Cari disini...
Seputar Kaltim
Kapolres Kutai Timur (Kutim) AKBP Aryansyah, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Kapolres Kutai Timur (Kutim) AKBP Aryansyah mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengklik tautan yang dikirim melalui WhatsApp maupun media sosial.
Imbauan itu disampaikan menyusul maraknya kejahatan siber dengan berbagai modus, mulai dari penipuan daring, pencurian akses ilegal (illegal access), hingga penyebaran tautan berbahaya.
Menurut Aryansyah, kejahatan digital saat ini terus meningkat dan pelakunya tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari luar negeri. Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat menerima pesan dari nomor atau akun yang tidak dikenal.
"Kami sampaikan kepada warga masyarakat Kutim, hati-hati. Saat ini kejahatan digital sangat tinggi. Para pelaku kejahatan digital ini bukan hanya berada di Kutim atau Indonesia, tetapi juga banyak yang berada di luar negeri," ujar Aryansyah.
Ia menjelaskan, berdasarkan pengalaman kepolisian, pelaku kejahatan siber menggunakan berbagai modus seperti scammer, illegal access, hingga penipuan daring. Jaringannya tersebar di Indonesia maupun sejumlah negara ASEAN. Karena itu, tindak pidana siber tidak mengenal batas wilayah hukum.
Karena itu, Aryansyah mengimbau masyarakat tidak mudah percaya pada pesan yang berisi tautan atau link yang dikirim melalui WhatsApp maupun media sosial, terutama dari pihak yang tidak dikenal.
"Kalau mendapatkan pesan WhatsApp ataupun di media sosial yang mengirimkan link, jangan sekali-kali diklik. Itu sudah pasti penipuan," tegasnya.
Selain modus pengiriman tautan, Aryansyah juga mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur tawaran pekerjaan atau aktivitas di media sosial yang menjanjikan imbalan hanya dengan memberikan tanda suka (like), mengklik tautan, atau mengikuti instruksi tertentu. Menurutnya, modus tersebut pada akhirnya akan berujung pada permintaan pembayaran dengan iming-iming bonus maupun keuntungan yang lebih besar.
"Nanti ujung-ujungnya akan diminta untuk melakukan pembayaran, iming-iming nanti akan dapat bonus segala macam, tapi itu semuanya penipuan," pungkasnya.
(Sf/RS)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kapolres Kutai Timur (Kutim) AKBP Aryansyah, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Kapolres Kutai Timur (Kutim) AKBP Aryansyah mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengklik tautan yang dikirim melalui WhatsApp maupun media sosial.
Imbauan itu disampaikan menyusul maraknya kejahatan siber dengan berbagai modus, mulai dari penipuan daring, pencurian akses ilegal (illegal access), hingga penyebaran tautan berbahaya.
Menurut Aryansyah, kejahatan digital saat ini terus meningkat dan pelakunya tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari luar negeri. Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat menerima pesan dari nomor atau akun yang tidak dikenal.
"Kami sampaikan kepada warga masyarakat Kutim, hati-hati. Saat ini kejahatan digital sangat tinggi. Para pelaku kejahatan digital ini bukan hanya berada di Kutim atau Indonesia, tetapi juga banyak yang berada di luar negeri," ujar Aryansyah.
Ia menjelaskan, berdasarkan pengalaman kepolisian, pelaku kejahatan siber menggunakan berbagai modus seperti scammer, illegal access, hingga penipuan daring. Jaringannya tersebar di Indonesia maupun sejumlah negara ASEAN. Karena itu, tindak pidana siber tidak mengenal batas wilayah hukum.
Karena itu, Aryansyah mengimbau masyarakat tidak mudah percaya pada pesan yang berisi tautan atau link yang dikirim melalui WhatsApp maupun media sosial, terutama dari pihak yang tidak dikenal.
"Kalau mendapatkan pesan WhatsApp ataupun di media sosial yang mengirimkan link, jangan sekali-kali diklik. Itu sudah pasti penipuan," tegasnya.
Selain modus pengiriman tautan, Aryansyah juga mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur tawaran pekerjaan atau aktivitas di media sosial yang menjanjikan imbalan hanya dengan memberikan tanda suka (like), mengklik tautan, atau mengikuti instruksi tertentu. Menurutnya, modus tersebut pada akhirnya akan berujung pada permintaan pembayaran dengan iming-iming bonus maupun keuntungan yang lebih besar.
"Nanti ujung-ujungnya akan diminta untuk melakukan pembayaran, iming-iming nanti akan dapat bonus segala macam, tapi itu semuanya penipuan," pungkasnya.
(Sf/RS)