Cari disini...
Seputar Kaltim
Infografis mengenai capaian prestasi Kaltim di 5 Edisi PON. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Ambisi Kalimantan Timur (Kaltim) untuk menembus dominasi tiga besar nasional di Pekan Olahraga Nasional (PON) semakin nyaring terdengar.
Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud secara terbuka menjanjikan bonus medali emas hingga Rp1 miliar bagi atlet jika kontingen Bumi Etam mampu meraih gelar juara umum pada PON XXII di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTB-NTT) tahun 2028 mendatang.
Janji fantastis itu disampaikan Rudy Mas'ud saat memberikan sambutan dalam acara penyerahan apreasiasi atlet, pada Kamis (27/11/2025).
Ia menyebut, bonus Rp300 juta yang saat ini diberikan terlalu kecil.
"Mudah-mudahan ke depan paling minimum Rp500 juta lah ya (bonus medali emas). Tapi ada tapinya, harus juara nasional (juara umum)," ujar Harum panggilan akrab Rudy Mas'ud.
Ia bahkan melontarkan angka tertinggi. "Mudah-mudahan cukup anggarannya, ya satu miliar rupiah lah. Tapi harus juara nasional," janjinya.
Target ini, yang diamini oleh Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal, yang juga berperan sebagai juru bicara prestasi daerah, menimbulkan pertanyaan besar. Seberapa realistis target juara umum Kaltim, mengingat ketatnya peta persaingan PON selama ini.
Pencapaian Kaltim dalam lima edisi PON terakhir menunjukkan grafik yang sangat fluktuatif dan cenderung menurun. Puncak prestasi Kaltim terjadi saat menjadi tuan rumah PON XVII tahun 2008, di mana kontingen Bumi Etam berhasil menempati Peringkat 3 dengan raihan 116 medali emas.
Namun, posisi tersebut sulit dipertahankan. Pada PON XVIII 2012 di Riau, posisi Kaltim merosot ke Peringkat 5 dengan hanya mengumpulkan 44 medali emas. Kemerosotan berlanjut pada PON XIX 2016 di Jawa Barat, meski tetap berada di Peringkat 5, Kaltim hanya mengamankan 25 medali emas.
Tren penurunan paling signifikan terlihat dalam dua edisi terakhir. Pada PON XX 2021 di Papua, Kaltim terlempar dari lima besar dan finis di Peringkat 8 dengan 12 medali emas.
Terakhir, pada PON XXI 2024 di Aceh dan Sumatera Utara, meskipun perolehan emas meningkat menjadi 29 keping, posisi Kaltim tetap stagnan di Peringkat 8 klasemen akhir.
Data ini menunjukkan bahwa Kaltim gagal masuk lima besar dalam tiga edisi PON berturut-turut setelah PON 2012.
Target juara umum berarti Kaltim harus mampu menggeser hegemoni trio langganan juara, yakni Jawa Barat (Jabar), DKI Jakarta, dan Jawa Timur (Jatim). Sejak 2008, ketiga kontingen ini selalu mendominasi posisi tiga besar.
Hasil PON 2024 di Aceh-Sumut secara tegas memperlihatkan jurang kekuatan yang lebar antara Kaltim dan tim terkuat nasional, Jawa Barat memimpin dengan 195 medali emas. DKI Jakarta menyusul ketat dengan 184 emas. Ketiga, Jawa Timur dengan 146 emas.
Sementara itu, Kaltim hanya meraih 29 medali emas di peringkat delapan. Dengan demikian, selisih medali emas Kaltim dan tim peringkat ketiga (Jatim) mencapai 117 keping.
Untuk menjadi juara umum, Kaltim tidak hanya perlu menggandakan, tetapi setidaknya harus melipatgandakan perolehan medalinya hingga lima kali lipat dalam waktu empat tahun.
Janji bonus medali emas Rp1 miliar oleh Wagub Harum bisa menjadi stimulus, namun realisasi target juara umum 2028 menuntut perombakan total dalam sistem pembinaan dan ketersediaan anggaran yang masif untuk menandingi kekuatan tim-tim raksasa PON.
