Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim
Ilustrasi Gangguan pernapasan atau ISPA yang dialami oleh seseorang, kasus ISPA yang tak pernah tuntas di Bumi Etam. (Foto: Freepik/Seputarfakta.com)
Samarinda - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Timur (Kaltim) tidak lagi mengenal musim. Hujan atau kemarau, ancaman terhadap kesehatan paru-paru warga tetap tinggi sepanjang tahun.
Saat musim hujan datang, kelembapan udara memicu berkembangnya virus dan bakteri. Begitu kemarau tiba, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengambil alih sebagai sumber masalah pernapasan.
Perpindahan musim di Kaltim bukan berarti pergantian ancaman, melainkan hanya perubahan bentuk gangguan pernapasan.
Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Data resmi menunjukkan bahwa ISPA benar-benar menjadi ancaman kesehatan utama di Kaltim.
Di Kota Samarinda, sepanjang tahun 2024 tercatat 35.595 kasus ISPA, menjadikannya penyakit dengan jumlah penderita tertinggi dibandingkan penyakit lain seperti diare (4.628 kasus), tuberkulosis (1.650 kasus), dan DBD (1.461 kasus) berdasarkan data Satudata Pemerintah Kota Samarinda (2024).
Tidak hanya di tingkat kota, situasi serupa juga terlihat secara provinsi. Profil Kesehatan Provinsi Kaltim Tahun 2022 mencatat 67.741 kasus pneumonia pada balita yang tersebar di 10 kabupaten/kota.
Pneumonia merupakan bentuk ISPA berat, dan angka ini belum termasuk kasus ISPA pada kelompok usia dewasa dan lansia. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa beban penyakit ISPA di Kaltim bersifat sistemik dan berulang, bukan fenomena musiman atau kasus lokal semata.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, Jaya Mualimin, membenarkan tren tersebut.
“Setiap tahun polanya sama. Saat hujan, warga banyak yang sakit karena infeksi saluran pernapasan. Saat kemarau, kabut asap membuat situasi makin berat,” kata Jaya beberapa waktu lalu.
Provinsi Kaltim memiliki karakter lingkungan yang memperbesar risiko ISPA. Kombinasi kelembapan tinggi saat hujan dan debu industri serta kabut asap saat kemarau menyebabkan kualitas udara di banyak wilayah berada pada level tidak sehat dalam waktu yang panjang.
Inilah yang membuat ISPA seolah menjadi penyakit endemik sosial di Kaltim selalu ada dan terus berulang.
Kecenderungan ISPA yang tidak mengenal musim di Kaltim berkaitan dengan kondisi ekologis wilayah ini. Saat musim hujan, kelembapan udara yang meningkat menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme patogen.
Penelitian dari Nasution dalam Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia yang diterbitkan pada 2025 ini menyebut kelembapan yang tidak sesuai standar meningkatkan risiko ISPA.
Kondisi ini rutin terjadi di wilayah seperti Samarinda, Kutai Kartanegara, dan Berau, yang mencatat curah hujan signifikan dan kelembapan selalu di kisaran tinggi.
Sebaliknya, saat musim kemarau, ancaman ISPA datang dari kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2023, sedikitnya 1.201 titik panas (hotspot) terdeteksi di Kaltim, terutama di Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, dan Paser.
Hal ini berdampak langsung pada kualitas udara. Misalnya, selama Agustus–Oktober 2023, Samarinda melaporkan lonjakan ISPA hingga tambah 38 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yakni dari 2.800 kasus menjadi sekitar 3.864 kasus per bulan.
Pada waktu bersamaan, PM2.5 di kota itu mencapai 120–160 µg/m³ atau mikrogram per meter kubik, jauh melampaui batas aman WHO, yaitu 25 µg/m³.
WHO memperingatkan bahwa paparan PM2.5 seperti itu berisiko menyebabkan iritasi saluran napas, infeksi pernapasan akut, penurunan fungsi paru, bahkan meningkatkan risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan penyakit kardiovaskular bila berlangsung lama.
“Partikel PM2.5 dapat menembus sistem pertahanan tubuh dan masuk hingga alveoli paru, memicu peradangan dan stres oksidatif, itulah mengapa ISPA melonjak saat kabut asap,” ujar Pakar kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia, Budi Haryanto dalam laman publik.
