pengiriman batu bara masih berlangsung. Tahun ini, kondisi tersebut berubah sehingga target pendapatan sebesar Rp8 miliar diperkirakan sulit terealisasi.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) PPU, Andy Sunra Satriady Sumaryo. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)
Penajam - Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Pelabuhan Buluminung, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terancam tidak tercapai tahun ini.
Hingga akhir Juni 2026, realisasi pendapatan baru menyentuh Rp1,2 miliar, jauh di bawah capaian periode yang sama tahun lalu, telah mencapai sekitar Rp3 miliar hingga Rp4 miliar.
Sekretaris Dinas Perhubungan PPU, Andy Sunra Satriady Sumaryo, mengatakan kondisi tersebut dipicu merosotnya aktivitas bongkar muat batu bara yang selama ini menjadi penyumbang terbesar pendapatan pelabuhan.
"Target kita Rp8 miliar. Kemungkinan tidak tercapai sehingga nanti akan dilakukan penyesuaian," katanya, Senin (6/7/2026).
Andy menjelaskan, aktivitas pemuatan batu bara turun lebih dari 50 persen. Bahkan hingga pertengahan tahun ini belum ada lagi kegiatan loading batu bara di Pelabuhan Buluminung.
Menurutnya, penurunan itu dipengaruhi kebijakan pemerintah terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor pertambangan yang berdampak pada aktivitas pengiriman batu bara.
"Sekarang hampir tidak ada loading batu bara. Padahal selama ini kontribusi terbesar pendapatan pelabuhan berasal dari komoditas itu," ujarnya.
Ia mengatakan aktivitas bongkar muat Crude Palm Oil (CPO) masih berjalan normal, tetapi nilainya belum mampu menutup penurunan pendapatan dari batu bara.
Sekali pemuatan batu bara, kata Andy, volume muatan dapat mencapai sekitar 7.500 ton, sedangkan CPO rata-rata hanya 2.500 ton atau sekitar sepertiganya.
"Kalau CPO memang tetap jalan, tetapi kontribusinya tidak sebesar batu bara. Batu bara dua sampai tiga kali loading saja setara sekitar sembilan kali pengiriman CPO," jelasnya.
Pada 2025 lalu, PAD Pelabuhan Buluminung masih mampu mencapai sekitar Rp6 miliar karena aktivitas pengiriman batu bara masih berlangsung. Tahun ini, kondisi tersebut berubah sehingga target pendapatan sebesar Rp8 miliar diperkirakan sulit terealisasi.
(Sf/Lo)