"Man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh, insya Allah pasti berhasil," tutup Harum.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Infografis mengenai capaian prestasi Kaltim di 5 Edisi PON. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Ambisi Kalimantan Timur (Kaltim) untuk menembus dominasi tiga besar nasional di Pekan Olahraga Nasional (PON) semakin nyaring terdengar.
Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud secara terbuka menjanjikan bonus medali emas hingga Rp1 miliar bagi atlet jika kontingen Bumi Etam mampu meraih gelar juara umum pada PON XXII di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTB-NTT) tahun 2028 mendatang.
Janji fantastis itu disampaikan Rudy Mas'ud saat memberikan sambutan dalam acara penyerahan apreasiasi atlet, pada Kamis (27/11/2025).
Ia menyebut, bonus Rp300 juta yang saat ini diberikan terlalu kecil.
"Mudah-mudahan ke depan paling minimum Rp500 juta lah ya (bonus medali emas). Tapi ada tapinya, harus juara nasional (juara umum)," ujar Harum panggilan akrab Rudy Mas'ud.
Ia bahkan melontarkan angka tertinggi. "Mudah-mudahan cukup anggarannya, ya satu miliar rupiah lah. Tapi harus juara nasional," janjinya.
Target ini, yang diamini oleh Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal, yang juga berperan sebagai juru bicara prestasi daerah, menimbulkan pertanyaan besar. Seberapa realistis target juara umum Kaltim, mengingat ketatnya peta persaingan PON selama ini.
Pencapaian Kaltim dalam lima edisi PON terakhir menunjukkan grafik yang sangat fluktuatif dan cenderung menurun. Puncak prestasi Kaltim terjadi saat menjadi tuan rumah PON XVII tahun 2008, di mana kontingen Bumi Etam berhasil menempati Peringkat 3 dengan raihan 116 medali emas.
Namun, posisi tersebut sulit dipertahankan. Pada PON XVIII 2012 di Riau, posisi Kaltim merosot ke Peringkat 5 dengan hanya mengumpulkan 44 medali emas. Kemerosotan berlanjut pada PON XIX 2016 di Jawa Barat, meski tetap berada di Peringkat 5, Kaltim hanya mengamankan 25 medali emas.
Tren penurunan paling signifikan terlihat dalam dua edisi terakhir. Pada PON XX 2021 di Papua, Kaltim terlempar dari lima besar dan finis di Peringkat 8 dengan 12 medali emas.
Terakhir, pada PON XXI 2024 di Aceh dan Sumatera Utara, meskipun perolehan emas meningkat menjadi 29 keping, posisi Kaltim tetap stagnan di Peringkat 8 klasemen akhir.
Data ini menunjukkan bahwa Kaltim gagal masuk lima besar dalam tiga edisi PON berturut-turut setelah PON 2012.
Target juara umum berarti Kaltim harus mampu menggeser hegemoni trio langganan juara, yakni Jawa Barat (Jabar), DKI Jakarta, dan Jawa Timur (Jatim). Sejak 2008, ketiga kontingen ini selalu mendominasi posisi tiga besar.
Hasil PON 2024 di Aceh-Sumut secara tegas memperlihatkan jurang kekuatan yang lebar antara Kaltim dan tim terkuat nasional, Jawa Barat memimpin dengan 195 medali emas. DKI Jakarta menyusul ketat dengan 184 emas. Ketiga, Jawa Timur dengan 146 emas.
Sementara itu, Kaltim hanya meraih 29 medali emas di peringkat delapan. Dengan demikian, selisih medali emas Kaltim dan tim peringkat ketiga (Jatim) mencapai 117 keping.
Untuk menjadi juara umum, Kaltim tidak hanya perlu menggandakan, tetapi setidaknya harus melipatgandakan perolehan medalinya hingga lima kali lipat dalam waktu empat tahun.
Janji bonus medali emas Rp1 miliar oleh Wagub Harum bisa menjadi stimulus, namun realisasi target juara umum 2028 menuntut perombakan total dalam sistem pembinaan dan ketersediaan anggaran yang masif untuk menandingi kekuatan tim-tim raksasa PON.
"Man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh, insya Allah pasti berhasil," tutup Harum.
(Sf/Rs)