Seputar Kaltim

    Metode Tabur Benih Padi Bupati Kukar di Danau Semayang Tuai Sorotan, Distanak Beri Penjelasan

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Lodya A
    09 September 2026 pukul 19:34 WITA

    Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri bersama Distanak saat menabur benih padi di Danau Semayang (Dok: istimewa)

    Tenggarong — Metode tabur benih padi yang dilakukan Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri di Danau Semayang, Desa Melintang, Kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara (Kukar) pada 1 September 2026 lalu menuai sorotan dari warganet, khususnya di platform Instagram.

    Sejumlah warganet mempertanyakan efektivitas metode penanaman tersebut, mengingat benih padi yang ditabur dalam kondisi air masih tergenang, tingginya di atas mata kaki orang dewasa. Sorotan itu muncul setelah dokumentasi kegiatan penanaman padi tersebut beredar di media sosial. 

    Dalam kegiatan itu, sekitar satu ton benih padi ditebar langsung ke kawasan Danau Semayang yang masih terdapat genangan air.

    Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Perternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Farid metode tersebut bukan merupakan pola baru bagi masyarakat setempat. 

    Ia menjelaskan metode tersebut dikenal dengan istilah Tabela Dar atau tanam benih langsung di dalam air yang sudah dilakukan warga setempat sejak puluhan tahun lalu atau sekitar 1996.

    Bahkan, pola serupa kembali diterapkan pada 2015. Kala itu, petani disebut berhasil mendapatkan hasil panen.

    “Tanaman di Semayang itu sebenarnya sudah dilakukan oleh masyarakat di Danau Semayang. Itu di 1996, kalau tidak salah. Kemudian 2015 pernah dilakukan dan pernah panen di sana,” ujar Farid, Rabu (9/9/2026).

    “Dulu pernah dilakukan di daerah Banjar. Namanya Tabela Dar, tanam benih langsung dalam air. Itu sudah pernah dicoba dan tumbuh,” tambahnya.

    Dalam penerapannya, benih yang ditebar akan tenggelam ke dasar lahan yang masih digenangi air. Seiring permukaan air mengalami penyusutan, benih kemudian akan tumbuh pada lahan tersebut.

    Metode ini dipilih dengan mempertimbangkan kondisi kawasan Danau Semayang yang memiliki karakteristik lahan dan genangan air tertentu.

    Namun penerapan metode tersebut memiliki sejumlah pertimbangan, termasuk dalam mengantisipasi gangguan hama maupun hewan pada masa awal pertumbuhan tanaman.

    Untuk penanaman kali ini, benih yang digunakan merupakan varietas Inpari 32 yang dinilai memiliki ketahanan cukup baik terhadap penyakit.

    “Dengan pola tersebut, tanaman padi diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 110 hari sampai memasuki masa panen,” terangnya.

    Menurutnya, kegiatan yang dilakukan kepala daerah bersama Distanak bukan sekadar memperkenalkan metode baru dalam bercocok tanam. 

    Kehadiran pemerintah, lanjut dia, lebih diarahkan untuk memberikan dukungan kepada masyarakat yang memang telah memiliki pengalaman bertani di kawasan tersebut.

    Farid menyatakan sebelum pemerintah melakukan penanaman, masyarakat setempat telah menanam padi terlebih dahulu. Bahkan, tanaman yang ditanam warga sudah memasuki usia sekitar 12-22 hari.

    “Jadi hadirnya Pak Bupati di sana dan kami (Distanak) adalah membantu dan menyemangati petani. Ada bentuk perhatian dari pemerintah daerah untuk petani di Semayang,” tandasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Metode Tabur Benih Padi Bupati Kukar di Danau Semayang Tuai Sorotan, Distanak Beri Penjelasan

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Lodya A
    09 September 2026 pukul 19:34 WITA

    Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri bersama Distanak saat menabur benih padi di Danau Semayang (Dok: istimewa)

    Tenggarong — Metode tabur benih padi yang dilakukan Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri di Danau Semayang, Desa Melintang, Kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara (Kukar) pada 1 September 2026 lalu menuai sorotan dari warganet, khususnya di platform Instagram.

    Sejumlah warganet mempertanyakan efektivitas metode penanaman tersebut, mengingat benih padi yang ditabur dalam kondisi air masih tergenang, tingginya di atas mata kaki orang dewasa. Sorotan itu muncul setelah dokumentasi kegiatan penanaman padi tersebut beredar di media sosial. 

    Dalam kegiatan itu, sekitar satu ton benih padi ditebar langsung ke kawasan Danau Semayang yang masih terdapat genangan air.

    Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Perternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Farid metode tersebut bukan merupakan pola baru bagi masyarakat setempat. 

    Ia menjelaskan metode tersebut dikenal dengan istilah Tabela Dar atau tanam benih langsung di dalam air yang sudah dilakukan warga setempat sejak puluhan tahun lalu atau sekitar 1996.

    Bahkan, pola serupa kembali diterapkan pada 2015. Kala itu, petani disebut berhasil mendapatkan hasil panen.

    “Tanaman di Semayang itu sebenarnya sudah dilakukan oleh masyarakat di Danau Semayang. Itu di 1996, kalau tidak salah. Kemudian 2015 pernah dilakukan dan pernah panen di sana,” ujar Farid, Rabu (9/9/2026).

    “Dulu pernah dilakukan di daerah Banjar. Namanya Tabela Dar, tanam benih langsung dalam air. Itu sudah pernah dicoba dan tumbuh,” tambahnya.

    Dalam penerapannya, benih yang ditebar akan tenggelam ke dasar lahan yang masih digenangi air. Seiring permukaan air mengalami penyusutan, benih kemudian akan tumbuh pada lahan tersebut.

    Metode ini dipilih dengan mempertimbangkan kondisi kawasan Danau Semayang yang memiliki karakteristik lahan dan genangan air tertentu.

    Namun penerapan metode tersebut memiliki sejumlah pertimbangan, termasuk dalam mengantisipasi gangguan hama maupun hewan pada masa awal pertumbuhan tanaman.

    Untuk penanaman kali ini, benih yang digunakan merupakan varietas Inpari 32 yang dinilai memiliki ketahanan cukup baik terhadap penyakit.

    “Dengan pola tersebut, tanaman padi diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 110 hari sampai memasuki masa panen,” terangnya.

    Menurutnya, kegiatan yang dilakukan kepala daerah bersama Distanak bukan sekadar memperkenalkan metode baru dalam bercocok tanam. 

    Kehadiran pemerintah, lanjut dia, lebih diarahkan untuk memberikan dukungan kepada masyarakat yang memang telah memiliki pengalaman bertani di kawasan tersebut.

    Farid menyatakan sebelum pemerintah melakukan penanaman, masyarakat setempat telah menanam padi terlebih dahulu. Bahkan, tanaman yang ditanam warga sudah memasuki usia sekitar 12-22 hari.

    “Jadi hadirnya Pak Bupati di sana dan kami (Distanak) adalah membantu dan menyemangati petani. Ada bentuk perhatian dari pemerintah daerah untuk petani di Semayang,” tandasnya.

    (Sf/Lo)