Seputar Kaltim

    Musim Kemarau Masuk Puncak, BPBD PPU Minta Nelayan Lebih Waspada

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    29 Juni 2026 pukul 19:25 WITA

    Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten PPU, Nurlaila. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)

    Penajam - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di perairan, karena memasuki musim kemarau yang berlangsung pada Mei-September dan mencapai puncaknya pada Juni-Agustus.

    Kepala BPBD PPU, Nurlaila mengatakan periode tersebut identik dengan meningkatnya kecepatan angin yang dapat memicu kenaikan gelombang, terutama di wilayah pesisir dan jalur transportasi laut.

    "Di musim kemarau kecepatan angin bisa berada di atas kondisi normal, mencapai 25 sampai 30 knot pada periode tertentu. Itu yang bisa memicu gelombang lebih tinggi di wilayah perairan," katanya, Senin (29/6/2026).

    Meski berdasarkan prakiraan maritim BMKG periode 29 Juni-2 Juli 2026, tinggi gelombang di perairan Penajam-Balikpapan diperkirakan sekitar 0,8 meter atau kategori rendah, dengan kecepatan angin 13 knot dan hembusan hingga 19 knot, BPBD meminta kondisi tersebut tidak membuat masyarakat lengah.

    Menurut Nurlaila, pengguna transportasi laut seperti speedboat dan perahu tetap wajib memenuhi standar keselamatan pelayaran, terlebih saat kondisi cuaca mulai berubah.

    Ia menyebut sejumlah kejadian yang pernah ditangani, di antaranya kapal nelayan mengalami mati mesin di tengah laut, perahu pemancing terbalik hingga menyebabkan korban meninggal dunia, serta speedboat kehabisan bahan bakar saat kondisi gelombang tidak bersahabat.

    "Kejadiannya memang tidak terlalu banyak, tapi ada yang sampai meninggal dunia dan ada juga yang bisa langsung kami tangani," ujarnya.

    Karena itu, masyarakat diminta mencari informasi cuaca sebelum berangkat melaut maupun berwisata di kawasan pesisir, termasuk memantau peringatan dini gelombang tinggi, pasang air laut dan kecepatan angin melalui BMKG maupun Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD.

    Nurlaila menekankan perlengkapan keselamatan paling dasar yang tidak boleh diabaikan adalah penggunaan jaket pelampung.

    "Life jacket sangat membantu saat terjadi kondisi darurat seperti kapal terbalik karena memberi waktu bertahan sampai petugas datang melakukan penyelamatan," katanya.

    Selain memastikan alat keselamatan tersedia, BPBD juga mengingatkan masyarakat memeriksa kelayakan transportasi, memastikan bahan bakar cukup, serta tidak memaksakan berangkat saat kondisi cuaca memburuk.

    Imbauan serupa juga ditujukan kepada pengunjung pantai, khususnya orang tua yang membawa anak.

    "Anak-anak sering tanpa sadar menjauh saat bermain di pantai. Orang tua harus tetap mengawasi untuk menghindari kejadian yang membahayakan keselamatan," tutupnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Musim Kemarau Masuk Puncak, BPBD PPU Minta Nelayan Lebih Waspada

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    29 Juni 2026 pukul 19:25 WITA

    Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten PPU, Nurlaila. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)

    Penajam - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di perairan, karena memasuki musim kemarau yang berlangsung pada Mei-September dan mencapai puncaknya pada Juni-Agustus.

    Kepala BPBD PPU, Nurlaila mengatakan periode tersebut identik dengan meningkatnya kecepatan angin yang dapat memicu kenaikan gelombang, terutama di wilayah pesisir dan jalur transportasi laut.

    "Di musim kemarau kecepatan angin bisa berada di atas kondisi normal, mencapai 25 sampai 30 knot pada periode tertentu. Itu yang bisa memicu gelombang lebih tinggi di wilayah perairan," katanya, Senin (29/6/2026).

    Meski berdasarkan prakiraan maritim BMKG periode 29 Juni-2 Juli 2026, tinggi gelombang di perairan Penajam-Balikpapan diperkirakan sekitar 0,8 meter atau kategori rendah, dengan kecepatan angin 13 knot dan hembusan hingga 19 knot, BPBD meminta kondisi tersebut tidak membuat masyarakat lengah.

    Menurut Nurlaila, pengguna transportasi laut seperti speedboat dan perahu tetap wajib memenuhi standar keselamatan pelayaran, terlebih saat kondisi cuaca mulai berubah.

    Ia menyebut sejumlah kejadian yang pernah ditangani, di antaranya kapal nelayan mengalami mati mesin di tengah laut, perahu pemancing terbalik hingga menyebabkan korban meninggal dunia, serta speedboat kehabisan bahan bakar saat kondisi gelombang tidak bersahabat.

    "Kejadiannya memang tidak terlalu banyak, tapi ada yang sampai meninggal dunia dan ada juga yang bisa langsung kami tangani," ujarnya.

    Karena itu, masyarakat diminta mencari informasi cuaca sebelum berangkat melaut maupun berwisata di kawasan pesisir, termasuk memantau peringatan dini gelombang tinggi, pasang air laut dan kecepatan angin melalui BMKG maupun Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD.

    Nurlaila menekankan perlengkapan keselamatan paling dasar yang tidak boleh diabaikan adalah penggunaan jaket pelampung.

    "Life jacket sangat membantu saat terjadi kondisi darurat seperti kapal terbalik karena memberi waktu bertahan sampai petugas datang melakukan penyelamatan," katanya.

    Selain memastikan alat keselamatan tersedia, BPBD juga mengingatkan masyarakat memeriksa kelayakan transportasi, memastikan bahan bakar cukup, serta tidak memaksakan berangkat saat kondisi cuaca memburuk.

    Imbauan serupa juga ditujukan kepada pengunjung pantai, khususnya orang tua yang membawa anak.

    "Anak-anak sering tanpa sadar menjauh saat bermain di pantai. Orang tua harus tetap mengawasi untuk menghindari kejadian yang membahayakan keselamatan," tutupnya.

    (Sf/Lo)