Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Daging kambing selama ini kerap dianggap sebagai penyebab kolesterol tinggi dan tekanan darah naik, terutama saat momen Iduladha. Namun anggapan tersebut dibantah langsung Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin melalui unggahan media sosialnya.
Melalui akun Instagram pribadinya @bgsadikin, Menteri Kesehatan menyebut daging kambing justru memiliki kandungan lemak jenuh lebih rendah dibanding daging sapi.
“Kasihan nih si kambing selalu dituduh menjadi kambing hitam,” ujar Budi Gunadi dalam video yang diunggah di Instagram.
Ia menjelaskan, dalam setiap 100 gram daging kambing hanya terdapat sekitar 0,8 gram lemak jenuh. Sementara pada jumlah yang sama, daging sapi mengandung sekitar 3 gram lemak jenuh.
Menurutnya, peningkatan kolesterol maupun tekanan darah saat Iduladha bukan semata karena daging kambing, melainkan cara pengolahannya yang berlebihan.
“Yang salah bukan kambingnya. Yang salah adalah cara masaknya,” katanya.
Ia mencontohkan penggunaan santan berlebihan, tambahan jeroan, garam tinggi, hingga gula dalam proses memasak justru menjadi faktor utama yang memicu gangguan kesehatan.
Selain meluruskan stigma soal daging kambing, Menkes juga menyoroti tingginya kandungan protein pada daging kurban yang dinilai baik untuk kesehatan tubuh.
Dalam unggahan tersebut dijelaskan, setiap 100 gram daging sapi mengandung sekitar 26 gram protein yang penting untuk pembentukan otot, pemulihan tubuh setelah olahraga, hingga menjaga daya tahan tubuh.
Protein dalam daging bahkan disebut setara dengan kandungan protein pada suplemen whey protein dengan harga jutaan.
Momen Iduladha pun dinilai bisa menjadi kesempatan masyarakat meningkatkan asupan protein hewani yang berkualitas, selama tetap memperhatikan pola pengolahan makanan yang sehat dan seimbang.
Kementerian Kesehatan RI juga mengingatkan masyarakat agar mengolah daging kurban dengan cara yang lebih sehat, seperti mengurangi penggunaan santan berlebih, membatasi konsumsi jeroan, serta memperbanyak sayur dan buah sebagai pendamping.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Daging kambing selama ini kerap dianggap sebagai penyebab kolesterol tinggi dan tekanan darah naik, terutama saat momen Iduladha. Namun anggapan tersebut dibantah langsung Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin melalui unggahan media sosialnya.
Melalui akun Instagram pribadinya @bgsadikin, Menteri Kesehatan menyebut daging kambing justru memiliki kandungan lemak jenuh lebih rendah dibanding daging sapi.
“Kasihan nih si kambing selalu dituduh menjadi kambing hitam,” ujar Budi Gunadi dalam video yang diunggah di Instagram.
Ia menjelaskan, dalam setiap 100 gram daging kambing hanya terdapat sekitar 0,8 gram lemak jenuh. Sementara pada jumlah yang sama, daging sapi mengandung sekitar 3 gram lemak jenuh.
Menurutnya, peningkatan kolesterol maupun tekanan darah saat Iduladha bukan semata karena daging kambing, melainkan cara pengolahannya yang berlebihan.
“Yang salah bukan kambingnya. Yang salah adalah cara masaknya,” katanya.
Ia mencontohkan penggunaan santan berlebihan, tambahan jeroan, garam tinggi, hingga gula dalam proses memasak justru menjadi faktor utama yang memicu gangguan kesehatan.
Selain meluruskan stigma soal daging kambing, Menkes juga menyoroti tingginya kandungan protein pada daging kurban yang dinilai baik untuk kesehatan tubuh.
Dalam unggahan tersebut dijelaskan, setiap 100 gram daging sapi mengandung sekitar 26 gram protein yang penting untuk pembentukan otot, pemulihan tubuh setelah olahraga, hingga menjaga daya tahan tubuh.
Protein dalam daging bahkan disebut setara dengan kandungan protein pada suplemen whey protein dengan harga jutaan.
Momen Iduladha pun dinilai bisa menjadi kesempatan masyarakat meningkatkan asupan protein hewani yang berkualitas, selama tetap memperhatikan pola pengolahan makanan yang sehat dan seimbang.
Kementerian Kesehatan RI juga mengingatkan masyarakat agar mengolah daging kurban dengan cara yang lebih sehat, seperti mengurangi penggunaan santan berlebih, membatasi konsumsi jeroan, serta memperbanyak sayur dan buah sebagai pendamping.
(Sf/Lo)