Cari disini...
Seputar Kaltim
Wawancara dengan salah satu pelaku UMKM saat bazar MTQ ke-45 di Sangatta, (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-45 tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) tak hanya menjadi ajang keagamaan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kutai Timur (Kutim).
Salah satu peserta bazar adalah Wiwin, pedagang kuliner yang menjual aneka makanan, termasuk roti bakar. Ia mengaku ini adalah kali pertama ikut MTQ, meski sebelumnya sudah pernah ikut event lain dari Dispora dan Dinas Pariwisata.
“Kalau MTQ ini baru pertama kali saya ikut. Tapi kalau event lain, seperti dari Dispora atau Pariwisata, Alhamdulillah sudah pernah ikut,” ujar Wiwin saat ditemui di lokasi bazar, Kamis (18/7/2025).
Ia menjelaskan, informasi pendaftaran UMKM untuk bazar MTQ ia peroleh dari media sosial serta selebaran pamflet yang dibagikan oleh panitia. Dalam pamflet tersebut tertera barcode yang mengarahkan ke formulir pendaftaran daring.
“saya dapat infomasi media sosial, Saya tahu dari selebaran pamflet. Ada barcode-nya, terus saya WA ke nomor kontak yang tertera, lalu dikirimin link buat daftar di situ,” jelasnya.
Wiwin menambahkan Selama mengikuti bazar, rata-rata pendapatan ia dapatkan per hari mencapai sekitar Rp500.000. Namun, ia menyebut hujan sempat turun selama tiga hari sehingga pendapatan menurun hingga Rp200.000–Rp300.000 per hari.
“Kalau hujan kemarin cuma dapat Rp200.000-an. Tapi kalau dirata-ratakan dari hari pertama sampai sekarang, sekitar Rp500.000-an. Alhamdulillah,” ungkapnya.
Ia juga mengatakan, event yang diselenggarakan ini tidak memungut biaya sewa tenda, berbeda dengan event dari Event Organizer (EO) yang umumnya berbayar.
Wiwin yang biasa berjualan di Jalan Ilham Maulana, dekat Pasar Induk Sangatta, berharap pemerintah bisa lebih aktif membina pelaku UMKM, terutama yang baru mulai usaha. Ia juga menyarankan agar ada pelatihan rutin dan grup komunikasi untuk saling berbagi informasi.
“Harapannya sih lebih banyak UMKM yang dibina. Sekarang ini banyak yang baru, apalagi di bidang kuliner. Mungkin bisa dibuat pelatihan atau grup khusus UMKM, supaya lebih mudah berbagi informasi dan update kegiatan,” tutupnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Wawancara dengan salah satu pelaku UMKM saat bazar MTQ ke-45 di Sangatta, (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-45 tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) tak hanya menjadi ajang keagamaan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kutai Timur (Kutim).
Salah satu peserta bazar adalah Wiwin, pedagang kuliner yang menjual aneka makanan, termasuk roti bakar. Ia mengaku ini adalah kali pertama ikut MTQ, meski sebelumnya sudah pernah ikut event lain dari Dispora dan Dinas Pariwisata.
“Kalau MTQ ini baru pertama kali saya ikut. Tapi kalau event lain, seperti dari Dispora atau Pariwisata, Alhamdulillah sudah pernah ikut,” ujar Wiwin saat ditemui di lokasi bazar, Kamis (18/7/2025).
Ia menjelaskan, informasi pendaftaran UMKM untuk bazar MTQ ia peroleh dari media sosial serta selebaran pamflet yang dibagikan oleh panitia. Dalam pamflet tersebut tertera barcode yang mengarahkan ke formulir pendaftaran daring.
“saya dapat infomasi media sosial, Saya tahu dari selebaran pamflet. Ada barcode-nya, terus saya WA ke nomor kontak yang tertera, lalu dikirimin link buat daftar di situ,” jelasnya.
Wiwin menambahkan Selama mengikuti bazar, rata-rata pendapatan ia dapatkan per hari mencapai sekitar Rp500.000. Namun, ia menyebut hujan sempat turun selama tiga hari sehingga pendapatan menurun hingga Rp200.000–Rp300.000 per hari.
“Kalau hujan kemarin cuma dapat Rp200.000-an. Tapi kalau dirata-ratakan dari hari pertama sampai sekarang, sekitar Rp500.000-an. Alhamdulillah,” ungkapnya.
Ia juga mengatakan, event yang diselenggarakan ini tidak memungut biaya sewa tenda, berbeda dengan event dari Event Organizer (EO) yang umumnya berbayar.
Wiwin yang biasa berjualan di Jalan Ilham Maulana, dekat Pasar Induk Sangatta, berharap pemerintah bisa lebih aktif membina pelaku UMKM, terutama yang baru mulai usaha. Ia juga menyarankan agar ada pelatihan rutin dan grup komunikasi untuk saling berbagi informasi.
“Harapannya sih lebih banyak UMKM yang dibina. Sekarang ini banyak yang baru, apalagi di bidang kuliner. Mungkin bisa dibuat pelatihan atau grup khusus UMKM, supaya lebih mudah berbagi informasi dan update kegiatan,” tutupnya.
(Sf/Rs)