Seputar Kaltim

    Otorita IKN Ungkap Tantangan Besar Pembangunan Nusantara di Hadapan Akademisi ITB

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    10 Mei 2026 pukul 13:04 WITA

    Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) membutuhkan perencanaan yang detail dan pengawasan yang konsisten agar proyek berjalan sesuai target. (Foto: Otorita/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak hanya soal membangun gedung pemerintahan baru, tetapi juga menghadapi tantangan besar dalam perencanaan, koordinasi, hingga pengendalian proyek berskala nasional.

    Hal itu disampaikan Staff Khusus Kepala Otorita IKN, Bidang Manajemen Kebijakan dan Strategi Kontruksi, Danis Hidayat Sumadilaga saat menjadi narasumber dalam kuliah tamu Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung bertema Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan IKN. 

    Dalam forum yang dihadiri lebih dari 200 peserta tersebut, Danis menekankan pembangunan IKN membutuhkan perencanaan yang detail dan pengawasan yang konsisten agar proyek berjalan sesuai target.

    Menurutnya, kompleksitas pembangunan IKN terlihat dari banyaknya proyek yang harus dikerjakan secara bersamaan. Pada tahap awal saja, terdapat 115 paket konstruksi di kawasan inti IKN, ditambah pembangunan infrastruktur pendukung di luar kawasan.

    “Infrastruktur yang dibangun bukan hanya gedung pemerintahan, tetapi juga jalan tol, bendungan, jaringan air minum, energi, telekomunikasi dan infrastruktur penunjang lainnya,” kata Danis dalam keterangan resminya, Minggu (10/5/2026).

    Ia menjelaskan, pembangunan tahap awal dilakukan oleh Kementerian PUPR sebelum dilanjutkan oleh Otorita IKN dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari kementerian dan lembaga, perguruan tinggi, hingga sektor swasta dalam dan luar negeri.

    Selain aspek teknis, Danis juga menyoroti pentingnya dasar regulasi dalam pembangunan ibu kota baru. “Seluruh proses pembangunan disusun secara bertahap melalui rencana induk, peraturan presiden, hingga Rencana Detail Tata Ruang (RDTR),” jelasnya.

    Ia mengatakan, pembangunan IKN juga mengusung konsep kota modern dan berkelanjutan dengan penerapan prinsip bangunan hijau, sistem kota cerdas, serta infrastruktur terintegrasi.

    “Semua dirancang dengan indikator yang terukur agar pembangunan bisa dikendalikan dan dievaluasi secara jelas,” terangnya.

    Dalam paparannya, Danis menjelaskan gagasan pemindahan ibu kota sebenarnya sudah muncul sejak era Presiden Soekarno. Pemindahan ibu kota dinilai penting untuk mengurangi beban Jakarta sekaligus mendorong pemerataan pembangunan di Indonesia.

    “Kuliah tamu juga membahas berbagai tantangan pembangunan IKN, mulai dari konektivitas wilayah, pengelolaan lahan, pembiayaan, energi, hingga kebutuhan sumber daya manusia di bidang infrastruktur,” paparnya.

    Di akhir pemaparannya, dia mengingatkan generasi muda, khususnya mahasiswa teknik, agar tidak hanya mengandalkan kemampuan akademik, tetapi juga memperkuat pengalaman lapangan, integritas dan jejaring profesional.

    “Kompetensi harus dibarengi pengalaman dan integritas. Selain itu, networking juga penting untuk menghadapi tantangan pembangunan ke depan,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Otorita IKN Ungkap Tantangan Besar Pembangunan Nusantara di Hadapan Akademisi ITB

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    10 Mei 2026 pukul 13:04 WITA

    Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) membutuhkan perencanaan yang detail dan pengawasan yang konsisten agar proyek berjalan sesuai target. (Foto: Otorita/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak hanya soal membangun gedung pemerintahan baru, tetapi juga menghadapi tantangan besar dalam perencanaan, koordinasi, hingga pengendalian proyek berskala nasional.

    Hal itu disampaikan Staff Khusus Kepala Otorita IKN, Bidang Manajemen Kebijakan dan Strategi Kontruksi, Danis Hidayat Sumadilaga saat menjadi narasumber dalam kuliah tamu Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung bertema Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan IKN. 

    Dalam forum yang dihadiri lebih dari 200 peserta tersebut, Danis menekankan pembangunan IKN membutuhkan perencanaan yang detail dan pengawasan yang konsisten agar proyek berjalan sesuai target.

    Menurutnya, kompleksitas pembangunan IKN terlihat dari banyaknya proyek yang harus dikerjakan secara bersamaan. Pada tahap awal saja, terdapat 115 paket konstruksi di kawasan inti IKN, ditambah pembangunan infrastruktur pendukung di luar kawasan.

    “Infrastruktur yang dibangun bukan hanya gedung pemerintahan, tetapi juga jalan tol, bendungan, jaringan air minum, energi, telekomunikasi dan infrastruktur penunjang lainnya,” kata Danis dalam keterangan resminya, Minggu (10/5/2026).

    Ia menjelaskan, pembangunan tahap awal dilakukan oleh Kementerian PUPR sebelum dilanjutkan oleh Otorita IKN dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari kementerian dan lembaga, perguruan tinggi, hingga sektor swasta dalam dan luar negeri.

    Selain aspek teknis, Danis juga menyoroti pentingnya dasar regulasi dalam pembangunan ibu kota baru. “Seluruh proses pembangunan disusun secara bertahap melalui rencana induk, peraturan presiden, hingga Rencana Detail Tata Ruang (RDTR),” jelasnya.

    Ia mengatakan, pembangunan IKN juga mengusung konsep kota modern dan berkelanjutan dengan penerapan prinsip bangunan hijau, sistem kota cerdas, serta infrastruktur terintegrasi.

    “Semua dirancang dengan indikator yang terukur agar pembangunan bisa dikendalikan dan dievaluasi secara jelas,” terangnya.

    Dalam paparannya, Danis menjelaskan gagasan pemindahan ibu kota sebenarnya sudah muncul sejak era Presiden Soekarno. Pemindahan ibu kota dinilai penting untuk mengurangi beban Jakarta sekaligus mendorong pemerataan pembangunan di Indonesia.

    “Kuliah tamu juga membahas berbagai tantangan pembangunan IKN, mulai dari konektivitas wilayah, pengelolaan lahan, pembiayaan, energi, hingga kebutuhan sumber daya manusia di bidang infrastruktur,” paparnya.

    Di akhir pemaparannya, dia mengingatkan generasi muda, khususnya mahasiswa teknik, agar tidak hanya mengandalkan kemampuan akademik, tetapi juga memperkuat pengalaman lapangan, integritas dan jejaring profesional.

    “Kompetensi harus dibarengi pengalaman dan integritas. Selain itu, networking juga penting untuk menghadapi tantangan pembangunan ke depan,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)