Seputar Kaltim

    Melihat kembali Dakwah Damai Tuan Tunggang Parangan, Upaya Merawat Ingatan Sejarah di Tengah Generasi Muda Kaltim

    Penulis:Maulana|Redaktur:Lodya A
    06 Oktober 2025 pukul 19:44 WITA

    Diskusi Publik peringatan 4,5 abad Islam di Kutai-Kaltim 1575-2025 refleksi historis dakwah inklusif Tuan Tunggang Parangan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Peringatan 4,5 abad masuknya Islam di Kutai Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi momentum refleksi mendalam tentang bagaimana sejarah seharusnya diwariskan. 

    Dalam Diskusi Publik SUMBU TENGAH Edisi 6 di Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Senin (6/10/2025), terungkap sebuah benang merah bahwa kekayaan sejarah dakwah inklusif di Kaltim berhadapan dengan tantangan rendahnya literasi dan minat generasi muda.

    Diskusi yang mengangkat tema "Refleksi Historis Dakwah Inklusif Tuan Tunggang Parangan" tersebut menghadirkan Sejarawan Publik Muhammad Sarip, Anggota DPD RI Aji Mirni Mawarni, Petinggi Pore Sempekat Keroan Kutai Kaltim Aji Muhammad Mirza Wardana, dan Duta Persada Nusantara Kaltim Nur Jannah. 

    Para pembicara dalam forum yang dimoderatori oleh Founder Sumbu Tengah Rusdianto tersebut, sepakat bahwa esensi sejarah Islam di Kutai adalah perdamaian. Namun, pesan itu terancam hilang jika tidak ada upaya serius untuk mengenalkannya kembali kepada publik, khususnya generasi muda.

    Sejarawan Publik, Muhammad Sarip, menjelaskan bahwa inti dari dakwah Tuan Tunggang Parangan adalah inklusivitas. Menurutnya, proses masuknya Islam ke wilayah Kerajaan Kutai berlangsung damai dan diterima luas karena tidak memberangus tradisi yang telah ada.

    "Islam masuk itu tidak menghapus tradisi-tradisi lama, selama itu tidak menyangkut urusan akidah. Ada kontinuitas, ada kesinambungan antara tradisi lama dengan ajaran yang dibawa," jelas Sarip.

    Penulis buku “Histori Kutai” itu mencontohkan, tradisi adat seperti Erau tetap bisa berlangsung dengan akomodatif. Begitu pula ritual keseharian lainnya. 

    "Makanya Islam diterima, karena tidak secara radikal mengubah adat istiadat leluhur," tegasnya.

    Menurut Sarip, acara dengan judul romantisme seperti peringatan 4,5 abad ini adalah salah satu caranya sebagai penulis untuk memantik kesadaran dan mendorong minat publik terhadap sejarah.

    “Tahun 2023 ketika launching buku Histori Kutai saya mengajak anak muda untuk mereview bukunya di forum publik. Kali ini saya juga mengajak gen Z, Nur Jannah, untuk berani berbicara di forum publik menurut pemahaman dia setelah membaca buku yang sama,” bebernya.

    Aji Mirza yang juga keturunan Sultan Aji Muhammad Sulaiman mengemukakan, budaya lama Kutai yang bercorak Hindu ada yang masih dipertahankan.

    “Hal ini menunjukkan bahwa dakwah yang terjadi di Kutai tidak menggunakan kekerasan dan mengakomodasi kelanjutan budaya. Karena budaya ada yang masuk dalam undang-undang kerajaan," ungkap Aji Mirza.

    Kekhawatiran tentang lunturnya pemahaman sejarah ini diamini oleh Anggota DPD dan MPR RI asal Kaltim, Aji Mirni Mawarni. Ia mengakui bahwa tingkat literasi dan minat terhadap sejarah, bahkan sejak generasinya, tergolong rendah.

