Cari disini...
Seputar Kaltim
Potret penyajian menu MBG. (Dok: Istimewa)
Penajam – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU) menghadirkan inovasi bertajuk ‘Mudyatomics’ sebagai konsep pembangunan yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi rakyat.
Salah satu penerapan nyata dari strategi ini adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Mandiri yang dirancang untuk memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM) sejak usia dini, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal di seluruh kecamatan se-PPU.
Menariknya semangat MBG Mandiri sejalan dengan arah kebijakan nasional. Program ini memperkuat SDM melalui gizi seimbang dan pemberdayaan ekonomi lokal, selaras dengan delapan prioritas nasional Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025, terutama dalam aspek penguatan SDM dan pembangunan dari tingkat bawah.
“Inilah cara kami melengkapi kebijakan nasional dengan pendekatan daerah. Kita tidak menunggu bantuan, tapi bergerak mandiri,” ujar Bupati PPU, Mudyat Noor, Rabu (22/10/2025).
Program MBG Mandiri dilaksanakan secara mandiri menggunakan APBD PPU dengan dukungan Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora), serta komite sekolah dan kantin sebagai pelaksana utama.
Penyediaan menu dilakukan langsung di lingkungan sekolah, berbeda dengan program MBG yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Selama masa uji coba 28 hari, program ini memastikan kualitas gizi anak tetap terjaga sekaligus menggerakkan ekonomi di sekitar sekolah.
Setiap porsi disubsidi Rp12 ribu dengan rincian Rp10 ribu untuk bahan makanan bergizi dan Rp2 ribu untuk pajak.
Angka ini mampu menggerakkan banyak pihak, mulai dari petani lokal, pedagang pasar hingga tenaga dapur sekolah.
“Program ini tidak hanya soal gizi, tapi juga ekonomi. Uang yang berputar tidak lari ke kontraktor besar, tapi ke warung kecil, pasar lokal dan dapur masyarakat,” jelas Mudyat.
Program MBG Mandiri akan menjangkau 157 PAUD/TK, 108 SD dan 36 SMP di empat kecamatan, yaitu Penajam, Waru, Babulu dan Sepaku.
Dari total tersebut, 27 sekolah diakomodir program nasional BGN, sementara sisanya dijalankan secara mandiri oleh Pemkab PPU.
Komite sekolah mengatur pengadaan bahan baku dari pasar setempat, sedangkan kantin sekolah menjadi pusat distribusi makanan bergizi.
Dampaknya, aktivitas ekonomi baru tumbuh di sekitar sekolah, ladang petani kembali produktif, pedagang kecil semakin ramai dan dapur sekolah hidup dengan semangat gotong royong.
“Inilah semangat Benuo Taka mandiri, tangguh dan terus berinovasi. Mudyatomics membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang, tapi pintu menuju kemandirian,” tandasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Potret penyajian menu MBG. (Dok: Istimewa)
Penajam – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU) menghadirkan inovasi bertajuk ‘Mudyatomics’ sebagai konsep pembangunan yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi rakyat.
Salah satu penerapan nyata dari strategi ini adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Mandiri yang dirancang untuk memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM) sejak usia dini, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal di seluruh kecamatan se-PPU.
Menariknya semangat MBG Mandiri sejalan dengan arah kebijakan nasional. Program ini memperkuat SDM melalui gizi seimbang dan pemberdayaan ekonomi lokal, selaras dengan delapan prioritas nasional Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025, terutama dalam aspek penguatan SDM dan pembangunan dari tingkat bawah.
“Inilah cara kami melengkapi kebijakan nasional dengan pendekatan daerah. Kita tidak menunggu bantuan, tapi bergerak mandiri,” ujar Bupati PPU, Mudyat Noor, Rabu (22/10/2025).
Program MBG Mandiri dilaksanakan secara mandiri menggunakan APBD PPU dengan dukungan Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora), serta komite sekolah dan kantin sebagai pelaksana utama.
Penyediaan menu dilakukan langsung di lingkungan sekolah, berbeda dengan program MBG yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Selama masa uji coba 28 hari, program ini memastikan kualitas gizi anak tetap terjaga sekaligus menggerakkan ekonomi di sekitar sekolah.
Setiap porsi disubsidi Rp12 ribu dengan rincian Rp10 ribu untuk bahan makanan bergizi dan Rp2 ribu untuk pajak.
Angka ini mampu menggerakkan banyak pihak, mulai dari petani lokal, pedagang pasar hingga tenaga dapur sekolah.
“Program ini tidak hanya soal gizi, tapi juga ekonomi. Uang yang berputar tidak lari ke kontraktor besar, tapi ke warung kecil, pasar lokal dan dapur masyarakat,” jelas Mudyat.
Program MBG Mandiri akan menjangkau 157 PAUD/TK, 108 SD dan 36 SMP di empat kecamatan, yaitu Penajam, Waru, Babulu dan Sepaku.
Dari total tersebut, 27 sekolah diakomodir program nasional BGN, sementara sisanya dijalankan secara mandiri oleh Pemkab PPU.
Komite sekolah mengatur pengadaan bahan baku dari pasar setempat, sedangkan kantin sekolah menjadi pusat distribusi makanan bergizi.
Dampaknya, aktivitas ekonomi baru tumbuh di sekitar sekolah, ladang petani kembali produktif, pedagang kecil semakin ramai dan dapur sekolah hidup dengan semangat gotong royong.
“Inilah semangat Benuo Taka mandiri, tangguh dan terus berinovasi. Mudyatomics membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang, tapi pintu menuju kemandirian,” tandasnya.
(Sf/Lo)