Cari disini...
Seputarfakta.com - Cindy -
Seputar Kaltim
Potret udara Pulau Gusung di Kabupaten PPU yang masuk kawasan pencadangan konservasi terumbu karang. (Foto: Istimewa)
Penajam - Pulau Gusung mulai dilirik sebagai destinasi wisata bahari di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Keindahan terumbu karang dan biota laut di kawasan yang berjarak sekitar 2,5 Kilometer (Km) dari Pantai Tanjung Jumlai itu disebut tak kalah dengan wisata bawah laut di Bontang hingga Maratua.
Meningkatnya kunjungan wisatawan membuat jasa open trip ke Pulau Gusung ikut berkembang. Situasi itu mulai menjadi perhatian Kelompok Masyarakat Peduli Konservasi (KOMPAK) Nusa Bahari PPU. Sebab Pulau Gusung masuk area pencadangan konservasi terumbu karang.
Sekretaris KOMPAK Nusa Bahari, M Razil Fauzan mengatakan meningkatnya aktivitas open trip dikhawatirkan berdampak pada upaya konservasi terumbu karang yang selama ini dijalankan masyarakat secara swadaya.
"KOMPAK peduli dengan kelangsungan dan keberlanjutan terumbu karang di sana. Dengan ramainya penyedia jasa perjalanan ke Gusung, menjadi kekhawatiran terhadap upaya konservasi yang kami lakukan," kata Fauzan, Selasa (5/5/2026).
Menurut dia, pemerintah daerah perlu mengambil langkah tegas dengan mengoordinasikan para penyedia jasa perjalanan wisata yang membawa pengunjung ke Pulau Gusung.
"Supaya diperketat, mengingat status Pulau Gusung masuk kawasan pencadangan konservasi," ujarnya.
Ia menilai, edukasi terhadap wisatawan menjadi hal penting yang harus diperhatikan para penyedia perjalanan wisata, khususnya terkait perlindungan ekosistem terumbu karang.
Fauzan menyebut, wisatawan perlu diberikan pemahaman agar tidak menyentuh maupun menginjak terumbu karang saat snorkeling atau menyelam. Selain itu, penggunaan sunscreen berbahan kimia secara berlebihan juga dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan karang.
"Kalau bahan kimia mengenai coral, dapat menyebabkan pemutihan karang atau coral bleaching hingga mati," jelasnya.
Apabila edukasi tersebut tidak dijalankan, maka upaya konservasi yang dilakukan masyarakat akan sia-sia.
"Edukasi itu penting. Kalau tour guide tidak dibekali untuk briefing peserta, akan sangat disayangkan. Kami konservasi di sana tapi dirusak oleh yang lain," tambahnya.
Selain perlindungan ekosistem, ia juga menyoroti aspek keselamatan wisatawan. Pemerintah dinilai perlu memastikan setiap penyedia perjalanan wisata memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas.
Mulai dari penyediaan life jacket hingga keberadaan pemandu wisata yang memiliki sertifikasi menyelam untuk mendampingi peserta snorkeling. "Minimal dua atau tiga guide punya sertifikasi supaya peserta merasa aman dan nyaman," ujarnya.
Sejauh ini, kata Fauzan, belum ada pembahasan serius terkait pengaturan aktivitas wisata di Pulau Gusung. Meski begitu, KOMPAK sempat turun bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) untuk membahas rencana pembangunan pos pemantauan di kawasan tersebut.
Ia berharap nantinya ada pengawasan yang lebih jelas terhadap titik kunjungan wisata, termasuk penentuan area snorkeling agar tidak mengganggu kawasan konservasi.
"Dengan status itu harusnya tidak bisa sembarangan lagi wisata kunjungan di titik tertentu, melainkan ada sendiri area snorkeling," tuturnya.
Lanjut dia, KOMPAK juga mendukung apabila pemda berencana mengembangkan fasilitas penunjang wisata bahari seperti cottage maupun dermaga, selama pembangunan tidak dilakukan di zona inti kawasan konservasi Pulau Gusung.
"Ada wacana pembangunan cottage dan dermaga, kami dukung tapi bukan di area inti Pulau Gusung, melainkan di sisi luarnya," pungkasnya.
