Cari disini...
Seputarfakta.com-Lisda -
Seputar Kaltim
Psikolog Pendidikan, Fufahanna. (Foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Psikolog Pendidikan Fuffahana, mengingatkan para orang tua agar lebih waspada terhadap penggunaan gadget pada anak.
Ia menegaskan bahwa meskipun teknologi membawa banyak manfaat dalam proses belajar, penggunaannya tanpa pengawasan bisa berdampak negatif bagi perkembangan anak.
"Semua hal pasti ada sisi positif dan negatifnya, termasuk penggunaan gadget," ujar Fufahanna usai menghadiri seminar memperingati Hari Anak Nasional (HAN) ke-41 beberapa waktu lalu.
Menurutnya, teknologi digital saat ini sangat membantu anak dalam belajar. Banyak materi pelajaran kini bisa diakses dengan mudah secara online. Kontennya pun menarik, seringkali disertai lagu atau gerakan yang membuat anak lebih cepat memahami materi.
“Anak-anak sekarang lebih gampang belajar lewat media digital. Mereka juga bisa jadi lebih kreatif,” tambahnya.
Namun, di balik manfaat tersebut, ada sejumlah risiko yang perlu diperhatikan. Salah satu yang paling umum iyalah masalah kesehatan mata. Banyak anak menatap layar terlalu lama tanpa berkedip, yang dapat menyebabkan mata kering dan iritasi.
"Untuk orang tua, Kalau anaknya lihat HP, pastikan anak sering berkedip. Jangan sampai matanya rusak karena terlalu lama menatap layar terang," imbaunya.
Selain itu, Fufahanna menyoroti pentingnya memperhatikan konten yang diakses anak. Saat ini banyak sekali konten tidak layak untuk usia mereka, seperti kekerasan, pornografi, bahkan informasi yang bisa memengaruhi cara berpikir mereka.
“Anak-anak sekarang suka membandingkan apa yang mereka lihat di media sosial dengan kenyataan di rumah. Ini bisa membuat mereka bingung atau kecewa,” jelasnya.
Untuk itu, ia menyarankan agar orang tua tidak membiarkan anak bermain HP sendirian di kamar. Lebih baik jika anak menggunakan HP di ruang terbuka yang bisa dipantau.
“Kita juga bisa cek riwayat atau history di HP anak, jadi tahu apa saja yang mereka buka,” katanya.
Penggunaan aplikasi pengaman juga disarankan, seperti aplikasi yang dapat memblokir atau membatasi akses ke situs-situs tertentu. Selain itu, pilihlah aplikasi belajar yang aman dan bebas dari iklan.
Fufahanna juga menekankan bahwa pengawasan bukan hanya tanggung jawab orang tua saja. Sekolah dan guru juga harus ikut berperan. Komunikasi yang baik antara anak, guru, dan orang tua sangat diperlukan.
Ia mengingatkan agar orang tua tidak hanya fokus pada larangan. Anak juga perlu diberi pemahaman dan arahan yang benar.
“Orang tua sering kali lupa bahwa anak perlu diarahkan, bukan hanya dilarang. Anak itu butuh tahu seperti apa seharusnya mereka bersikap,” pungkasnya.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com-Lisda -
Seputar Kaltim

Psikolog Pendidikan, Fufahanna. (Foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Psikolog Pendidikan Fuffahana, mengingatkan para orang tua agar lebih waspada terhadap penggunaan gadget pada anak.
Ia menegaskan bahwa meskipun teknologi membawa banyak manfaat dalam proses belajar, penggunaannya tanpa pengawasan bisa berdampak negatif bagi perkembangan anak.
"Semua hal pasti ada sisi positif dan negatifnya, termasuk penggunaan gadget," ujar Fufahanna usai menghadiri seminar memperingati Hari Anak Nasional (HAN) ke-41 beberapa waktu lalu.
Menurutnya, teknologi digital saat ini sangat membantu anak dalam belajar. Banyak materi pelajaran kini bisa diakses dengan mudah secara online. Kontennya pun menarik, seringkali disertai lagu atau gerakan yang membuat anak lebih cepat memahami materi.
“Anak-anak sekarang lebih gampang belajar lewat media digital. Mereka juga bisa jadi lebih kreatif,” tambahnya.
Namun, di balik manfaat tersebut, ada sejumlah risiko yang perlu diperhatikan. Salah satu yang paling umum iyalah masalah kesehatan mata. Banyak anak menatap layar terlalu lama tanpa berkedip, yang dapat menyebabkan mata kering dan iritasi.
"Untuk orang tua, Kalau anaknya lihat HP, pastikan anak sering berkedip. Jangan sampai matanya rusak karena terlalu lama menatap layar terang," imbaunya.
Selain itu, Fufahanna menyoroti pentingnya memperhatikan konten yang diakses anak. Saat ini banyak sekali konten tidak layak untuk usia mereka, seperti kekerasan, pornografi, bahkan informasi yang bisa memengaruhi cara berpikir mereka.
“Anak-anak sekarang suka membandingkan apa yang mereka lihat di media sosial dengan kenyataan di rumah. Ini bisa membuat mereka bingung atau kecewa,” jelasnya.
Untuk itu, ia menyarankan agar orang tua tidak membiarkan anak bermain HP sendirian di kamar. Lebih baik jika anak menggunakan HP di ruang terbuka yang bisa dipantau.
“Kita juga bisa cek riwayat atau history di HP anak, jadi tahu apa saja yang mereka buka,” katanya.
Penggunaan aplikasi pengaman juga disarankan, seperti aplikasi yang dapat memblokir atau membatasi akses ke situs-situs tertentu. Selain itu, pilihlah aplikasi belajar yang aman dan bebas dari iklan.
Fufahanna juga menekankan bahwa pengawasan bukan hanya tanggung jawab orang tua saja. Sekolah dan guru juga harus ikut berperan. Komunikasi yang baik antara anak, guru, dan orang tua sangat diperlukan.
Ia mengingatkan agar orang tua tidak hanya fokus pada larangan. Anak juga perlu diberi pemahaman dan arahan yang benar.
“Orang tua sering kali lupa bahwa anak perlu diarahkan, bukan hanya dilarang. Anak itu butuh tahu seperti apa seharusnya mereka bersikap,” pungkasnya.
(Sf/Rs)