Seputar Kaltim

    Musim Kemarau Tingkatkan Potensi Hotspot di PPU, Ini Penyebabnya

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    30 Juni 2026 pukul 15:35 WITA

    Kepala BPBD Kabupaten PPU, Nurlaila. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)

    Penajam - Memasuki musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengingatkan potensi kemunculan titik panas (hotspot) meningkat seiring tingginya suhu dan aktivitas di lahan terbuka.

    Kepala BPBD PPU, Nurlaila mengatakan hotspot merupakan deteksi hawa panas yang ditangkap satelit pada titik koordinat tertentu. Kondisi tersebut belum tentu menunjukkan adanya kebakaran, namun dapat menjadi indikator awal yang perlu dipantau.

    Menurut dia, terdapat sejumlah aktivitas yang berpotensi memunculkan hotspot saat cuaca panas.

    "Yang paling sering itu aktivitas di lahan terbuka. Land clearing bisa memunculkan panas yang terdeteksi satelit, meskipun belum tentu ada kebakaran," ucapnya, Senin (29/6/2026).

    Selain pembukaan lahan, sumber panas juga dapat berasal dari penggunaan alat berat di kawasan perusahaan, pantulan suhu dari bangunan beratap seng berukuran besar, hingga lokasi penyimpanan material seperti batu bara.

    BPBD bahkan pernah menemukan kasus di wilayah Sepaku saat timbunan batu bara memunculkan panas yang terbaca sebagai titik panas.

    Nurlaila juga menyoroti aktivitas pembakaran skala kecil yang kerap dianggap sepele.

    Menurutnya, pembakaran sisa jerami atau material pertanian di area terbuka saat cuaca terik tetap berpotensi memunculkan hotspot karena panas lebih mudah terakumulasi.

    "Kalau di lahan terbuka dan tidak ada vegetasi yang menahan suhu, pembakaran kecil juga bisa memunculkan hotspot," ujarnya.

    Ia menjelaskan hotspot berbeda dengan firespot atau titik api. Hotspot hanya menunjukkan adanya pancaran panas, sedangkan firespot mengindikasikan telah terjadi kebakaran.

    Saat kebakaran berlangsung cukup lama dan cuaca panas, satelit bahkan dapat mendeteksi beberapa hotspot sekaligus di lokasi yang sama.

    Karena itu, memasuki periode kemarau, BPBD mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas pembakaran terbuka dan lebih berhati-hati dalam kegiatan pembukaan lahan untuk mencegah berkembangnya titik panas menjadi kebakaran yang sebenarnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Musim Kemarau Tingkatkan Potensi Hotspot di PPU, Ini Penyebabnya

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    30 Juni 2026 pukul 15:35 WITA

    Kepala BPBD Kabupaten PPU, Nurlaila. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)

    Penajam - Memasuki musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengingatkan potensi kemunculan titik panas (hotspot) meningkat seiring tingginya suhu dan aktivitas di lahan terbuka.

    Kepala BPBD PPU, Nurlaila mengatakan hotspot merupakan deteksi hawa panas yang ditangkap satelit pada titik koordinat tertentu. Kondisi tersebut belum tentu menunjukkan adanya kebakaran, namun dapat menjadi indikator awal yang perlu dipantau.

    Menurut dia, terdapat sejumlah aktivitas yang berpotensi memunculkan hotspot saat cuaca panas.

    "Yang paling sering itu aktivitas di lahan terbuka. Land clearing bisa memunculkan panas yang terdeteksi satelit, meskipun belum tentu ada kebakaran," ucapnya, Senin (29/6/2026).

    Selain pembukaan lahan, sumber panas juga dapat berasal dari penggunaan alat berat di kawasan perusahaan, pantulan suhu dari bangunan beratap seng berukuran besar, hingga lokasi penyimpanan material seperti batu bara.

    BPBD bahkan pernah menemukan kasus di wilayah Sepaku saat timbunan batu bara memunculkan panas yang terbaca sebagai titik panas.

    Nurlaila juga menyoroti aktivitas pembakaran skala kecil yang kerap dianggap sepele.

    Menurutnya, pembakaran sisa jerami atau material pertanian di area terbuka saat cuaca terik tetap berpotensi memunculkan hotspot karena panas lebih mudah terakumulasi.

    "Kalau di lahan terbuka dan tidak ada vegetasi yang menahan suhu, pembakaran kecil juga bisa memunculkan hotspot," ujarnya.

    Ia menjelaskan hotspot berbeda dengan firespot atau titik api. Hotspot hanya menunjukkan adanya pancaran panas, sedangkan firespot mengindikasikan telah terjadi kebakaran.

    Saat kebakaran berlangsung cukup lama dan cuaca panas, satelit bahkan dapat mendeteksi beberapa hotspot sekaligus di lokasi yang sama.

    Karena itu, memasuki periode kemarau, BPBD mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas pembakaran terbuka dan lebih berhati-hati dalam kegiatan pembukaan lahan untuk mencegah berkembangnya titik panas menjadi kebakaran yang sebenarnya.

    (Sf/Rs)