(Sf/Lo)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Cindy -
Seputar Kaltim

Potret udara Pulau Gusung di Kabupaten PPU yang masuk kawasan pencadangan konservasi terumbu karang. (Foto: Istimewa)
Penajam - Pulau Gusung mulai dilirik sebagai destinasi wisata bahari di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Keindahan terumbu karang dan biota laut di kawasan yang berjarak sekitar 2,5 Kilometer (Km) dari Pantai Tanjung Jumlai itu disebut tak kalah dengan wisata bawah laut di Bontang hingga Maratua.
Meningkatnya kunjungan wisatawan membuat jasa open trip ke Pulau Gusung ikut berkembang. Situasi itu mulai menjadi perhatian Kelompok Masyarakat Peduli Konservasi (KOMPAK) Nusa Bahari PPU. Sebab Pulau Gusung masuk area pencadangan konservasi terumbu karang.
Sekretaris KOMPAK Nusa Bahari, M Razil Fauzan mengatakan meningkatnya aktivitas open trip dikhawatirkan berdampak pada upaya konservasi terumbu karang yang selama ini dijalankan masyarakat secara swadaya.
"KOMPAK peduli dengan kelangsungan dan keberlanjutan terumbu karang di sana. Dengan ramainya penyedia jasa perjalanan ke Gusung, menjadi kekhawatiran terhadap upaya konservasi yang kami lakukan," kata Fauzan, Selasa (5/5/2026).
Menurut dia, pemerintah daerah perlu mengambil langkah tegas dengan mengoordinasikan para penyedia jasa perjalanan wisata yang membawa pengunjung ke Pulau Gusung.
"Supaya diperketat, mengingat status Pulau Gusung masuk kawasan pencadangan konservasi," ujarnya.
Ia menilai, edukasi terhadap wisatawan menjadi hal penting yang harus diperhatikan para penyedia perjalanan wisata, khususnya terkait perlindungan ekosistem terumbu karang.
Fauzan menyebut, wisatawan perlu diberikan pemahaman agar tidak menyentuh maupun menginjak terumbu karang saat snorkeling atau menyelam. Selain itu, penggunaan sunscreen berbahan kimia secara berlebihan juga dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan karang.
"Kalau bahan kimia mengenai coral, dapat menyebabkan pemutihan karang atau coral bleaching hingga mati," jelasnya.
Apabila edukasi tersebut tidak dijalankan, maka upaya konservasi yang dilakukan masyarakat akan sia-sia.
"Edukasi itu penting. Kalau tour guide tidak dibekali untuk briefing peserta, akan sangat disayangkan. Kami konservasi di sana tapi dirusak oleh yang lain," tambahnya.
Selain perlindungan ekosistem, ia juga menyoroti aspek keselamatan wisatawan. Pemerintah dinilai perlu memastikan setiap penyedia perjalanan wisata memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas.
Mulai dari penyediaan life jacket hingga keberadaan pemandu wisata yang memiliki sertifikasi menyelam untuk mendampingi peserta snorkeling. "Minimal dua atau tiga guide punya sertifikasi supaya peserta merasa aman dan nyaman," ujarnya.
Sejauh ini, kata Fauzan, belum ada pembahasan serius terkait pengaturan aktivitas wisata di Pulau Gusung. Meski begitu, KOMPAK sempat turun bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) untuk membahas rencana pembangunan pos pemantauan di kawasan tersebut.
Ia berharap nantinya ada pengawasan yang lebih jelas terhadap titik kunjungan wisata, termasuk penentuan area snorkeling agar tidak mengganggu kawasan konservasi.
"Dengan status itu harusnya tidak bisa sembarangan lagi wisata kunjungan di titik tertentu, melainkan ada sendiri area snorkeling," tuturnya.
Lanjut dia, KOMPAK juga mendukung apabila pemda berencana mengembangkan fasilitas penunjang wisata bahari seperti cottage maupun dermaga, selama pembangunan tidak dilakukan di zona inti kawasan konservasi Pulau Gusung.
"Ada wacana pembangunan cottage dan dermaga, kami dukung tapi bukan di area inti Pulau Gusung, melainkan di sisi luarnya," pungkasnya.
(Sf/Lo)