Kelompok yang paling rentan terhadap ISPA di Kalimantan Timur adalah anak-anak dan lansia. Data Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim menunjukkan bahwa kasus ISPA paling banyak terjadi pada usia balita hingga anak sekolah.
Seperti data di atas, yang mencatat 67.741 kasus pneumonia pada balita, menunjukkan bahwa infeksi saluran napas masih menjadi ancaman serius bagi kelompok usia dini.
Menurut literatur kesehatan anak, sistem kekebalan tubuh anak belum terbentuk sempurna sehingga mereka lebih rentan terhadap infeksi saluran pernapasan.
Sementara itu, lansia mengalami penurunan fungsi paru akibat proses penuaan, sehingga tubuh mereka lebih sulit melawan paparan polutan dan virus. Kondisi ini menjadikan Kaltim wilayah dengan risiko ganda ISPA lintas usia.
Selain itu, wilayah ini juga memiliki komposisi tenaga kerja dengan risiko tinggi, terutama pekerja sektor tambang batu bara, perkebunan sawit, dan transportasi yang banyak melakukan aktivitas di luar ruangan.
Berdasarkan laporan ILO dan Kementerian Ketenagakerjaan pada 2022, pekerja yang terpapar polusi udara secara berkepanjangan memiliki risiko 1,8 kali lebih tinggi mengalami gangguan pernapasan dibanding pekerja di lingkungan industri tertutup.
Situasi ini relevan dengan kondisi Kaltim yang merupakan salah satu lumbung tambang batu bara terbesar di Indonesia, dengan aktivitas yang memicu debu dan polusi udara lokal.
Masalah ISPA di Kaltim tidak berdiri sendiri. Siklus penyakit ini terus berulang karena faktor penyebabnya bersifat struktural dan saling berkaitan.
Pertama, kualitas udara yang buruk menjadi persoalan kronis di wilayah ini. Selain dipengaruhi oleh kabut asap, aktivitas pertambangan dan lalu lintas kendaraan berat turut meningkatkan polusi udara lokal, terutama di kawasan industri seperti Kutai Kartanegara, Bontang, dan Penajam Paser Utara.
Kedua, kerentanan kesehatan masyarakat diperburuk oleh perilaku dan kondisi lingkungan rumah tangga. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, 23,1 persen rumah tangga di Kaltim masih terpapar asap rokok di dalam rumah, yang memperbesar risiko ISPA pada anak dan lansia. Faktor ini sering terabaikan dalam kebijakan kesehatan daerah karena tidak dianggap bagian dari pengendalian ISPA.
Ketiga, minimnya edukasi kesehatan pernapasan dan pencegahan ISPA membuat masyarakat berada pada posisi bertahan, bukan siap siaga. Misalnya, surveilans kesehatan jarang dilakukan berbasis cuaca dan kualitas udara, padahal Kaltim adalah daerah rawan karhutla dan kelembapan ekstrem.
Rangkaian kenyataan tersebut menunjukkan bahwa ISPA di Kaltim bukan sekadar masalah medis, melainkan persoalan lingkungan dan tata kelola risiko kesehatan publik.
Masalah ini semakin penting diperhatikan karena Kaltim kini sedang bersiap menjadi wilayah strategis nasional dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN).
Namun ironisnya, hingga kini belum terlihat kebijakan yang secara serius menempatkan kualitas udara dan perlindungan kesehatan pernapasan sebagai prioritas pembangunan.
Tanpa perubahan pendekatan, besar kemungkinan ISPA akan terus menjadi “penyakit laten” di Kaltim dan selalu ada, terus meningkat, dan tidak pernah dianggap darurat.
Kaltim memang tengah bergerak menuju pusat perhatian nasional melalui pembangunan IKN. Namun, pertumbuhan wilayah tanpa proteksi kesehatan hanya akan menciptakan generasi yang tumbuh di bawah ancaman udara kotor dan paru-paru yang lelah.
