Cari disini...
Seputarfakta.com - Baiq Eliana -
Seputar Kaltim
Wisatawan susur sungai Pulau Besing, Kabupaten Berau. (Foto: Istimewa)
Tanjung Redeb - Kampung Pulau Besing di Kabupaten Berau terus mengoptimalkan potensi kampung melalui pengembangan wisata berbasis alam dan edukasi. Salah satu daya tarik yang kini ditawarkan adalah wisata susur sungai yang memungkinkan pengunjung melihat langsung Bekantan dan kalong di habitat aslinya.
Melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), masyarakat setempat menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya rekreatif, tetapi juga edukatif.
Ketua Pokdarwis Pulau Besing, Aprianto, menjelaskan bahwa kegiatan susur sungai ini menjadi unggulan karena menghadirkan interaksi langsung dengan satwa khas Kalimantan. Dimana, pihaknya menyediakan dua pilihan paket perjalanan untuk wisatawan.
"Kami menyediakan dua skema trip susur sungai, yaitu meeting point dari Pelabuhan Rajjanta Tanjung Redeb dengan harga Rp1,5 juta, dan dari pelabuhan Kampung Pulau Besing seharga Rp600 ribu, dengan kapasitas maksimal delapan orang," ujar Aprianto.
Dirinya pun menyampaikan bahwa dalam perjalanan tersebut, wisatawan dapat menyaksikan Bekantan yang dikenal sebagai primata endemik Kalimantan, serta kalong, yaitu kelelawar berukuran besar yang kerap terlihat di kawasan tersebut.
"Estimasi perjalanan susur sungai dapat tergantung dari banyaknya satwa yang di temui, tapi pada umumnya berkisar satu hingga satu setengah jam," tuturnya.
Ia mengatakan, pengembangan wisata di Kampung Pulau Besing juga melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah kampung hingga sektor swasta, terutama dalam penyediaan sarana dan prasarana pendukung. Selain itu, keterlibatan masyarakat lokal juga menjadi bagian penting dalam keberhasilan program tersebut.
"Kami melibatkan warga yang memiliki perahu untuk kegiatan susur sungai. Selain itu, masyarakat yang memiliki usaha atap nipah juga kami libatkan sebagai bagian dari atraksi wisata budaya," katanya.
Aprianto mengatakan meski kontribusi ekonomi yang dihasilkan saat ini masih relatif kecil, pihaknya tetap optimistis terhadap perkembangan ke depan. Berbagai upaya pun terus dilakukan, termasuk peningkatan fasilitas dan promosi melalui media sosial.
"Kami terus melakukan promosi dan berkoordinasi dengan dinas terkait. Fokus kami adalah meningkatkan fasilitas agar kenyamanan pengunjung tetap terjaga," tutupnya.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Baiq Eliana -
Seputar Kaltim

Wisatawan susur sungai Pulau Besing, Kabupaten Berau. (Foto: Istimewa)
Tanjung Redeb - Kampung Pulau Besing di Kabupaten Berau terus mengoptimalkan potensi kampung melalui pengembangan wisata berbasis alam dan edukasi. Salah satu daya tarik yang kini ditawarkan adalah wisata susur sungai yang memungkinkan pengunjung melihat langsung Bekantan dan kalong di habitat aslinya.
Melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), masyarakat setempat menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya rekreatif, tetapi juga edukatif.
Ketua Pokdarwis Pulau Besing, Aprianto, menjelaskan bahwa kegiatan susur sungai ini menjadi unggulan karena menghadirkan interaksi langsung dengan satwa khas Kalimantan. Dimana, pihaknya menyediakan dua pilihan paket perjalanan untuk wisatawan.
"Kami menyediakan dua skema trip susur sungai, yaitu meeting point dari Pelabuhan Rajjanta Tanjung Redeb dengan harga Rp1,5 juta, dan dari pelabuhan Kampung Pulau Besing seharga Rp600 ribu, dengan kapasitas maksimal delapan orang," ujar Aprianto.
Dirinya pun menyampaikan bahwa dalam perjalanan tersebut, wisatawan dapat menyaksikan Bekantan yang dikenal sebagai primata endemik Kalimantan, serta kalong, yaitu kelelawar berukuran besar yang kerap terlihat di kawasan tersebut.
"Estimasi perjalanan susur sungai dapat tergantung dari banyaknya satwa yang di temui, tapi pada umumnya berkisar satu hingga satu setengah jam," tuturnya.
Ia mengatakan, pengembangan wisata di Kampung Pulau Besing juga melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah kampung hingga sektor swasta, terutama dalam penyediaan sarana dan prasarana pendukung. Selain itu, keterlibatan masyarakat lokal juga menjadi bagian penting dalam keberhasilan program tersebut.
"Kami melibatkan warga yang memiliki perahu untuk kegiatan susur sungai. Selain itu, masyarakat yang memiliki usaha atap nipah juga kami libatkan sebagai bagian dari atraksi wisata budaya," katanya.
Aprianto mengatakan meski kontribusi ekonomi yang dihasilkan saat ini masih relatif kecil, pihaknya tetap optimistis terhadap perkembangan ke depan. Berbagai upaya pun terus dilakukan, termasuk peningkatan fasilitas dan promosi melalui media sosial.
"Kami terus melakukan promosi dan berkoordinasi dengan dinas terkait. Fokus kami adalah meningkatkan fasilitas agar kenyamanan pengunjung tetap terjaga," tutupnya.
(Sf/Rs)