Cari disini...
Seputar Kaltim
Karet, salah satu komoditas yang bakal diekspor ke luar negeri oleh Pemerintah Kota Samarinda. (Foto: Kementerian Pertanian/Seputarfakta.com
Samarinda - Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda berencana akan ekspor salah satu komoditas selain batubara ke negeri Tirai Bambu, China.
Kepala Disdag Samarinda, Marnabas Patiroy menyebut Kota Samarinda mempunyai beberapa barang atau produk yang berpotensi memiliki daya jual tinggi hingga bisa diekspor, seperti karet dan kayu.
"Ada beberapa yang mau diekspor selain dari batubara, karet, kayu gaharu, arang halaban, kayu plywood, bungkil sawit, ada juga rumput laut," kata Marnabas, Minggu (4/8/2024).
Karet akan menjadi komoditas prioritas dalam kegiatan ekspor ini. Semua produk akan dikirim dalam bentuk mentah, kecuali karet yang akan diolah setengah jadi sebelum dipasarkan.
"Kita punya karet di Palaran itu banyak. Kita coba rangkul dan edukasi bagaimana caranya agar bisa siap ekspor," tuturnya.
Kegiatan ekspor ini juga berkolaborasi dengan pihak pemerintah provinsi, yakni Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kalimantan Timur (Kaltim).
"Untuk ekspor ini teknisnya bakal dikirim kemananya itu ada di ranah provinsi, kita hanya menyiapkan bagaimana barang ini siap untuk diekspor," ungkapnya.
Pihaknya akan mempersiapkan barang-barang itu agar siap ekspor, terutama dari segi kuantitas. Marnabas tak ingin para pelaku usaha ini tidak bisa memenuhi permintaan dari pelanggan.
Sehingga ia mengumpulkan semua pengusaha yang berkecimpung dengan usaha sejenis untuk bekerjasama dalam memenuhi permintaan pelanggan nantinya.
Selain itu, pihaknya juga akan memanfaatkan dua momen besar yang ada di Kaltim, yaitu perayaan 17 Agustus yang berpusat di IKN dan MTQ Nasional bulan September mendatang.
Ia telah mengumpulkan pelaku usaha hotel dan ritel agar dapat memberikan tempat untuk produk-produk hasil UMKM Samarinda. Dengan catatan harga yang diberikan setara dengan yang ada di pasaran.
"Biasanya harga di hotel atau ritel lebih mahal, kita negosiasi ini. Dan untuk UMKM nya, kita minta berikan kualitas produk terbaik," pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Karet, salah satu komoditas yang bakal diekspor ke luar negeri oleh Pemerintah Kota Samarinda. (Foto: Kementerian Pertanian/Seputarfakta.com
Samarinda - Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda berencana akan ekspor salah satu komoditas selain batubara ke negeri Tirai Bambu, China.
Kepala Disdag Samarinda, Marnabas Patiroy menyebut Kota Samarinda mempunyai beberapa barang atau produk yang berpotensi memiliki daya jual tinggi hingga bisa diekspor, seperti karet dan kayu.
"Ada beberapa yang mau diekspor selain dari batubara, karet, kayu gaharu, arang halaban, kayu plywood, bungkil sawit, ada juga rumput laut," kata Marnabas, Minggu (4/8/2024).
Karet akan menjadi komoditas prioritas dalam kegiatan ekspor ini. Semua produk akan dikirim dalam bentuk mentah, kecuali karet yang akan diolah setengah jadi sebelum dipasarkan.
"Kita punya karet di Palaran itu banyak. Kita coba rangkul dan edukasi bagaimana caranya agar bisa siap ekspor," tuturnya.
Kegiatan ekspor ini juga berkolaborasi dengan pihak pemerintah provinsi, yakni Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kalimantan Timur (Kaltim).
"Untuk ekspor ini teknisnya bakal dikirim kemananya itu ada di ranah provinsi, kita hanya menyiapkan bagaimana barang ini siap untuk diekspor," ungkapnya.
Pihaknya akan mempersiapkan barang-barang itu agar siap ekspor, terutama dari segi kuantitas. Marnabas tak ingin para pelaku usaha ini tidak bisa memenuhi permintaan dari pelanggan.
Sehingga ia mengumpulkan semua pengusaha yang berkecimpung dengan usaha sejenis untuk bekerjasama dalam memenuhi permintaan pelanggan nantinya.
Selain itu, pihaknya juga akan memanfaatkan dua momen besar yang ada di Kaltim, yaitu perayaan 17 Agustus yang berpusat di IKN dan MTQ Nasional bulan September mendatang.
Ia telah mengumpulkan pelaku usaha hotel dan ritel agar dapat memberikan tempat untuk produk-produk hasil UMKM Samarinda. Dengan catatan harga yang diberikan setara dengan yang ada di pasaran.
"Biasanya harga di hotel atau ritel lebih mahal, kita negosiasi ini. Dan untuk UMKM nya, kita minta berikan kualitas produk terbaik," pungkasnya.
(Sf/Rs)