    "Namanya anak-anak muda sekarang, gak hanya anak muda ya, literasi tentang sejarah ini kan sangat rendah. Di sisi lain juga minat orang terhadap sejarah juga kurang," ungkap Mawar, sapaan akrabnya.

    Sebagai senator Kaltim di pusat, ia merasa memiliki peran untuk mengatasi hal ini. Salah satu upayanya adalah mendorong penerbitan buku "Histori Kutai" dan mengangkat tema-tema spesifik di dalamnya, seperti perjanjian dengan Hindia Belanda hingga sejarah masuknya Islam, untuk memancing rasa ingin tahu publik.

    "Saya berharap kampus juga bisa berkolaborasi dengan kami. Berkaitan dengan publikasi tentang pemahaman, bukan hanya publikasi, tapi memberi lebih terhadap sejarah Kutai," ujarnya. 

    Mawar bahkan menyinggung fakta bahwa banyak mahasiswa belum mengenal sejarah di balik nama kampus mereka sendiri, sebagai bukti nyata peningkatan literasi sejarah.

    Pesan tersebut tampaknya sampai kepada audiens yang dituju. Nur Jannah, mahasiswa Fakultas Syariah UINSI, mengaku sangat terkesan dengan diskusi tersebut. Baginya, pelajaran terpenting bukanlah memperdebatkan versi sejarah, melainkan menangkap esensi dakwah yang bijak dan damai.

    "Sejarah Islam bukan hanya tentang siapa yang datang pertama kali, tetapi tentang bagaimana Allah Swt menghadirkan hidayah melalui cara-cara yang bijak. Kadang melalui perdagangan, persahabatan, atau cerita lisan," tutur Nur Jannah.

    Ia pun mengajak rekan-rekannya untuk lebih mencintai sejarah. "Maka tugas kita hari ini bukan menentukan versi mana sih yang paling benar, tetapi mempelajarinya, menghormatinya, meneliti jejak historisnya, dan terus meneruskan semangat damainya," pungkas Nur Jannah.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Melihat kembali Dakwah Damai Tuan Tunggang Parangan, Upaya Merawat Ingatan Sejarah di Tengah Generasi Muda Kaltim

    Penulis:Maulana|Redaktur:Lodya A
    06 Oktober 2025 pukul 19:44 WITA

    Diskusi Publik peringatan 4,5 abad Islam di Kutai-Kaltim 1575-2025 refleksi historis dakwah inklusif Tuan Tunggang Parangan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Peringatan 4,5 abad masuknya Islam di Kutai Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi momentum refleksi mendalam tentang bagaimana sejarah seharusnya diwariskan. 

    Dalam Diskusi Publik SUMBU TENGAH Edisi 6 di Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Senin (6/10/2025), terungkap sebuah benang merah bahwa kekayaan sejarah dakwah inklusif di Kaltim berhadapan dengan tantangan rendahnya literasi dan minat generasi muda.

    Diskusi yang mengangkat tema "Refleksi Historis Dakwah Inklusif Tuan Tunggang Parangan" tersebut menghadirkan Sejarawan Publik Muhammad Sarip, Anggota DPD RI Aji Mirni Mawarni, Petinggi Pore Sempekat Keroan Kutai Kaltim Aji Muhammad Mirza Wardana, dan Duta Persada Nusantara Kaltim Nur Jannah. 

    Para pembicara dalam forum yang dimoderatori oleh Founder Sumbu Tengah Rusdianto tersebut, sepakat bahwa esensi sejarah Islam di Kutai adalah perdamaian. Namun, pesan itu terancam hilang jika tidak ada upaya serius untuk mengenalkannya kembali kepada publik, khususnya generasi muda.

    Sejarawan Publik, Muhammad Sarip, menjelaskan bahwa inti dari dakwah Tuan Tunggang Parangan adalah inklusivitas. Menurutnya, proses masuknya Islam ke wilayah Kerajaan Kutai berlangsung damai dan diterima luas karena tidak memberangus tradisi yang telah ada.

