Cari disini...
Seputarfakta.com - Tria -
Seputar Kaltim
Kelompok Solider dari Sigab Indonesia, Senin (9/9/2024). (Foto:Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Program Officer Nasional dari Supporting Opportunities for Livelihood, Inclusion, and Empowerment for Persons with Disabilities (SOLIDER), Kuni Fatonah, menekankan pentingnya perubahan cara pandang terhadap kaum difabel di masyarakat.
Menurutnya, kaum difabel sering kali dianggap sebagai kelompok yang rentan dan hanya membutuhkan bantuan, padahal mereka memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia kerja.
Kuni menjelaskan bahwa perubahan cara pandang ini dapat membawa dampak positif yang signifikan bagi inklusi sosial dan ekonomi kaum difabel. Dengan cara pandang yang lebih inklusif, masyarakat diharapkan dapat melihat kaum difabel sebagai individu yang setara dan memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan.
Salah satu inisiatif yang diusung SOLIDER untuk mengatasi masalah ini adalah melalui program Gender Equity, Disability, and Social Inclusion (GEDSI). Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, tetapi juga memperkuat pemberdayaan dan inklusi sosial di berbagai lapisan masyarakat. GEDSI bertujuan menciptakan kesetaraan di ruang ekonomi bagi difabel dengan membangun kapasitas mereka agar mampu bersaing di dunia kerja, serta menanamkan nilai inklusi di lingkungan kerja.
“Melalui program ini, kita membangun kapasitas difabel agar mereka mampu bersaing di dunia kerja, serta menanamkan nilai inklusi di lingkungan kerja mereka,” ungkap Kuni.
Salah satu aspek penting dalam program GEDSI adalah perubahan penggunaan istilah dalam merujuk pada kelompok disabilitas. Alih-alih menggunakan istilah "penyandang cacat", program ini mendorong penggunaan sebutan "difabel", yang diharapkan dapat menggeser pandangan masyarakat menjadi lebih positif dan setara.
“Ini bukan sekadar soal istilah, tetapi tentang bagaimana kita mulai melihat difabel sebagai bagian dari keberagaman yang setara,” tambah Kuni.
Selain itu, GEDSI juga menyoroti peran penting media dalam membentuk opini publik tentang difabel. Kuni berharap media tidak hanya memposisikan difabel sebagai kelompok rentan, tetapi juga sebagai individu yang memiliki kemampuan dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, peran media yang positif dapat mengubah persepsi publik dan membuka lebih banyak peluang inklusif bagi difabel.
Dengan pendekatan inklusi sosial yang lebih holistik dan penekanan pada perubahan persepsi, program GEDSI diharapkan dapat membawa dampak nyata bagi kesetaraan difabel di Indonesia, baik dalam dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari.
"Kami optimis bahwa dengan komitmen bersama dari berbagai pihak, kesetaraan dan inklusi adalah tujuan yang bisa dicapai," tandas Kuni.
Namun, Kuni juga menegaskan bahwa tantangan besar masih menghadang upaya pencapaian kesetaraan bagi difabel. Diskriminasi serta minimnya aksesibilitas menjadi hambatan utama yang perlu diatasi.
"Inklusi sosial bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga tentang menciptakan ekosistem yang mendukung bagi difabel," ujarnya.
Program GEDSI menjadi salah satu langkah penting dalam upaya menciptakan masyarakat yang lebih inklusif. Difabel tidak lagi hanya dianggap sebagai kelompok yang membutuhkan bantuan, tetapi sebagai individu yang memiliki potensi dan hak yang sama dalam berkontribusi untuk pembangunan negara.
