Seputar Kaltim

    OJK Optimistis Perbankan Masih Punya Ruang Luas untuk Salurkan Kredit Produktif

    Penulis:Maulana|Redaktur:Lodya A
    08 Mei 2026 pukul 15:19 WITA

    Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae. (Foto: tangkapan layar)

    ​Samarinda - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini bahwa industri perbankan nasional masih memiliki kapasitas dan ruang yang sangat memadai untuk memacu penyaluran kredit produktif.

    Optimis ini karena tersedianya fasilitas pinjaman yang telah disetujui bank namun belum ditarik oleh debitur (undisbursed loan) dalam jumlah besar.

    ​Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan bahwa posisi undisbursed loan perbankan pada bulan Maret 2026 tercatat mencapai Rp2.527,46 triliun. 

    Angka ini mengalami peningkatan sebesar 7,35 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni Rp2.354,50 triliun pada Maret 2025.

    ​"Meski secara nominal meningkat, persentase undisbursed loan terhadap total kredit justru menurun dari 29,77 persen menjadi 29,19 persen. Hal ini menunjukkan perbankan nasional masih memiliki ruang yang cukup untuk mendukung pembiayaan produktif dan mendorong pertumbuhan sektor riil," jelas Dian dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (8/5/2026).

    ​Menurut Dian, ada beberapa pertimbangan yang membuat debitur belum menarik fasilitas pinjamannya, di antaranya karena penyesuaian siklus bisnis, progres penyelesaian proyek di lapangan, hingga strategi pengelolaan arus kas (cash flow) tiap-tiap perusahaan.

    ​Namun, OJK memproyeksikan angka undisbursed loan ini ke depannya akan berangsur turun. 

    Hal ini sejalan dengan penyesuaian strategi bisnis perbankan dan makin meningkatnya optimisme para pelaku usaha terhadap prospek cerah ekonomi nasional.

    ​Peluang ekspansi kredit produktif ini semakin terbuka lebar berkat adanya tren penurunan suku bunga perbankan. Biaya pinjaman yang lebih murah diharapkan mampu merangsang pelaku usaha untuk segera merealisasikan penarikan kredit mereka.

    ​Tercatat, rata-rata tertimbang suku bunga Kredit Rupiah pada Maret 2026 terus melandai ke level 8,76 persen. 

    Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan Februari 2026 yang sebesar 8,80 persen, maupun Maret 2025 yang bertengger di posisi 9,20 persen. 

    Penurunan ini didorong oleh turunnya BI Rate dalam setahun terakhir dari 5,75 persen menjadi 4,75 persen, yang secara langsung membuat biaya dana perbankan ikut menyusut.

    ​Sebagai penutup, Dian menegaskan kesiapan industri perbankan dalam menghadapi tantangan dan mengawal pertumbuhan ekonomi.

    ​"Kami optimistis industri perbankan nasional tetap memiliki resiliensi yang kuat dalam menghadapi dinamika global maupun domestik. Dengan likuiditas yang memadai, tren penurunan suku bunga kredit, serta sinergi kebijakan, perbankan diharapkan terus memperkuat fungsi intermediasi secara sehat, prudent, dan berkelanjutan," pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    OJK Optimistis Perbankan Masih Punya Ruang Luas untuk Salurkan Kredit Produktif

    Penulis:Maulana|Redaktur:Lodya A
    08 Mei 2026 pukul 15:19 WITA

    Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae. (Foto: tangkapan layar)

    ​Samarinda - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini bahwa industri perbankan nasional masih memiliki kapasitas dan ruang yang sangat memadai untuk memacu penyaluran kredit produktif.

    Optimis ini karena tersedianya fasilitas pinjaman yang telah disetujui bank namun belum ditarik oleh debitur (undisbursed loan) dalam jumlah besar.

    ​Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan bahwa posisi undisbursed loan perbankan pada bulan Maret 2026 tercatat mencapai Rp2.527,46 triliun. 

    Angka ini mengalami peningkatan sebesar 7,35 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni Rp2.354,50 triliun pada Maret 2025.

    ​"Meski secara nominal meningkat, persentase undisbursed loan terhadap total kredit justru menurun dari 29,77 persen menjadi 29,19 persen. Hal ini menunjukkan perbankan nasional masih memiliki ruang yang cukup untuk mendukung pembiayaan produktif dan mendorong pertumbuhan sektor riil," jelas Dian dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (8/5/2026).

    ​Menurut Dian, ada beberapa pertimbangan yang membuat debitur belum menarik fasilitas pinjamannya, di antaranya karena penyesuaian siklus bisnis, progres penyelesaian proyek di lapangan, hingga strategi pengelolaan arus kas (cash flow) tiap-tiap perusahaan.

    ​Namun, OJK memproyeksikan angka undisbursed loan ini ke depannya akan berangsur turun. 

    Hal ini sejalan dengan penyesuaian strategi bisnis perbankan dan makin meningkatnya optimisme para pelaku usaha terhadap prospek cerah ekonomi nasional.

    ​Peluang ekspansi kredit produktif ini semakin terbuka lebar berkat adanya tren penurunan suku bunga perbankan. Biaya pinjaman yang lebih murah diharapkan mampu merangsang pelaku usaha untuk segera merealisasikan penarikan kredit mereka.

    ​Tercatat, rata-rata tertimbang suku bunga Kredit Rupiah pada Maret 2026 terus melandai ke level 8,76 persen. 

    Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan Februari 2026 yang sebesar 8,80 persen, maupun Maret 2025 yang bertengger di posisi 9,20 persen. 

    Penurunan ini didorong oleh turunnya BI Rate dalam setahun terakhir dari 5,75 persen menjadi 4,75 persen, yang secara langsung membuat biaya dana perbankan ikut menyusut.

    ​Sebagai penutup, Dian menegaskan kesiapan industri perbankan dalam menghadapi tantangan dan mengawal pertumbuhan ekonomi.

    ​"Kami optimistis industri perbankan nasional tetap memiliki resiliensi yang kuat dalam menghadapi dinamika global maupun domestik. Dengan likuiditas yang memadai, tren penurunan suku bunga kredit, serta sinergi kebijakan, perbankan diharapkan terus memperkuat fungsi intermediasi secara sehat, prudent, dan berkelanjutan," pungkasnya.

    (Sf/Lo)