    "Islam masuk itu tidak menghapus tradisi-tradisi lama, selama itu tidak menyangkut urusan akidah. Ada kontinuitas, ada kesinambungan antara tradisi lama dengan ajaran yang dibawa," jelas Sarip.

    Penulis buku “Histori Kutai” itu mencontohkan, tradisi adat seperti Erau tetap bisa berlangsung dengan akomodatif. Begitu pula ritual keseharian lainnya. 

    "Makanya Islam diterima, karena tidak secara radikal mengubah adat istiadat leluhur," tegasnya.

    Menurut Sarip, acara dengan judul romantisme seperti peringatan 4,5 abad ini adalah salah satu caranya sebagai penulis untuk memantik kesadaran dan mendorong minat publik terhadap sejarah.

    “Tahun 2023 ketika launching buku Histori Kutai saya mengajak anak muda untuk mereview bukunya di forum publik. Kali ini saya juga mengajak gen Z, Nur Jannah, untuk berani berbicara di forum publik menurut pemahaman dia setelah membaca buku yang sama,” bebernya.

    Aji Mirza yang juga keturunan Sultan Aji Muhammad Sulaiman mengemukakan, budaya lama Kutai yang bercorak Hindu ada yang masih dipertahankan.

    “Hal ini menunjukkan bahwa dakwah yang terjadi di Kutai tidak menggunakan kekerasan dan mengakomodasi kelanjutan budaya. Karena budaya ada yang masuk dalam undang-undang kerajaan," ungkap Aji Mirza.

    Kekhawatiran tentang lunturnya pemahaman sejarah ini diamini oleh Anggota DPD dan MPR RI asal Kaltim, Aji Mirni Mawarni. Ia mengakui bahwa tingkat literasi dan minat terhadap sejarah, bahkan sejak generasinya, tergolong rendah.

    "Namanya anak-anak muda sekarang, gak hanya anak muda ya, literasi tentang sejarah ini kan sangat rendah. Di sisi lain juga minat orang terhadap sejarah juga kurang," ungkap Mawar, sapaan akrabnya.

    Sebagai senator Kaltim di pusat, ia merasa memiliki peran untuk mengatasi hal ini. Salah satu upayanya adalah mendorong penerbitan buku "Histori Kutai" dan mengangkat tema-tema spesifik di dalamnya, seperti perjanjian dengan Hindia Belanda hingga sejarah masuknya Islam, untuk memancing rasa ingin tahu publik.

    "Saya berharap kampus juga bisa berkolaborasi dengan kami. Berkaitan dengan publikasi tentang pemahaman, bukan hanya publikasi, tapi memberi lebih terhadap sejarah Kutai," ujarnya. 

    Mawar bahkan menyinggung fakta bahwa banyak mahasiswa belum mengenal sejarah di balik nama kampus mereka sendiri, sebagai bukti nyata peningkatan literasi sejarah.

    Pesan tersebut tampaknya sampai kepada audiens yang dituju. Nur Jannah, mahasiswa Fakultas Syariah UINSI, mengaku sangat terkesan dengan diskusi tersebut. Baginya, pelajaran terpenting bukanlah memperdebatkan versi sejarah, melainkan menangkap esensi dakwah yang bijak dan damai.

    "Sejarah Islam bukan hanya tentang siapa yang datang pertama kali, tetapi tentang bagaimana Allah Swt menghadirkan hidayah melalui cara-cara yang bijak. Kadang melalui perdagangan, persahabatan, atau cerita lisan," tutur Nur Jannah.

    Ia pun mengajak rekan-rekannya untuk lebih mencintai sejarah. "Maka tugas kita hari ini bukan menentukan versi mana sih yang paling benar, tetapi mempelajarinya, menghormatinya, meneliti jejak historisnya, dan terus meneruskan semangat damainya," pungkas Nur Jannah.

    (Sf/Lo)