Seputar Kaltim

    Mengenal Bachtiar, Sosok Penggerak Kebersihan Sungai Karang Mumus

    Penulis:Maulana|Redaktur:Buniyamin
    26 Mei 2023 pukul 22:11 WITA

    Kordinator Lapangan Gerakan Memungut Sehelai Sampah- Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM), Bachtiar. (Foto: Istimewa)

    Samarinda - Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih masih rendah.

    Ini bisa dilihat dari cara membuang sampah dan tanpa sadar membuang di tempat yang tidak seharusnya. Contohnya seperti taman, jalan publik, hingga dibuang ke sungai.

    Kegiatan tersebut menjadi hal yang maklum bagi warga bantaran Sungai Karang Mumus (SKM). Dengan mudah mereka membuangnya dari celah jendela.

    Bukan hanya itu, pengunjung warung kopi di tepian SKM melempar sampah ke sungai dari genggaman tangannya.

    Namun kebiasaan ini bertentangan dengan prinsip 
    Bachtiar, pria 52 tahun ini menentang perlakuan masyarakat yang membuang sampah di sembarangan tempat, apalagi yang tinggal di bantaran SKM.

    Sejak 2000, Pemerintah Kota Samarinda tidak menerapkan kembali program Kali (Sungai) Bersih. Alhasil, masyarakat yang melintasi kawasan tersebut menjadikan SKM sebagai tong sampah. 

    Pengakuan dari Bachtiar, SKM saat itu airnya sudah hitam pekat dan warga sekitar tidak peduli akan hal itu. "Mereka membuang sampah dihadapan kami sudah tidak sungkan-sungkan lagi, bahkan air mulai menghitam pun takdiperdulikan," ungkap Iyau, Sapaanya.

    Mulai 2014, kesadaran Iyau muncul bersama teman-teman untuk membersihkan sampah di pinggir sungai Jalan Abdul Muthalib, di mana tempat tersebut adalah tempat tongkrongan mereka.

    "Saya bersama Dede mulai membersihkan sampah yang nyangkut di pinggir tempat kita nongkrong sampai dermaga, kami memungut sampah tersebut," ujarnya.

    Setelah berjalan beberapa Minggu, Dede memperkenalkan Iyau kepada Misman yang sama-sama memiliki keresahan dan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

    Misman sudah diketahui oleh Iyau lebih dahulu, bahwa mrlakukan pemungutan sampah sendirian. Bahkan Misman sudah menyusuri hingga hulu SKM melalui jalur darat.

    Mereka bersama mulai menyusur sungai, tapi dalam perjalanan mereka mendapatkan kendala sehingga perlu waktu yang panjang untuk membersihkan dahulu.

    "Kami mau dekat dengan sungai, tentu kita harus tau SKM hingga ke hulu. Ketika kita menyusuri sungai, di bawah jembatan Unmul tersebut tidak bisa dilalui, karena banyak tumbuhan disitu dan sampah yang menumpuk, sehingga menutupi jalan kami, sehingga perlu waktu untuk membersihkan," jelasnya.

    Pria kelahiran Amuntai, Kalimantan Selatan ini juga berupaya menumbuhkan kesadaran masyarakat Samarinda, bersama Misman ingin membuat gerakan yang melibatkan masyarakat.

    Dibantu oleh PWI Kaltim, mereka mendirikan organisasi Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) pada 2015 silam.

    "Kalau kita mau bersama masyarakat maka harus punya tempat dan nama, agar warga Samarinda tahu keberadaan kami," imbuhnya.

    Dalam perjalanan organisasi, Iyau masih belum puas dalam gerakan yang dibangun. Akhirnya mereka mendirikan Sekolah Sungai sebagai langkah pemahaman lebih terhadap masyarakat.

    "Pada 2016 akhir kami membentuk Sekolah Sungai, gerakan kita bukan hanya gerakan untuk memungut sampah tetapi juga melestarikan pohon di sepanjang sungai maupun budidaya endemi lainny dan juga memahami restorasi sungai," paparnya.

    Sebagai aktivis lingkungan hidup, Iyau mempelajari sungai dari berbagai orang yang datang ke Sekolah Sungai, salah satunya Khairudin dari UGM.

    Khairudin bersama mahasiswa pascasarjana mengajar di Sekolah Sungai dan Iyau selalu mendengarkan materi yang disampaikan olehnya serta mendalami ilmu hidrologi dan lainnya.

    Selain itu, Iyau pernah menuntut ilmu  di SMA Negeri 1 Samarinda mengambil jurusan Biologi hingga 1990 dan sedikit paham mengenai lingkungan.

    Pengetahuannya terhadap lingkungan didukung ketika mengikuti ekstrakulikuler di masa SMA, yakni Ikatan Pemuda Pencinta Alam (IPPA) SMAN 1 Samarinda.

    Iyau berpesan kepada para masyarakat untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan.

    "Saya berharap kepada semua elemen masyarakat untuk bisa menjaga alam kita, karena dari alam kita hidup dengan nyaman," tutupnya.

