Masjid At Taubah Sangatta Lama, Berdiri Sejak 1977 dan Ubah Kawasan Preman Jadi Pusat Ibadah

    Seputarfakta.com-Lisda -

    Seputar Kaltim

    04 Maret 2026 12:27 WIB

    Masjid At Taubah di Sangatta Selatan, berdiri sejak 1977 dan menjadi pusat ibadah warga. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Perubahan wajah Sangatta Lama tak lepas dari peran rumah ibadah yang berdiri di tengah kawasan tersebut. Di Jalan Inpres, Desa Pasar Raya, Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur (Kutim), Masjid At Taubah menjadi simbol transformasi sosial yang terjadi sejak puluhan tahun lalu.

    Masjid yang berdiri sejak 1977 itu awalnya dikenal dengan nama Masjid Raya Sangatta. Lokasinya kala itu berada di area yang belum seramai sekarang. Bahkan kawasan tersebut sempat memiliki citra negatif karena maraknya perkelahian, perjudian, hingga aktivitas hiburan malam.

    Salah satu pendiri masjid, H Sutiman mengatakan sebelum bangunan itu berdiri, lahan tersebut hanyalah lapangan sepak bola yang berada di sekitar Pasar Sangatta Lama. Perkembangan wilayah mulai terasa ketika perusahaan migas masuk ke Sangatta Selatan dan mendatangkan banyak pendatang.

    “Dulu hanya lapangan bola. Setelah banyak pendatang masuk karena perusahaan migas, daerah ini berkembang. Dari situ dibangunlah masjid yang dulu namanya Masjid Raya Sangatta,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, belum lama ini.

    Pembangunan masjid itu tak lepas dari peran empat tokoh setempat, yakni H Sutiman, Dani, Ibud dan Syahran. Di tengah kondisi sosial yang penuh tantangan, mereka berinisiatif menghadirkan tempat ibadah sebagai penyeimbang kehidupan masyarakat.

    Menurut Sutiman, keberadaan masjid perlahan memberi dampak terhadap lingkungan sekitar. Sejumlah warga yang sebelumnya terlibat dalam kehidupan malam mulai rutin datang untuk salat berjamaah dan mengikuti pengajian.

    Perubahan itulah yang kemudian menginspirasi pergantian nama menjadi Masjid At Taubah. Nama tersebut dipilih sebagai simbol ajakan untuk memperbaiki diri dan meninggalkan kebiasaan lama yang merugikan.

    Kini masjid dengan luas bangunan sekitar 200 meter persegi itu tetap aktif digunakan. Beberapa bagian telah mengalami renovasi mengikuti kebutuhan jemaah, namun struktur utama masih mempertahankan bentuk awalnya.

    Setiap waktu salat fardu, jemaah berdatangan dari berbagai wilayah, tidak hanya dari Desa Pasar Raya, tetapi juga dari Sangatta Utara hingga Sangkima. Aktivitas keagamaan seperti pengajian rutin dan kegiatan sosial juga terus berjalan.

    Memasuki bulan Ramadan, intensitas kegiatan meningkat signifikan. Sekitar 150 jemaah mengikuti buka puasa bersama setiap hari. Warga secara bergiliran membawa hidangan untuk disantap bersama sebelum melaksanakan salat magrib berjemaah.

    Suasana kebersamaan itu menjadi potret perubahan yang nyata di kawasan yang dulunya dikenal keras. Kini Masjid At Taubah bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga ruang pembinaan dan silaturahmi masyarakat.

    H Sutiman berharap masjid tersebut tetap menjadi tempat yang terbuka bagi siapa pun yang ingin memperbaiki diri. “Harapan kami, masjid ini terus hidup dan memberi manfaat. Siapa pun yang datang, semoga mendapat ketenangan dan kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik,” tutupnya.

    (Sf/Lo)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Masjid At Taubah Sangatta Lama, Berdiri Sejak 1977 dan Ubah Kawasan Preman Jadi Pusat Ibadah

    Seputarfakta.com-Lisda -

    Seputar Kaltim

    04 Maret 2026 12:27 WIB

    Masjid At Taubah di Sangatta Selatan, berdiri sejak 1977 dan menjadi pusat ibadah warga. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Perubahan wajah Sangatta Lama tak lepas dari peran rumah ibadah yang berdiri di tengah kawasan tersebut. Di Jalan Inpres, Desa Pasar Raya, Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur (Kutim), Masjid At Taubah menjadi simbol transformasi sosial yang terjadi sejak puluhan tahun lalu.

    Masjid yang berdiri sejak 1977 itu awalnya dikenal dengan nama Masjid Raya Sangatta. Lokasinya kala itu berada di area yang belum seramai sekarang. Bahkan kawasan tersebut sempat memiliki citra negatif karena maraknya perkelahian, perjudian, hingga aktivitas hiburan malam.

    Salah satu pendiri masjid, H Sutiman mengatakan sebelum bangunan itu berdiri, lahan tersebut hanyalah lapangan sepak bola yang berada di sekitar Pasar Sangatta Lama. Perkembangan wilayah mulai terasa ketika perusahaan migas masuk ke Sangatta Selatan dan mendatangkan banyak pendatang.

    “Dulu hanya lapangan bola. Setelah banyak pendatang masuk karena perusahaan migas, daerah ini berkembang. Dari situ dibangunlah masjid yang dulu namanya Masjid Raya Sangatta,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, belum lama ini.

    Pembangunan masjid itu tak lepas dari peran empat tokoh setempat, yakni H Sutiman, Dani, Ibud dan Syahran. Di tengah kondisi sosial yang penuh tantangan, mereka berinisiatif menghadirkan tempat ibadah sebagai penyeimbang kehidupan masyarakat.

    Menurut Sutiman, keberadaan masjid perlahan memberi dampak terhadap lingkungan sekitar. Sejumlah warga yang sebelumnya terlibat dalam kehidupan malam mulai rutin datang untuk salat berjamaah dan mengikuti pengajian.

    Perubahan itulah yang kemudian menginspirasi pergantian nama menjadi Masjid At Taubah. Nama tersebut dipilih sebagai simbol ajakan untuk memperbaiki diri dan meninggalkan kebiasaan lama yang merugikan.

    Kini masjid dengan luas bangunan sekitar 200 meter persegi itu tetap aktif digunakan. Beberapa bagian telah mengalami renovasi mengikuti kebutuhan jemaah, namun struktur utama masih mempertahankan bentuk awalnya.

    Setiap waktu salat fardu, jemaah berdatangan dari berbagai wilayah, tidak hanya dari Desa Pasar Raya, tetapi juga dari Sangatta Utara hingga Sangkima. Aktivitas keagamaan seperti pengajian rutin dan kegiatan sosial juga terus berjalan.

    Memasuki bulan Ramadan, intensitas kegiatan meningkat signifikan. Sekitar 150 jemaah mengikuti buka puasa bersama setiap hari. Warga secara bergiliran membawa hidangan untuk disantap bersama sebelum melaksanakan salat magrib berjemaah.

    Suasana kebersamaan itu menjadi potret perubahan yang nyata di kawasan yang dulunya dikenal keras. Kini Masjid At Taubah bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga ruang pembinaan dan silaturahmi masyarakat.

    H Sutiman berharap masjid tersebut tetap menjadi tempat yang terbuka bagi siapa pun yang ingin memperbaiki diri. “Harapan kami, masjid ini terus hidup dan memberi manfaat. Siapa pun yang datang, semoga mendapat ketenangan dan kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik,” tutupnya.

    (Sf/Lo)