Cari disini...
Seputar Kaltim
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menyampaikan sambutan pada kegiatan Gerakan Langit Biru di Polder Ilham Maulana. (Foto: Seputarfakta.com)
Sangatta - Upaya menjaga kelestarian lingkungan dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan satwa.
Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, menilai gerakan penghijauan menjadi salah satu upaya menjaga habitat satwa yang mulai terdampak perubahan lingkungan.
Menurutnya, penanaman pohon bukan sekadar memperindah lingkungan, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang yang memberikan manfaat bagi masyarakat maupun makhluk hidup lainnya.
“Ini pasti bisa memberi manfaat kepada seluruh masyarakat. Apa yang kita tanam hari ini, insyaallah nanti bermanfaat bagi seluruh masyarakat, baik manusia maupun hewan,” ujar Mahyunadi saat menghadiri kegiatan Gerakan Langit Biru yang digelar DPC Partai Demokrat Kutim melalui penanaman 120 bibit pohon buah di kawasan Polder Ilham Maulana beberapa waktu lalu.
Ia mengatakan, penghijauan perlu terus dilakukan, termasuk di kawasan hutan maupun area terbuka lainnya. Keberadaan tanaman dapat menjadi sumber makanan alami bagi satwa yang mulai kehilangan habitat akibat perubahan fungsi lahan.
Mahyunadi mencontohkan, sejumlah satwa seperti monyet kini mulai mendekati kawasan manusia karena berkurangnya ruang hidup dan sumber makanan alami di hutan.
“Kalau kita tanam di pinggir-pinggir jalan, mereka tidak perlu meminta makanan kepada manusia. Tanaman ini nantinya bisa menjadi makanan alami bagi habitat lainnya,” katanya.
Ia juga menyinggung keberadaan buaya di Kutim yang turun ke sungai setelah habitat alaminya mengalami perubahan. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena satwa kehilangan tempat hidup dan sumber makanan alami.
“Dulu buaya tetap ada, tetapi mereka punya habitat di rawa-rawa sehingga tidak turun ke sungai. Sekarang habitatnya hilang, dijadikan kebun sawit dan tambak manusia, akhirnya mereka turun ke sungai,” jelasnya.
Mahyunadi menjelaskan, ketika habitat alami satwa masih terjaga, hewan akan tetap berada di lingkungan mereka. Namun, ketika kawasan tersebut berubah fungsi, satwa bisa turun mendekati wilayah manusia.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan, termasuk tidak merusak habitat dan tidak membuang sampah sembarangan.
“Jangan sampai buaya kehilangan habitat, kehilangan makanan, kemudian kehilangan kesabaran. Celakalah kita kalau sampai itu terjadi,” ucapnya.
Sementara itu, terkait Gerakan Langit Biru, Mahyunadi mengapresiasi langkah Partai Demokrat yang mengangkat kegiatan sosial dan lingkungan. Ia menilai kegiatan tersebut memiliki manfaat yang dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Di saat beberapa pihak berbicara politik, Partai Demokrat justru berbicara tentang kegiatan sosial masyarakat yang insyaallah bermanfaat bagi masyarakat dalam waktu yang panjang. Apa yang kita usahakan hari ini akan menjadi manfaat bagi masyarakat yang akan datang,” pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menyampaikan sambutan pada kegiatan Gerakan Langit Biru di Polder Ilham Maulana. (Foto: Seputarfakta.com)
Sangatta - Upaya menjaga kelestarian lingkungan dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan satwa.
Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, menilai gerakan penghijauan menjadi salah satu upaya menjaga habitat satwa yang mulai terdampak perubahan lingkungan.
Menurutnya, penanaman pohon bukan sekadar memperindah lingkungan, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang yang memberikan manfaat bagi masyarakat maupun makhluk hidup lainnya.
“Ini pasti bisa memberi manfaat kepada seluruh masyarakat. Apa yang kita tanam hari ini, insyaallah nanti bermanfaat bagi seluruh masyarakat, baik manusia maupun hewan,” ujar Mahyunadi saat menghadiri kegiatan Gerakan Langit Biru yang digelar DPC Partai Demokrat Kutim melalui penanaman 120 bibit pohon buah di kawasan Polder Ilham Maulana beberapa waktu lalu.
Ia mengatakan, penghijauan perlu terus dilakukan, termasuk di kawasan hutan maupun area terbuka lainnya. Keberadaan tanaman dapat menjadi sumber makanan alami bagi satwa yang mulai kehilangan habitat akibat perubahan fungsi lahan.
Mahyunadi mencontohkan, sejumlah satwa seperti monyet kini mulai mendekati kawasan manusia karena berkurangnya ruang hidup dan sumber makanan alami di hutan.
“Kalau kita tanam di pinggir-pinggir jalan, mereka tidak perlu meminta makanan kepada manusia. Tanaman ini nantinya bisa menjadi makanan alami bagi habitat lainnya,” katanya.
Ia juga menyinggung keberadaan buaya di Kutim yang turun ke sungai setelah habitat alaminya mengalami perubahan. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena satwa kehilangan tempat hidup dan sumber makanan alami.
“Dulu buaya tetap ada, tetapi mereka punya habitat di rawa-rawa sehingga tidak turun ke sungai. Sekarang habitatnya hilang, dijadikan kebun sawit dan tambak manusia, akhirnya mereka turun ke sungai,” jelasnya.
Mahyunadi menjelaskan, ketika habitat alami satwa masih terjaga, hewan akan tetap berada di lingkungan mereka. Namun, ketika kawasan tersebut berubah fungsi, satwa bisa turun mendekati wilayah manusia.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan, termasuk tidak merusak habitat dan tidak membuang sampah sembarangan.
“Jangan sampai buaya kehilangan habitat, kehilangan makanan, kemudian kehilangan kesabaran. Celakalah kita kalau sampai itu terjadi,” ucapnya.
Sementara itu, terkait Gerakan Langit Biru, Mahyunadi mengapresiasi langkah Partai Demokrat yang mengangkat kegiatan sosial dan lingkungan. Ia menilai kegiatan tersebut memiliki manfaat yang dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Di saat beberapa pihak berbicara politik, Partai Demokrat justru berbicara tentang kegiatan sosial masyarakat yang insyaallah bermanfaat bagi masyarakat dalam waktu yang panjang. Apa yang kita usahakan hari ini akan menjadi manfaat bagi masyarakat yang akan datang,” pungkasnya.
(Sf/Lo)