Seputar Kaltim

    Mengenal Makna Pengorbanan dan Syukur di Balik Tradisi 'Nutuk Beham' Desa Adat Kedang Ipil

    Penulis:Maulana|Redaktur:Lodya A
    24 April 2026 pukul 14:58 WITA

    Prosesi Nutuk Beham yang dilakukan oleh warga Desa Wisata Kedang Ipil. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)

    Samarinda - Indonesia kaya akan tradisi dan budaya yang lahir dari kearifan lokal masa lampau. Di Desa Adat Kedang Ipil, terdapat sebuah tradisi panen padi muda yang dikenal dengan sebutan Nutuk Beham. 

    Di balik kemeriahan perayaan syukuran panen ini, tersimpan sebuah legenda leluhur yang sarat akan nilai spiritual tentang pengorbanan seorang anak.

    Wakil Kepala Adat Kedang Ipil, Sartin menuturkan tradisi Nutuk Beham tidak bisa dilepaskan dari sebuah kisah mitologi turun-temurun tentang sebuah keluarga petani di masa lampau.

    Menurut penuturannya, kisah ini bermula dari sebuah petaka yang menimpa keluarga tersebut. Akibat salah satu anggota keluarga yang menikah dengan entitas dari "Tambing Seberang" yakni tempat yang diyakini sebagai sarang raja iblis dan sumber penyakit.

    Lumbung padi mereka habis dimakan hama tak bersisa. Keluarga tersebut jatuh miskin dan kehilangan seluruh bibit untuk menanam kembali.

    Di tengah keputusasaan dan berbagai rentetan kejadian ajaib, termasuk terbakarnya ladang mereka akibat keajaiban seekor udang emas, keluarga tersebut menemukan seorang bayi perempuan dari kebun bunga di dalam rumah mereka. 

    Bayi tersebut kemudian dirawat dengan penuh kasih sayang hingga tumbuh besar. Namun, ujian sesungguhnya tiba ketika musim tanam dimulai. Keluarga tersebut mendapat petunjuk gaib melalui mimpi yang memerintahkan sebuah pengorbanan besar.

    "Mimpinya memerintahkan bahwa anak kesayangan itu harus dipotong-potong, lalu jasadnya dihamburkan ke lahan sebagai bibit," ungkap Sartin. 

    Sang anak dengan tulus menyetujui hal tersebut dan bahkan mengajarkan tata cara pembuatan embokan atau lembu, yakni sebuah titik pusat di ladang untuk mengumpulkan perwakilan setiap varietas padi, sebuah metode yang masih digunakan oleh petani Kedang Ipil hingga hari ini.

    Keajaiban terjadi setelah pengorbanan tersebut. Tiga malam setelah jasad ditabur, padi tumbuh dengan sangat subur, diiringi tanaman tumpang sari seperti labu dan timun suri yang diyakini sebagai huluntu atau dayang (pelayan) dari sang anak. Puncak dari legenda ini terjadi menjelang masa panen. 

    Terdapat satu bulir padi raksasa sebesar guci yang memancarkan aura magis. Ketika dipetik dan disimpan selama tiga malam, bulir padi tersebut pecah dan secara ajaib, sang anak yang telah dikorbankan keluar dari dalamnya dalam keadaan hidup.

    Kembalinya sang anak disambut dengan sorak-sorai sukacita. Keluarga tersebut kemudian menggelar perayaan besar selama tujuh hari dengan memanen padi muda. Perayaan inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya tradisi Nutuk Beham.

    "Nutuk Beham pada dasarnya adalah selamatan. Sebuah ucapan syukur yang luar biasa karena anak yang tadi dicincang untuk dijadikan bibit ternyata bisa kembali," jelasnya saat ditanya mengenai makna spiritual tradisi tersebut. 

    "Dari sesuatu yang rasanya tidak mungkin ada lagi, ternyata dia tumbuh dan hidup lagi di dalam padi itu," lanjutnya.

