Cari disini...
Seputar Kaltim
Wali Kota Samarinda, Andi Harun. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Sampah masih jadi persoalan yang masih perlu ditanggulangi di Kota Samarinda, terutama sampah-sampah yang mencemari sungai.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun (AH) menegaskan, penanganan sampah di sungai merupakan masalah yang sebenarnya mudah diselesaikan, tapi memerlukan pendekatan yang tepat.
Dalam pernyataan yang disampaikan olehnya beberapa waktu lalu, AH menekankan pentingnya mencari metode yang pas dalam menangani masalah ini.
"Masyarakat Samarinda perlu diajari kembali tentang budaya membuang sampah yang baik dan benar. Ini adalah masalah kecil yang bisa kita tanggulangi jika kita semua bekerjasama," katanya belum lama ini.
Ia mengaku kultur masyarakat dalam membuang sampah harus secara terus menerus diedukasi dan dibentuk kebiasaan baru dalam membuang sampah.
Sebagai bentuk nyata, yakni perihal jam pembuangan sampah yang hingga kini belum terimplementasi dengan baik.
“Kultur budaya buang sampah di Samarinda ternyata harus diedukasi. Kalau saya jadi kepala dinas, mungkin sekali sebulan atau dua minggu sekali akan undang camat dan lurah untuk berduski soal sampah,” bebernya.
AH menyatakan perlunya saran dan masukan dari pejabat tingkat lurah dan kecamatan yang secara jelas memiliki gambaran apa yang terjadi di lingkungan itu perihal sampah, khususnya yang berada di sekitar bantaran sungai.
“Gali saran dari para lurah karena kita sebagai kepala dinas tidak bisa jadi agen tunggal kebenaran, wali kota tidak bisa seolah-olah mahami semua persoalan kalau tidak ada saran daari pimpinan wilayah atau komunitas,” terangnya.
Ia dengan tegas mengatakan dalam menjalankan tugasnya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dan membutuhkan kontribusi dan kerja sama dari pimpinan wilayah untuk menyelesaikan berbagai persoalan, termasuk masalah sampah di sungai.
“Siapa tau dari saran lurah dan camat bisa memberi kontribusi kepada kepala dinas. Jadi persoalannya mungkin karena ga ada tempat sampah di sana, atau mungkin tingkat pemahamn terhadap sampah yang kurang. Di sini kita masuk untuk membuatkan materi untuk masyarakat.” Jelasnya.
AH meyakini hasil diskusi yang berjalan dengan pimpinan wilayah semakin meruncingkan permasalah sampah yang ada, sehingga dapat menentukan langkah tepat apa yang harus diambil.
AH mengatakan penanganan masalah sampah di sungai hanyalah satu contoh dari berbagai tantangan yang masih harus dihadapi Sampah.
Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, ia yakin berbagai masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik.
"Penanganan sampah bukan hanya tanggung jawab satu sektor atau pemerintah saja. Kita semua harus berperan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Operasi pemerintah tidak akan cukup efektif jika masyarakat tidak teredukasi," tegasnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Wali Kota Samarinda, Andi Harun. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Sampah masih jadi persoalan yang masih perlu ditanggulangi di Kota Samarinda, terutama sampah-sampah yang mencemari sungai.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun (AH) menegaskan, penanganan sampah di sungai merupakan masalah yang sebenarnya mudah diselesaikan, tapi memerlukan pendekatan yang tepat.
Dalam pernyataan yang disampaikan olehnya beberapa waktu lalu, AH menekankan pentingnya mencari metode yang pas dalam menangani masalah ini.
"Masyarakat Samarinda perlu diajari kembali tentang budaya membuang sampah yang baik dan benar. Ini adalah masalah kecil yang bisa kita tanggulangi jika kita semua bekerjasama," katanya belum lama ini.
Ia mengaku kultur masyarakat dalam membuang sampah harus secara terus menerus diedukasi dan dibentuk kebiasaan baru dalam membuang sampah.
Sebagai bentuk nyata, yakni perihal jam pembuangan sampah yang hingga kini belum terimplementasi dengan baik.
“Kultur budaya buang sampah di Samarinda ternyata harus diedukasi. Kalau saya jadi kepala dinas, mungkin sekali sebulan atau dua minggu sekali akan undang camat dan lurah untuk berduski soal sampah,” bebernya.
AH menyatakan perlunya saran dan masukan dari pejabat tingkat lurah dan kecamatan yang secara jelas memiliki gambaran apa yang terjadi di lingkungan itu perihal sampah, khususnya yang berada di sekitar bantaran sungai.
“Gali saran dari para lurah karena kita sebagai kepala dinas tidak bisa jadi agen tunggal kebenaran, wali kota tidak bisa seolah-olah mahami semua persoalan kalau tidak ada saran daari pimpinan wilayah atau komunitas,” terangnya.
Ia dengan tegas mengatakan dalam menjalankan tugasnya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dan membutuhkan kontribusi dan kerja sama dari pimpinan wilayah untuk menyelesaikan berbagai persoalan, termasuk masalah sampah di sungai.
“Siapa tau dari saran lurah dan camat bisa memberi kontribusi kepada kepala dinas. Jadi persoalannya mungkin karena ga ada tempat sampah di sana, atau mungkin tingkat pemahamn terhadap sampah yang kurang. Di sini kita masuk untuk membuatkan materi untuk masyarakat.” Jelasnya.
AH meyakini hasil diskusi yang berjalan dengan pimpinan wilayah semakin meruncingkan permasalah sampah yang ada, sehingga dapat menentukan langkah tepat apa yang harus diambil.
AH mengatakan penanganan masalah sampah di sungai hanyalah satu contoh dari berbagai tantangan yang masih harus dihadapi Sampah.
Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, ia yakin berbagai masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik.
"Penanganan sampah bukan hanya tanggung jawab satu sektor atau pemerintah saja. Kita semua harus berperan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Operasi pemerintah tidak akan cukup efektif jika masyarakat tidak teredukasi," tegasnya.
(Sf/By)