Cari disini...
Seputar Kaltim
Sesi materi dalam program ruang bisnis yang dibimbing langsung oleh para mentor sekaligus penggerak program ini. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Di tengah menjamurnya semangat berbisnis di kalangan anak muda, program inkubasi Ruang Bisnis (RB) yang berada di bawah naungan Sinergi Receh Group menjadi sorotan.
Program yang didirikan sejak 2019 oleh empat inisiator muda Yusuf Hadi Muslim, Hendry Very, Ajie Nugrah, dan Hafiz Dzaki ini bertujuan menciptakan ‘local hero’ baru di daerah, khususnya Kalimantan Timur, dengan menggali potensi bisnis lokal yang ada.
Ruang Bisnis didirikan atas dasar keresahan melihat potensi bisnis di daerah yang belum tergarap maksimal.
Mereka berkomitmen untuk membuktikan bahwa memulai bisnis tidak harus dengan modal besar, melainkan dengan komitmen dan konsistensi.
Program inkubasi ini telah memasuki Batch ke-6. Berbeda dengan bootcamp bisnis pada umumnya, Ruang Bisnis menekankan pada praktik langsung di lapangan.
Peserta mendapatkan porsi pendampingan yang didominasi praktik, yakni 30 persen teori dan 70 persen praktik. Para peserta secara langsung dituntut untuk berdagang dan menguji ide bisnis mereka.
Salah satu bukti kesuksesan program ini terlihat dari Batch ke-5. Kelompok Nakama, yang fokus berjualan katsu kaki lima di Jalan Milono, sukses besar.
Saat ini, Nakama dilaporkan telah mencatatkan omzet hingga ratusan juta rupiah. Tak hanya Nakama, banyak bisnis lain yang kini berada dalam naungan Sinergi Receh dan telah mendapatkan modal awal (pendanaan).
Salah satu peserta yang baru bergabung di Batch ke-6 adalah Wikaldi. Wikaldi yang sebelumnya bekerja di bidang advertising (periklanan), kini memutuskan mengambil langkah berani di Ruang Bisnis untuk melakukan lompatan karir dan terjun langsung ke dunia usaha.
Menurutnya, berbisnis adalah sebuah keharusan bagi Generasi Z (Gen Z) saat ini. Tuntutan hidup dan gaya hidup yang terus meningkat membuat gaji dari pekerjaan formal seringkali tidak memadai.
“Kalau kita hanya mengharapkan kerja dengan gaji yang tidak sesuai, apalagi saat ini bukan hanya tuntutan hidup, tuntutan gaya juga ada. Sehingga dengan gaji yang ada tidak cukup untuk Gen Z,” ujar Wikaldi.
Wikaldi mengakui bahwa program Ruang Bisnis ini sangat ketat. Sejak tes masuk, peserta sudah ditekankan pada komitmen dan konsistensi. Program ini benar-benar membentuk pebisnis dari nol, atau merintis.
Peserta hanya dibekali modal minim, yakni Rp1 juta, dan ditantang untuk memaksimalkan modal tersebut menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.
“Walaupun baru berjalan 3 minggu, mental saya di sini benar-benar teruji. Bagaimana tidak, kita harus memenuhi target yang sudah disepakati di awal. Ini menjadi challenge besar buat aku sendiri dan buat tim,” tambahnya.
Di Ruang Bisnis, peserta juga dituntut untuk mengedepankan kerja tim, di mana kebutuhan tim harus didahulukan daripada kebutuhan pribadi. Wikaldi bahkan harus merelakan sebagian waktu dari pekerjaan utamanya untuk fokus penuh di program ini.
“Saya yakin bahwa di sini memiliki potensi yang luar biasa. Jadi di sini bukan sekadar kelas yang hanya mendengarkan materi, lebih dari itu kita belajar untuk bertahan,” pungkas Wikaldi.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Sesi materi dalam program ruang bisnis yang dibimbing langsung oleh para mentor sekaligus penggerak program ini. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Di tengah menjamurnya semangat berbisnis di kalangan anak muda, program inkubasi Ruang Bisnis (RB) yang berada di bawah naungan Sinergi Receh Group menjadi sorotan.
Program yang didirikan sejak 2019 oleh empat inisiator muda Yusuf Hadi Muslim, Hendry Very, Ajie Nugrah, dan Hafiz Dzaki ini bertujuan menciptakan ‘local hero’ baru di daerah, khususnya Kalimantan Timur, dengan menggali potensi bisnis lokal yang ada.
Ruang Bisnis didirikan atas dasar keresahan melihat potensi bisnis di daerah yang belum tergarap maksimal.
Mereka berkomitmen untuk membuktikan bahwa memulai bisnis tidak harus dengan modal besar, melainkan dengan komitmen dan konsistensi.
Program inkubasi ini telah memasuki Batch ke-6. Berbeda dengan bootcamp bisnis pada umumnya, Ruang Bisnis menekankan pada praktik langsung di lapangan.
Peserta mendapatkan porsi pendampingan yang didominasi praktik, yakni 30 persen teori dan 70 persen praktik. Para peserta secara langsung dituntut untuk berdagang dan menguji ide bisnis mereka.
Salah satu bukti kesuksesan program ini terlihat dari Batch ke-5. Kelompok Nakama, yang fokus berjualan katsu kaki lima di Jalan Milono, sukses besar.
Saat ini, Nakama dilaporkan telah mencatatkan omzet hingga ratusan juta rupiah. Tak hanya Nakama, banyak bisnis lain yang kini berada dalam naungan Sinergi Receh dan telah mendapatkan modal awal (pendanaan).
Salah satu peserta yang baru bergabung di Batch ke-6 adalah Wikaldi. Wikaldi yang sebelumnya bekerja di bidang advertising (periklanan), kini memutuskan mengambil langkah berani di Ruang Bisnis untuk melakukan lompatan karir dan terjun langsung ke dunia usaha.
Menurutnya, berbisnis adalah sebuah keharusan bagi Generasi Z (Gen Z) saat ini. Tuntutan hidup dan gaya hidup yang terus meningkat membuat gaji dari pekerjaan formal seringkali tidak memadai.
“Kalau kita hanya mengharapkan kerja dengan gaji yang tidak sesuai, apalagi saat ini bukan hanya tuntutan hidup, tuntutan gaya juga ada. Sehingga dengan gaji yang ada tidak cukup untuk Gen Z,” ujar Wikaldi.
Wikaldi mengakui bahwa program Ruang Bisnis ini sangat ketat. Sejak tes masuk, peserta sudah ditekankan pada komitmen dan konsistensi. Program ini benar-benar membentuk pebisnis dari nol, atau merintis.
Peserta hanya dibekali modal minim, yakni Rp1 juta, dan ditantang untuk memaksimalkan modal tersebut menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.
“Walaupun baru berjalan 3 minggu, mental saya di sini benar-benar teruji. Bagaimana tidak, kita harus memenuhi target yang sudah disepakati di awal. Ini menjadi challenge besar buat aku sendiri dan buat tim,” tambahnya.
Di Ruang Bisnis, peserta juga dituntut untuk mengedepankan kerja tim, di mana kebutuhan tim harus didahulukan daripada kebutuhan pribadi. Wikaldi bahkan harus merelakan sebagian waktu dari pekerjaan utamanya untuk fokus penuh di program ini.
“Saya yakin bahwa di sini memiliki potensi yang luar biasa. Jadi di sini bukan sekadar kelas yang hanya mendengarkan materi, lebih dari itu kita belajar untuk bertahan,” pungkas Wikaldi.
(Sf/Rs)