Cari disini...
Seputar Kaltim
Sekretaris Disdikpora PPU, Durajat. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Pembelajaran muatan lokal (mulok) Bahasa Paser di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) masih terkendala ketersediaan guru dan bahan ajar.
Disdikpora PPU mencatat tenaga pengajar Bahasa Paser belum mencukupi, sementara buku yang digunakan saat ini masih satu bahasa.
Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) PPU, Durajat, mengungkapkan mulok Bahasa Paser sudah diajarkan dan masuk penilaian di jenjang SD dan SMP. Pengajarnya selama ini masih banyak berasal dari guru kelas atau guru bidang studi.
"Kita memang kekurangan guru-guru muatan lokal Bahasa Paser. Idealnya, walaupun bukan penduduk Paser, yang mengajar bisa memahami bahasa daerah," kata Durajat, belum lama ini.
Kebutuhan guru semakin besar karena peserta didik di PPU berasal dari latar belakang berbeda. Sebagian besar siswa bukan berasal dari suku Paser sehingga guru dituntut mampu menjelaskan bahasa daerah tersbeut dengan cara yang mudah dipahami.
Durajat menyebut idealnya setiap SD dan SMP memiliki guru mulok Bahasa Paser. Jika setiap sekolah dipenuhi tenaga pengajar khusus, kebutuhannya bisa mencapai ratusan guru.
"Ini menjadi pekerjaan bersama. Kami bersama jajaran BKPSDM dan BKAD menyikapi kekurangan guru yang masih terjadi, baik guru kelas maupun guru bidang studi. Kebutuhan ini juga akan bertambah karena ada guru yang memasuki masa pensiun," ujarnya.
Di sisi bahan ajar, Disdikpora juga menilai buku mulok Bahasa Paser perlu diperbaiki. Buku yang beredar saat ini hanya menggunakan Bahasa Paser sehingga guru dan siswa tidak memiliki padanan Bahasa Indonesia dalam satu buku.
"Buku muatan lokal Bahasa Paser itu hanya dalam satu bahasa, yakni Bahasa Paser. Harusnya bilingual, jadi yang mengajar ngerti, jadi satu bahasa Indonesia satu bahasa Paser," jelas Durajat.
Format bilingual dinilai lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran di sekolah. Bahasa Paser tetap menjadi materi yang dipelajari, sementara Bahasa Indonesia menjadi pendamping agar guru dan siswa lebih mudah memahami isi buku.
Lanjut Durajat, pembahasan mengenai kebutuhan guru mulok Bahasa Paser sudah dilakukan bersama DPR dan Lembaga Adat Paser (LAP). Disdikpora juga mengoptimalkan tenaga yang tersedia melalui pertemuan guru mulok, pendampingan dan bimbingan.
"Guru-guru mulok kita kuatkan kapasitasnya melalui pendampingan dan bimbingan. Pengawas yang menguasai Bahasa Paser kita libatkan untuk mendampingi, supaya pengajaran bahasa daerah di sekolah tetap berjalan dengan tenaga yang tersedia," tutup Durajat.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Sekretaris Disdikpora PPU, Durajat. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Pembelajaran muatan lokal (mulok) Bahasa Paser di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) masih terkendala ketersediaan guru dan bahan ajar.
Disdikpora PPU mencatat tenaga pengajar Bahasa Paser belum mencukupi, sementara buku yang digunakan saat ini masih satu bahasa.
Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) PPU, Durajat, mengungkapkan mulok Bahasa Paser sudah diajarkan dan masuk penilaian di jenjang SD dan SMP. Pengajarnya selama ini masih banyak berasal dari guru kelas atau guru bidang studi.
"Kita memang kekurangan guru-guru muatan lokal Bahasa Paser. Idealnya, walaupun bukan penduduk Paser, yang mengajar bisa memahami bahasa daerah," kata Durajat, belum lama ini.
Kebutuhan guru semakin besar karena peserta didik di PPU berasal dari latar belakang berbeda. Sebagian besar siswa bukan berasal dari suku Paser sehingga guru dituntut mampu menjelaskan bahasa daerah tersbeut dengan cara yang mudah dipahami.
Durajat menyebut idealnya setiap SD dan SMP memiliki guru mulok Bahasa Paser. Jika setiap sekolah dipenuhi tenaga pengajar khusus, kebutuhannya bisa mencapai ratusan guru.
"Ini menjadi pekerjaan bersama. Kami bersama jajaran BKPSDM dan BKAD menyikapi kekurangan guru yang masih terjadi, baik guru kelas maupun guru bidang studi. Kebutuhan ini juga akan bertambah karena ada guru yang memasuki masa pensiun," ujarnya.
Di sisi bahan ajar, Disdikpora juga menilai buku mulok Bahasa Paser perlu diperbaiki. Buku yang beredar saat ini hanya menggunakan Bahasa Paser sehingga guru dan siswa tidak memiliki padanan Bahasa Indonesia dalam satu buku.
"Buku muatan lokal Bahasa Paser itu hanya dalam satu bahasa, yakni Bahasa Paser. Harusnya bilingual, jadi yang mengajar ngerti, jadi satu bahasa Indonesia satu bahasa Paser," jelas Durajat.
Format bilingual dinilai lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran di sekolah. Bahasa Paser tetap menjadi materi yang dipelajari, sementara Bahasa Indonesia menjadi pendamping agar guru dan siswa lebih mudah memahami isi buku.
Lanjut Durajat, pembahasan mengenai kebutuhan guru mulok Bahasa Paser sudah dilakukan bersama DPR dan Lembaga Adat Paser (LAP). Disdikpora juga mengoptimalkan tenaga yang tersedia melalui pertemuan guru mulok, pendampingan dan bimbingan.
"Guru-guru mulok kita kuatkan kapasitasnya melalui pendampingan dan bimbingan. Pengawas yang menguasai Bahasa Paser kita libatkan untuk mendampingi, supaya pengajaran bahasa daerah di sekolah tetap berjalan dengan tenaga yang tersedia," tutup Durajat.
(Sf/Lo)