    (Sf/By)

    Seputar Kaltim

    Mengenal Bachtiar, Sosok Penggerak Kebersihan Sungai Karang Mumus

    Penulis:Maulana|Redaktur:Buniyamin
    26 Mei 2023 pukul 22:11 WITA

    Kordinator Lapangan Gerakan Memungut Sehelai Sampah- Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM), Bachtiar. (Foto: Istimewa)

    Samarinda - Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih masih rendah.

    Ini bisa dilihat dari cara membuang sampah dan tanpa sadar membuang di tempat yang tidak seharusnya. Contohnya seperti taman, jalan publik, hingga dibuang ke sungai.

    Kegiatan tersebut menjadi hal yang maklum bagi warga bantaran Sungai Karang Mumus (SKM). Dengan mudah mereka membuangnya dari celah jendela.

    Bukan hanya itu, pengunjung warung kopi di tepian SKM melempar sampah ke sungai dari genggaman tangannya.

    Namun kebiasaan ini bertentangan dengan prinsip 
    Bachtiar, pria 52 tahun ini menentang perlakuan masyarakat yang membuang sampah di sembarangan tempat, apalagi yang tinggal di bantaran SKM.

    Sejak 2000, Pemerintah Kota Samarinda tidak menerapkan kembali program Kali (Sungai) Bersih. Alhasil, masyarakat yang melintasi kawasan tersebut menjadikan SKM sebagai tong sampah. 

    Pengakuan dari Bachtiar, SKM saat itu airnya sudah hitam pekat dan warga sekitar tidak peduli akan hal itu. "Mereka membuang sampah dihadapan kami sudah tidak sungkan-sungkan lagi, bahkan air mulai menghitam pun takdiperdulikan," ungkap Iyau, Sapaanya.

    Mulai 2014, kesadaran Iyau muncul bersama teman-teman untuk membersihkan sampah di pinggir sungai Jalan Abdul Muthalib, di mana tempat tersebut adalah tempat tongkrongan mereka.

    "Saya bersama Dede mulai membersihkan sampah yang nyangkut di pinggir tempat kita nongkrong sampai dermaga, kami memungut sampah tersebut," ujarnya.

    Setelah berjalan beberapa Minggu, Dede memperkenalkan Iyau kepada Misman yang sama-sama memiliki keresahan dan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

    Misman sudah diketahui oleh Iyau lebih dahulu, bahwa mrlakukan pemungutan sampah sendirian. Bahkan Misman sudah menyusuri hingga hulu SKM melalui jalur darat.

    Mereka bersama mulai menyusur sungai, tapi dalam perjalanan mereka mendapatkan kendala sehingga perlu waktu yang panjang untuk membersihkan dahulu.

    "Kami mau dekat dengan sungai, tentu kita harus tau SKM hingga ke hulu. Ketika kita menyusuri sungai, di bawah jembatan Unmul tersebut tidak bisa dilalui, karena banyak tumbuhan disitu dan sampah yang menumpuk, sehingga menutupi jalan kami, sehingga perlu waktu untuk membersihkan," jelasnya.

    Pria kelahiran Amuntai, Kalimantan Selatan ini juga berupaya menumbuhkan kesadaran masyarakat Samarinda, bersama Misman ingin membuat gerakan yang melibatkan masyarakat.

    Dibantu oleh PWI Kaltim, mereka mendirikan organisasi Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) pada 2015 silam.

    "Kalau kita mau bersama masyarakat maka harus punya tempat dan nama, agar warga Samarinda tahu keberadaan kami," imbuhnya.

    Dalam perjalanan organisasi, Iyau masih belum puas dalam gerakan yang dibangun. Akhirnya mereka mendirikan Sekolah Sungai sebagai langkah pemahaman lebih terhadap masyarakat.

    "Pada 2016 akhir kami membentuk Sekolah Sungai, gerakan kita bukan hanya gerakan untuk memungut sampah tetapi juga melestarikan pohon di sepanjang sungai maupun budidaya endemi lainny dan juga memahami restorasi sungai," paparnya.

    Sebagai aktivis lingkungan hidup, Iyau mempelajari sungai dari berbagai orang yang datang ke Sekolah Sungai, salah satunya Khairudin dari UGM.

    Khairudin bersama mahasiswa pascasarjana mengajar di Sekolah Sungai dan Iyau selalu mendengarkan materi yang disampaikan olehnya serta mendalami ilmu hidrologi dan lainnya.

    Selain itu, Iyau pernah menuntut ilmu  di SMA Negeri 1 Samarinda mengambil jurusan Biologi hingga 1990 dan sedikit paham mengenai lingkungan.

    Pengetahuannya terhadap lingkungan didukung ketika mengikuti ekstrakulikuler di masa SMA, yakni Ikatan Pemuda Pencinta Alam (IPPA) SMAN 1 Samarinda.

    Iyau berpesan kepada para masyarakat untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan.

    "Saya berharap kepada semua elemen masyarakat untuk bisa menjaga alam kita, karena dari alam kita hidup dengan nyaman," tutupnya.

    (Sf/By)