Seputar Kaltim

    Menkes Sebut 28 Juta Orang Alami Masalah Kejiwaan, Kaltim Siapkan RS Atma Husada jadi Pusat Rujukan

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    31 Maret 2026 pukul 14:15 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim), Jaya Mualimin. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)

    Samarinda - Peringatan keras disampaikan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin. Ia mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa sekitar 28 juta dari 287 juta penduduk Indonesia saat ini tengah berjuang menghadapi masalah kejiwaan.

    Angka fantastis ini ibarat fenomena gunung es yang menuntut respons cepat dari pemerintah daerah, tak terkecuali di Kalimantan Timur (Kaltim).

    Fakta nasional tersebut ternyata selaras dengan realitas di lapangan yang ditemukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltim.

    Melalui program Asta Cita berupa Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menyasar seluruh segmen umur dari bayi hingga lansia, ancaman krisis mental ini terbukti nyata adanya.

    Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, membenarkan bahwa hasil skrining kesehatan di daerahnya tidak hanya didominasi oleh penyakit fisik, tetapi juga masalah psikologis.

    "Temuannya bukan hanya terkait kesehatan mental. Dari segmen bayi hingga lansia, yang paling banyak ditemukan adalah penyakit hipertensi dan jantung. Namun, ada juga gangguan psikologis seperti depresi yang berhasil kita petakan," ungkap Jaya di Samarinda, Selasa (31/3/2026).

    Menyadari tren depresi dan gangguan psikologis yang semakin mengkhawatirkan di tengah masyarakat, Pemprov Kaltim tidak tinggal diam. Langkah yang disiapkan melalui transformasi infrastruktur kesehatan berskala besar.

    Fokus utamanya adalah Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada yang berlokasi di Samarinda. Merespons regulasi nasional yang kini tidak lagi mengenal status rumah sakit khusus, RSJD Atma Husada sedang dalam tahap transisi untuk menjadi Rumah Sakit Umum.

    Namun, yang menjadi nilai jual utamanya adalah keunggulan pada pelayanan jiwa.

    "RSJD Atma Husada ini yang nantinya akan diintegrasikan dengan lahan eks Rumah Sakit Islam. Aset harus dimanfaatkan seefektif mungkin untuk layanan publik sesuai arahan Pak Gubernur," tegasnya.

    Langkah integrasi ini dinilai sangat krusial. Lahan eks RS Islam yang strategis di tengah kota akan disulap untuk menopang kebutuhan fasilitas RS Atma Husada.

    Nantinya, jika terjadi lonjakan pasien atau jika Atma Husada kekurangan ruang operasi maupun bangsal umum, fasilitas di eks RS Islam ini akan langsung difungsikan.

    Saat ini, pihak Dinkes dan Pemprov Kaltim tengah mengintensifkan komunikasi dengan pihak yayasan dan BPKP untuk menghitung ulang inventaris serta memastikan legalitas lahan berjalan mulus.

    Di luar penyiapan infrastruktur rumah sakit yang mumpuni, Dinkes Kaltim juga terus mengampanyekan langkah pencegahan dari hulu.

    Temuan tingginya angka depresi yang dibarengi dengan penyakit metabolik seperti hipertensi dan diabetes mendorong pemerintah untuk gencar mengedukasi masyarakat terkait gaya hidup.

    Pembatasan konsumsi Gula, Garam, dan Lemak (GGL) menjadi kampanye utama, mengingat kuatnya pengaruh pola makan masyarakat Indonesia saat ini.

    Bahkan, fondasi kesehatan mental dan fisik ini ditekankan sejak dini melalui pentingnya pemberian ASI Eksklusif selama enam bulan penuh bagi bayi, tanpa intervensi makanan atau minuman lain.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Menkes Sebut 28 Juta Orang Alami Masalah Kejiwaan, Kaltim Siapkan RS Atma Husada jadi Pusat Rujukan

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    31 Maret 2026 pukul 14:15 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim), Jaya Mualimin. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)

    Samarinda - Peringatan keras disampaikan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin. Ia mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa sekitar 28 juta dari 287 juta penduduk Indonesia saat ini tengah berjuang menghadapi masalah kejiwaan.

    Angka fantastis ini ibarat fenomena gunung es yang menuntut respons cepat dari pemerintah daerah, tak terkecuali di Kalimantan Timur (Kaltim).

    Fakta nasional tersebut ternyata selaras dengan realitas di lapangan yang ditemukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltim.

    Melalui program Asta Cita berupa Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menyasar seluruh segmen umur dari bayi hingga lansia, ancaman krisis mental ini terbukti nyata adanya.

    Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, membenarkan bahwa hasil skrining kesehatan di daerahnya tidak hanya didominasi oleh penyakit fisik, tetapi juga masalah psikologis.

    "Temuannya bukan hanya terkait kesehatan mental. Dari segmen bayi hingga lansia, yang paling banyak ditemukan adalah penyakit hipertensi dan jantung. Namun, ada juga gangguan psikologis seperti depresi yang berhasil kita petakan," ungkap Jaya di Samarinda, Selasa (31/3/2026).

    Menyadari tren depresi dan gangguan psikologis yang semakin mengkhawatirkan di tengah masyarakat, Pemprov Kaltim tidak tinggal diam. Langkah yang disiapkan melalui transformasi infrastruktur kesehatan berskala besar.

    Fokus utamanya adalah Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada yang berlokasi di Samarinda. Merespons regulasi nasional yang kini tidak lagi mengenal status rumah sakit khusus, RSJD Atma Husada sedang dalam tahap transisi untuk menjadi Rumah Sakit Umum.

    Namun, yang menjadi nilai jual utamanya adalah keunggulan pada pelayanan jiwa.

    "RSJD Atma Husada ini yang nantinya akan diintegrasikan dengan lahan eks Rumah Sakit Islam. Aset harus dimanfaatkan seefektif mungkin untuk layanan publik sesuai arahan Pak Gubernur," tegasnya.

    Langkah integrasi ini dinilai sangat krusial. Lahan eks RS Islam yang strategis di tengah kota akan disulap untuk menopang kebutuhan fasilitas RS Atma Husada.

    Nantinya, jika terjadi lonjakan pasien atau jika Atma Husada kekurangan ruang operasi maupun bangsal umum, fasilitas di eks RS Islam ini akan langsung difungsikan.

    Saat ini, pihak Dinkes dan Pemprov Kaltim tengah mengintensifkan komunikasi dengan pihak yayasan dan BPKP untuk menghitung ulang inventaris serta memastikan legalitas lahan berjalan mulus.

    Di luar penyiapan infrastruktur rumah sakit yang mumpuni, Dinkes Kaltim juga terus mengampanyekan langkah pencegahan dari hulu.

    Temuan tingginya angka depresi yang dibarengi dengan penyakit metabolik seperti hipertensi dan diabetes mendorong pemerintah untuk gencar mengedukasi masyarakat terkait gaya hidup.

    Pembatasan konsumsi Gula, Garam, dan Lemak (GGL) menjadi kampanye utama, mengingat kuatnya pengaruh pola makan masyarakat Indonesia saat ini.

    Bahkan, fondasi kesehatan mental dan fisik ini ditekankan sejak dini melalui pentingnya pemberian ASI Eksklusif selama enam bulan penuh bagi bayi, tanpa intervensi makanan atau minuman lain.

    (Sf/Rs)