Seputar Kaltim

    Musim Kemarau Picu Kemunculan Ubur-ubur, 6 Anak Tersengat di Pantai PPU

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    20 Juli 2026 pukul 20:37 WITA

    Pejabat Fungsional Entomologi Bidang P2P Dinas kesehatan Kabupaten PPU, Harjito Ponco Waluyo. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat enam kasus sengatan ubur-ubur yang dialami anak-anak saat berenang di kawasan pesisir pada akhir Juni hingga awal Juli 2026.

    Pejabat Fungsional Entomologi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes PPU, Harjito Ponco Waluyo, mengatakan laporan tersebut berasal dari tiga fasilitas layanan kesehatan, yakni Puskesmas Penajam, Rumah Sakit Ratu Aji Putri Botung, dan Puskesmas Petung.

    "Ada enam kasus yang terlapor. Tiga dari Puskesmas Penajam, dua dari Rumah Sakit Ratu Aji Putri Botung, dan satu dari Puskesmas Petung," kata Ponco, Senin (20/7/2026).

    Menurutnya, seluruh kasus terjadi saat musim libur sekolah ketika aktivitas masyarakat di pantai meningkat. Korban rata-rata tersengat saat berenang di kawasan Pantai Tanjung dan Pantai Nipah-Nipah.

    Ponco menjelaskan ubur-ubur yang ditemukan di pesisir PPU bukan jenis beracun. Sengatannya umumnya hanya menimbulkan rasa gatal dan kemerahan pada kulit.

    "Di Kabupaten PPU tidak berefek racun. Efeknya gatal dan kulit kemerahan," ujarnya.

    Ia mengatakan sebagian korban menjalani rawat jalan, sementara beberapa lainnya sempat diobservasi di rumah sakit selama 1×24 jam sebelum dipulangkan. Tidak ada korban yang mengalami demam maupun kondisi berat.

    Dinkes PPU meminta masyarakat tetap waspada karena musim kemarau merupakan periode puncak reproduksi ubur-ubur sehingga kemunculannya di pesisir lebih sering.

    Apabila terkena sengatan, masyarakat diingatkan agar tidak menggosok area tubuh yang tersengat, terlebih menggunakan pasir. 

    Penanganan awal yang dianjurkan ialah membilas bagian yang terkena dengan air laut, kemudian merendamnya menggunakan air hangat bersuhu sekitar 41-42 derajat Celsius selama 20 hingga 40 menit.

    Ponco menambahkan, dalam waktu dekat, Kalimantan Timur akan kedatangan dokter toksinologi, dr. Maharani, untuk memetakan keberadaan ubur-ubur beracun di wilayah pesisir. Hal itu menyusul ditemukannya kasus sengatan box jellyfish di Berau, sedangkan di PPU sejauh ini hanya dilaporkan sengatan ubur-ubur yang menyebabkan gatal dan kemerahan.

    "Rencananya, dr. Maharani datang ke Kaltim untuk memetakan dimana yang ada ubur-ubur beracunnya, karena tentu efeknya dapat menimbulkan luka lebih berat," pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Musim Kemarau Picu Kemunculan Ubur-ubur, 6 Anak Tersengat di Pantai PPU

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    20 Juli 2026 pukul 20:37 WITA

    Pejabat Fungsional Entomologi Bidang P2P Dinas kesehatan Kabupaten PPU, Harjito Ponco Waluyo. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat enam kasus sengatan ubur-ubur yang dialami anak-anak saat berenang di kawasan pesisir pada akhir Juni hingga awal Juli 2026.

    Pejabat Fungsional Entomologi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes PPU, Harjito Ponco Waluyo, mengatakan laporan tersebut berasal dari tiga fasilitas layanan kesehatan, yakni Puskesmas Penajam, Rumah Sakit Ratu Aji Putri Botung, dan Puskesmas Petung.

    "Ada enam kasus yang terlapor. Tiga dari Puskesmas Penajam, dua dari Rumah Sakit Ratu Aji Putri Botung, dan satu dari Puskesmas Petung," kata Ponco, Senin (20/7/2026).

    Menurutnya, seluruh kasus terjadi saat musim libur sekolah ketika aktivitas masyarakat di pantai meningkat. Korban rata-rata tersengat saat berenang di kawasan Pantai Tanjung dan Pantai Nipah-Nipah.

    Ponco menjelaskan ubur-ubur yang ditemukan di pesisir PPU bukan jenis beracun. Sengatannya umumnya hanya menimbulkan rasa gatal dan kemerahan pada kulit.

    "Di Kabupaten PPU tidak berefek racun. Efeknya gatal dan kulit kemerahan," ujarnya.

    Ia mengatakan sebagian korban menjalani rawat jalan, sementara beberapa lainnya sempat diobservasi di rumah sakit selama 1×24 jam sebelum dipulangkan. Tidak ada korban yang mengalami demam maupun kondisi berat.

    Dinkes PPU meminta masyarakat tetap waspada karena musim kemarau merupakan periode puncak reproduksi ubur-ubur sehingga kemunculannya di pesisir lebih sering.

    Apabila terkena sengatan, masyarakat diingatkan agar tidak menggosok area tubuh yang tersengat, terlebih menggunakan pasir. 

    Penanganan awal yang dianjurkan ialah membilas bagian yang terkena dengan air laut, kemudian merendamnya menggunakan air hangat bersuhu sekitar 41-42 derajat Celsius selama 20 hingga 40 menit.

    Ponco menambahkan, dalam waktu dekat, Kalimantan Timur akan kedatangan dokter toksinologi, dr. Maharani, untuk memetakan keberadaan ubur-ubur beracun di wilayah pesisir. Hal itu menyusul ditemukannya kasus sengatan box jellyfish di Berau, sedangkan di PPU sejauh ini hanya dilaporkan sengatan ubur-ubur yang menyebabkan gatal dan kemerahan.

    "Rencananya, dr. Maharani datang ke Kaltim untuk memetakan dimana yang ada ubur-ubur beracunnya, karena tentu efeknya dapat menimbulkan luka lebih berat," pungkasnya.

    (Sf/Rs)