    Kini, Nutuk Beham tidak hanya menjadi ritual siklus pertanian tahunan bagi masyarakat Kedang Ipil, tetapi juga menjadi pengingat yang indah tentang cinta, pengorbanan tanpa pamrih dan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas anugerah alam yang menghidupi mereka.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Mengenal Makna Pengorbanan dan Syukur di Balik Tradisi 'Nutuk Beham' Desa Adat Kedang Ipil

    Penulis:Maulana|Redaktur:Lodya A
    24 April 2026 pukul 14:58 WITA

    Prosesi Nutuk Beham yang dilakukan oleh warga Desa Wisata Kedang Ipil. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)

    Samarinda - Indonesia kaya akan tradisi dan budaya yang lahir dari kearifan lokal masa lampau. Di Desa Adat Kedang Ipil, terdapat sebuah tradisi panen padi muda yang dikenal dengan sebutan Nutuk Beham. 

    Di balik kemeriahan perayaan syukuran panen ini, tersimpan sebuah legenda leluhur yang sarat akan nilai spiritual tentang pengorbanan seorang anak.

    Wakil Kepala Adat Kedang Ipil, Sartin menuturkan tradisi Nutuk Beham tidak bisa dilepaskan dari sebuah kisah mitologi turun-temurun tentang sebuah keluarga petani di masa lampau.

    Menurut penuturannya, kisah ini bermula dari sebuah petaka yang menimpa keluarga tersebut. Akibat salah satu anggota keluarga yang menikah dengan entitas dari "Tambing Seberang" yakni tempat yang diyakini sebagai sarang raja iblis dan sumber penyakit.

    Lumbung padi mereka habis dimakan hama tak bersisa. Keluarga tersebut jatuh miskin dan kehilangan seluruh bibit untuk menanam kembali.

    Di tengah keputusasaan dan berbagai rentetan kejadian ajaib, termasuk terbakarnya ladang mereka akibat keajaiban seekor udang emas, keluarga tersebut menemukan seorang bayi perempuan dari kebun bunga di dalam rumah mereka. 

    Bayi tersebut kemudian dirawat dengan penuh kasih sayang hingga tumbuh besar. Namun, ujian sesungguhnya tiba ketika musim tanam dimulai. Keluarga tersebut mendapat petunjuk gaib melalui mimpi yang memerintahkan sebuah pengorbanan besar.

    "Mimpinya memerintahkan bahwa anak kesayangan itu harus dipotong-potong, lalu jasadnya dihamburkan ke lahan sebagai bibit," ungkap Sartin. 

    Sang anak dengan tulus menyetujui hal tersebut dan bahkan mengajarkan tata cara pembuatan embokan atau lembu, yakni sebuah titik pusat di ladang untuk mengumpulkan perwakilan setiap varietas padi, sebuah metode yang masih digunakan oleh petani Kedang Ipil hingga hari ini.

    Keajaiban terjadi setelah pengorbanan tersebut. Tiga malam setelah jasad ditabur, padi tumbuh dengan sangat subur, diiringi tanaman tumpang sari seperti labu dan timun suri yang diyakini sebagai huluntu atau dayang (pelayan) dari sang anak. Puncak dari legenda ini terjadi menjelang masa panen. 

    Terdapat satu bulir padi raksasa sebesar guci yang memancarkan aura magis. Ketika dipetik dan disimpan selama tiga malam, bulir padi tersebut pecah dan secara ajaib, sang anak yang telah dikorbankan keluar dari dalamnya dalam keadaan hidup.

    Kembalinya sang anak disambut dengan sorak-sorai sukacita. Keluarga tersebut kemudian menggelar perayaan besar selama tujuh hari dengan memanen padi muda. Perayaan inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya tradisi Nutuk Beham.

    "Nutuk Beham pada dasarnya adalah selamatan. Sebuah ucapan syukur yang luar biasa karena anak yang tadi dicincang untuk dijadikan bibit ternyata bisa kembali," jelasnya saat ditanya mengenai makna spiritual tradisi tersebut. 

    "Dari sesuatu yang rasanya tidak mungkin ada lagi, ternyata dia tumbuh dan hidup lagi di dalam padi itu," lanjutnya.

    Kini, Nutuk Beham tidak hanya menjadi ritual siklus pertanian tahunan bagi masyarakat Kedang Ipil, tetapi juga menjadi pengingat yang indah tentang cinta, pengorbanan tanpa pamrih dan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas anugerah alam yang menghidupi mereka.

    (Sf/Lo)