Pada akhirnya, pertanyaan paling mendasar yang mesti dijawab pemerintah bukan lagi kapan ISPA akan reda, tetapi kapan perlindungan kesehatan akan benar-benar diprioritaskan, sebelum napas masyarakat Kaltim terlanjur habis oleh kelalaian kebijakan.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim

Ilustrasi Gangguan pernapasan atau ISPA yang dialami oleh seseorang, kasus ISPA yang tak pernah tuntas di Bumi Etam. (Foto: Freepik/Seputarfakta.com)
Samarinda - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Timur (Kaltim) tidak lagi mengenal musim. Hujan atau kemarau, ancaman terhadap kesehatan paru-paru warga tetap tinggi sepanjang tahun.
Saat musim hujan datang, kelembapan udara memicu berkembangnya virus dan bakteri. Begitu kemarau tiba, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengambil alih sebagai sumber masalah pernapasan.
Perpindahan musim di Kaltim bukan berarti pergantian ancaman, melainkan hanya perubahan bentuk gangguan pernapasan.
Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Data resmi menunjukkan bahwa ISPA benar-benar menjadi ancaman kesehatan utama di Kaltim.
Di Kota Samarinda, sepanjang tahun 2024 tercatat 35.595 kasus ISPA, menjadikannya penyakit dengan jumlah penderita tertinggi dibandingkan penyakit lain seperti diare (4.628 kasus), tuberkulosis (1.650 kasus), dan DBD (1.461 kasus) berdasarkan data Satudata Pemerintah Kota Samarinda (2024).
Tidak hanya di tingkat kota, situasi serupa juga terlihat secara provinsi. Profil Kesehatan Provinsi Kaltim Tahun 2022 mencatat 67.741 kasus pneumonia pada balita yang tersebar di 10 kabupaten/kota.
Pneumonia merupakan bentuk ISPA berat, dan angka ini belum termasuk kasus ISPA pada kelompok usia dewasa dan lansia. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa beban penyakit ISPA di Kaltim bersifat sistemik dan berulang, bukan fenomena musiman atau kasus lokal semata.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, Jaya Mualimin, membenarkan tren tersebut.
“Setiap tahun polanya sama. Saat hujan, warga banyak yang sakit karena infeksi saluran pernapasan. Saat kemarau, kabut asap membuat situasi makin berat,” kata Jaya beberapa waktu lalu.
Provinsi Kaltim memiliki karakter lingkungan yang memperbesar risiko ISPA. Kombinasi kelembapan tinggi saat hujan dan debu industri serta kabut asap saat kemarau menyebabkan kualitas udara di banyak wilayah berada pada level tidak sehat dalam waktu yang panjang.
Inilah yang membuat ISPA seolah menjadi penyakit endemik sosial di Kaltim selalu ada dan terus berulang.
Kecenderungan ISPA yang tidak mengenal musim di Kaltim berkaitan dengan kondisi ekologis wilayah ini. Saat musim hujan, kelembapan udara yang meningkat menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme patogen.
Penelitian dari Nasution dalam Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia yang diterbitkan pada 2025 ini menyebut kelembapan yang tidak sesuai standar meningkatkan risiko ISPA.
Kondisi ini rutin terjadi di wilayah seperti Samarinda, Kutai Kartanegara, dan Berau, yang mencatat curah hujan signifikan dan kelembapan selalu di kisaran tinggi.
Sebaliknya, saat musim kemarau, ancaman ISPA datang dari kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2023, sedikitnya 1.201 titik panas (hotspot) terdeteksi di Kaltim, terutama di Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, dan Paser.
Hal ini berdampak langsung pada kualitas udara. Misalnya, selama Agustus–Oktober 2023, Samarinda melaporkan lonjakan ISPA hingga tambah 38 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yakni dari 2.800 kasus menjadi sekitar 3.864 kasus per bulan.
Pada waktu bersamaan, PM2.5 di kota itu mencapai 120–160 µg/m³ atau mikrogram per meter kubik, jauh melampaui batas aman WHO, yaitu 25 µg/m³.
WHO memperingatkan bahwa paparan PM2.5 seperti itu berisiko menyebabkan iritasi saluran napas, infeksi pernapasan akut, penurunan fungsi paru, bahkan meningkatkan risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan penyakit kardiovaskular bila berlangsung lama.
“Partikel PM2.5 dapat menembus sistem pertahanan tubuh dan masuk hingga alveoli paru, memicu peradangan dan stres oksidatif, itulah mengapa ISPA melonjak saat kabut asap,” ujar Pakar kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia, Budi Haryanto dalam laman publik.