Pihaknya juga berharap peran pemerintah setempat dapat lebih maksimal soal keterlibatan difabel dalam berbagai sektor. Ia juga berencana akan membentuk kelurahan inklusi di Samarinda. Sejauh ini sudah terdapat enam kelurahan di antaranya yakni Kelurahan Bandara, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Tria -
Seputar Kaltim

Kelompok Solider dari Sigab Indonesia, Senin (9/9/2024). (Foto:Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Program Officer Nasional dari Supporting Opportunities for Livelihood, Inclusion, and Empowerment for Persons with Disabilities (SOLIDER), Kuni Fatonah, menekankan pentingnya perubahan cara pandang terhadap kaum difabel di masyarakat.
Menurutnya, kaum difabel sering kali dianggap sebagai kelompok yang rentan dan hanya membutuhkan bantuan, padahal mereka memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia kerja.
Kuni menjelaskan bahwa perubahan cara pandang ini dapat membawa dampak positif yang signifikan bagi inklusi sosial dan ekonomi kaum difabel. Dengan cara pandang yang lebih inklusif, masyarakat diharapkan dapat melihat kaum difabel sebagai individu yang setara dan memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan.
Salah satu inisiatif yang diusung SOLIDER untuk mengatasi masalah ini adalah melalui program Gender Equity, Disability, and Social Inclusion (GEDSI). Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, tetapi juga memperkuat pemberdayaan dan inklusi sosial di berbagai lapisan masyarakat. GEDSI bertujuan menciptakan kesetaraan di ruang ekonomi bagi difabel dengan membangun kapasitas mereka agar mampu bersaing di dunia kerja, serta menanamkan nilai inklusi di lingkungan kerja.
“Melalui program ini, kita membangun kapasitas difabel agar mereka mampu bersaing di dunia kerja, serta menanamkan nilai inklusi di lingkungan kerja mereka,” ungkap Kuni.
Salah satu aspek penting dalam program GEDSI adalah perubahan penggunaan istilah dalam merujuk pada kelompok disabilitas. Alih-alih menggunakan istilah "penyandang cacat", program ini mendorong penggunaan sebutan "difabel", yang diharapkan dapat menggeser pandangan masyarakat menjadi lebih positif dan setara.
“Ini bukan sekadar soal istilah, tetapi tentang bagaimana kita mulai melihat difabel sebagai bagian dari keberagaman yang setara,” tambah Kuni.
Selain itu, GEDSI juga menyoroti peran penting media dalam membentuk opini publik tentang difabel. Kuni berharap media tidak hanya memposisikan difabel sebagai kelompok rentan, tetapi juga sebagai individu yang memiliki kemampuan dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, peran media yang positif dapat mengubah persepsi publik dan membuka lebih banyak peluang inklusif bagi difabel.
Dengan pendekatan inklusi sosial yang lebih holistik dan penekanan pada perubahan persepsi, program GEDSI diharapkan dapat membawa dampak nyata bagi kesetaraan difabel di Indonesia, baik dalam dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari.
"Kami optimis bahwa dengan komitmen bersama dari berbagai pihak, kesetaraan dan inklusi adalah tujuan yang bisa dicapai," tandas Kuni.
Namun, Kuni juga menegaskan bahwa tantangan besar masih menghadang upaya pencapaian kesetaraan bagi difabel. Diskriminasi serta minimnya aksesibilitas menjadi hambatan utama yang perlu diatasi.
"Inklusi sosial bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga tentang menciptakan ekosistem yang mendukung bagi difabel," ujarnya.
Program GEDSI menjadi salah satu langkah penting dalam upaya menciptakan masyarakat yang lebih inklusif. Difabel tidak lagi hanya dianggap sebagai kelompok yang membutuhkan bantuan, tetapi sebagai individu yang memiliki potensi dan hak yang sama dalam berkontribusi untuk pembangunan negara.
Pihaknya juga berharap peran pemerintah setempat dapat lebih maksimal soal keterlibatan difabel dalam berbagai sektor. Ia juga berencana akan membentuk kelurahan inklusi di Samarinda. Sejauh ini sudah terdapat enam kelurahan di antaranya yakni Kelurahan Bandara, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda.
(Sf/Rs)