Seputar Kaltim

    Musim Kemarau, Hotspot Berau Tembus 923 Titik dalam 9 Hari

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    10 Agustus 2026 pukul 19:24 WITA

    Karhutla di Kabupaten Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Aktivitas titik panas atau hotspot di Kabupaten Berau tercatat cukup tinggi sepanjang periode pemantauan 1-9 Agustus 2026. Dalam kurun sembilan hari tersebut, akumulasi hotspot di Berau mencapai 923 titik.

    Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau, aktivitas hotspot selama periode tersebut menunjukkan pola fluktuatif, namun cenderung meningkat pada akhir periode pemantauan.

    Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau Berau, Ade Heryadi, mengatakan aktivitas hotspot selama periode tersebut menunjukkan pola yang fluktuatif, namun cenderung meningkat pada akhir periode pemantauan.

    "Akumulasi hotspot di wilayah Berau selama periode monitoring tanggal 1-9 Agustus 2026 tercatat sebanyak 923 titik. Aktivitasnya memang fluktuatif, tetapi ada kecenderungan meningkat pada akhir periode," ujar Ade.

    Ia menyampaikan, Kecamatan Segah menjadi salah satu wilayah yang paling mendapat perhatian. Hotspot di kecamatan tersebut tercatat sebanyak 22 titik pada 3 Agustus, 10 titik pada 4 Agustus, 31 titik pada 5 Agustus, 34 titik pada 6 Agustus, 54 titik pada 7 Agustus, hingga mencapai 65 titik pada 8 Agustus 2026.

    "Selain Segah, Kecamatan Kelay juga mencatat jumlah hotspot cukup tinggi. Pada 5 Agustus, wilayah Kelay dan Segah sama-sama mencatat 31 titik hotspot," tambahnya.

    Ia juga menyebut, Kecamatan Pulau Derawan juga menunjukkan aktivitas hotspot yang perlu diwaspadai. Wilayah tersebut mencatat 28 titik pada 1 Agustus, meningkat menjadi 55 titik pada 2 Agustus, kemudian kembali tercatat sebanyak 40 titik pada 9 Agustus 2026.

    Menurutnya, tingginya aktivitas hotspot berkaitan dengan kondisi atmosfer yang relatif kering akibat minimnya curah hujan dan suhu maksimum harian yang cukup tinggi. Suhu maksimum tertinggi di Berau selama periode pengamatan mencapai 36,2 derajat Celsius pada 4 Agustus.

    "Kondisi atmosfer yang relatif kering dan suhu maksimum yang tinggi berpotensi meningkatkan kemunculan hotspot. Karena itu, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) perlu terus ditingkatkan," terangnya.

    BMKG pun memprakirakan sifat hujan berada pada kondisi normal hingga bawah normal hingga September 2026. Kondisi tersebut membuat kesiapsiagaan lintas sektor menjadi penting, terutama untuk mencegah terjadinya Karhutla.

    "Kami pun mengimbau masyarakat dan pihak terkait untuk meningkatkan pemantauan terhadap wilayah yang mengalami kondisi kering dan memiliki konsentrasi hotspot tinggi. Apabila menemukan indikasi karhutla, segera laporkan kepada pihak berwenang. Penanganan sejak dini sangat penting agar api tidak berkembang dan meluas," tuturnya.

    Selain itu, Ade mendorong masyarakat untuk menghemat penggunaan air selama musim kemarau. Pemerintah dan masyarakat juga diharapkan mengoptimalkan kapasitas penampungan air seperti embung, waduk, bendungan, maupun tempat penampungan air lainnya.

    "Kami juga akan terus memantau perkembangan cuaca dan hotspot di wilayah Berau serta menyampaikan informasi terkini sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi musim kemarau," tandasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Musim Kemarau, Hotspot Berau Tembus 923 Titik dalam 9 Hari

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    10 Agustus 2026 pukul 19:24 WITA

    Karhutla di Kabupaten Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Aktivitas titik panas atau hotspot di Kabupaten Berau tercatat cukup tinggi sepanjang periode pemantauan 1-9 Agustus 2026. Dalam kurun sembilan hari tersebut, akumulasi hotspot di Berau mencapai 923 titik.

    Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau, aktivitas hotspot selama periode tersebut menunjukkan pola fluktuatif, namun cenderung meningkat pada akhir periode pemantauan.

    Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau Berau, Ade Heryadi, mengatakan aktivitas hotspot selama periode tersebut menunjukkan pola yang fluktuatif, namun cenderung meningkat pada akhir periode pemantauan.

    "Akumulasi hotspot di wilayah Berau selama periode monitoring tanggal 1-9 Agustus 2026 tercatat sebanyak 923 titik. Aktivitasnya memang fluktuatif, tetapi ada kecenderungan meningkat pada akhir periode," ujar Ade.

    Ia menyampaikan, Kecamatan Segah menjadi salah satu wilayah yang paling mendapat perhatian. Hotspot di kecamatan tersebut tercatat sebanyak 22 titik pada 3 Agustus, 10 titik pada 4 Agustus, 31 titik pada 5 Agustus, 34 titik pada 6 Agustus, 54 titik pada 7 Agustus, hingga mencapai 65 titik pada 8 Agustus 2026.

    "Selain Segah, Kecamatan Kelay juga mencatat jumlah hotspot cukup tinggi. Pada 5 Agustus, wilayah Kelay dan Segah sama-sama mencatat 31 titik hotspot," tambahnya.

    Ia juga menyebut, Kecamatan Pulau Derawan juga menunjukkan aktivitas hotspot yang perlu diwaspadai. Wilayah tersebut mencatat 28 titik pada 1 Agustus, meningkat menjadi 55 titik pada 2 Agustus, kemudian kembali tercatat sebanyak 40 titik pada 9 Agustus 2026.

    Menurutnya, tingginya aktivitas hotspot berkaitan dengan kondisi atmosfer yang relatif kering akibat minimnya curah hujan dan suhu maksimum harian yang cukup tinggi. Suhu maksimum tertinggi di Berau selama periode pengamatan mencapai 36,2 derajat Celsius pada 4 Agustus.

    "Kondisi atmosfer yang relatif kering dan suhu maksimum yang tinggi berpotensi meningkatkan kemunculan hotspot. Karena itu, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) perlu terus ditingkatkan," terangnya.

    BMKG pun memprakirakan sifat hujan berada pada kondisi normal hingga bawah normal hingga September 2026. Kondisi tersebut membuat kesiapsiagaan lintas sektor menjadi penting, terutama untuk mencegah terjadinya Karhutla.

    "Kami pun mengimbau masyarakat dan pihak terkait untuk meningkatkan pemantauan terhadap wilayah yang mengalami kondisi kering dan memiliki konsentrasi hotspot tinggi. Apabila menemukan indikasi karhutla, segera laporkan kepada pihak berwenang. Penanganan sejak dini sangat penting agar api tidak berkembang dan meluas," tuturnya.

    Selain itu, Ade mendorong masyarakat untuk menghemat penggunaan air selama musim kemarau. Pemerintah dan masyarakat juga diharapkan mengoptimalkan kapasitas penampungan air seperti embung, waduk, bendungan, maupun tempat penampungan air lainnya.

    "Kami juga akan terus memantau perkembangan cuaca dan hotspot di wilayah Berau serta menyampaikan informasi terkini sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi musim kemarau," tandasnya.

    (Sf/Lo)