Kelompok yang paling rentan terhadap ISPA di Kalimantan Timur adalah anak-anak dan lansia. Data Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim menunjukkan bahwa kasus ISPA paling banyak terjadi pada usia balita hingga anak sekolah.
Seperti data di atas, yang mencatat 67.741 kasus pneumonia pada balita, menunjukkan bahwa infeksi saluran napas masih menjadi ancaman serius bagi kelompok usia dini.
Menurut literatur kesehatan anak, sistem kekebalan tubuh anak belum terbentuk sempurna sehingga mereka lebih rentan terhadap infeksi saluran pernapasan.
Sementara itu, lansia mengalami penurunan fungsi paru akibat proses penuaan, sehingga tubuh mereka lebih sulit melawan paparan polutan dan virus. Kondisi ini menjadikan Kaltim wilayah dengan risiko ganda ISPA lintas usia.
Selain itu, wilayah ini juga memiliki komposisi tenaga kerja dengan risiko tinggi, terutama pekerja sektor tambang batu bara, perkebunan sawit, dan transportasi yang banyak melakukan aktivitas di luar ruangan.
Berdasarkan laporan ILO dan Kementerian Ketenagakerjaan pada 2022, pekerja yang terpapar polusi udara secara berkepanjangan memiliki risiko 1,8 kali lebih tinggi mengalami gangguan pernapasan dibanding pekerja di lingkungan industri tertutup.
Situasi ini relevan dengan kondisi Kaltim yang merupakan salah satu lumbung tambang batu bara terbesar di Indonesia, dengan aktivitas yang memicu debu dan polusi udara lokal.
Masalah ISPA di Kaltim tidak berdiri sendiri. Siklus penyakit ini terus berulang karena faktor penyebabnya bersifat struktural dan saling berkaitan.
Pertama, kualitas udara yang buruk menjadi persoalan kronis di wilayah ini. Selain dipengaruhi oleh kabut asap, aktivitas pertambangan dan lalu lintas kendaraan berat turut meningkatkan polusi udara lokal, terutama di kawasan industri seperti Kutai Kartanegara, Bontang, dan Penajam Paser Utara.
Kedua, kerentanan kesehatan masyarakat diperburuk oleh perilaku dan kondisi lingkungan rumah tangga. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, 23,1 persen rumah tangga di Kaltim masih terpapar asap rokok di dalam rumah, yang memperbesar risiko ISPA pada anak dan lansia. Faktor ini sering terabaikan dalam kebijakan kesehatan daerah karena tidak dianggap bagian dari pengendalian ISPA.
Ketiga, minimnya edukasi kesehatan pernapasan dan pencegahan ISPA membuat masyarakat berada pada posisi bertahan, bukan siap siaga. Misalnya, surveilans kesehatan jarang dilakukan berbasis cuaca dan kualitas udara, padahal Kaltim adalah daerah rawan karhutla dan kelembapan ekstrem.
Rangkaian kenyataan tersebut menunjukkan bahwa ISPA di Kaltim bukan sekadar masalah medis, melainkan persoalan lingkungan dan tata kelola risiko kesehatan publik.
Masalah ini semakin penting diperhatikan karena Kaltim kini sedang bersiap menjadi wilayah strategis nasional dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN).
Namun ironisnya, hingga kini belum terlihat kebijakan yang secara serius menempatkan kualitas udara dan perlindungan kesehatan pernapasan sebagai prioritas pembangunan.
Tanpa perubahan pendekatan, besar kemungkinan ISPA akan terus menjadi “penyakit laten” di Kaltim dan selalu ada, terus meningkat, dan tidak pernah dianggap darurat.
Kaltim memang tengah bergerak menuju pusat perhatian nasional melalui pembangunan IKN. Namun, pertumbuhan wilayah tanpa proteksi kesehatan hanya akan menciptakan generasi yang tumbuh di bawah ancaman udara kotor dan paru-paru yang lelah.
Pada akhirnya, pertanyaan paling mendasar yang mesti dijawab pemerintah bukan lagi kapan ISPA akan reda, tetapi kapan perlindungan kesehatan akan benar-benar diprioritaskan, sebelum napas masyarakat Kaltim terlanjur habis oleh kelalaian kebijakan.
(Sf/Rs)