Seputar Kaltim

    Masih Ada Sekolah Bergantian Ruang Belajar, Disdikbud Samarinda Pastikan Pembenahan Bertahap

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    14 Oktober 2026 pukul 22:41 WITA

    Gedung Disdikbud Kota Samarinda. (Foto: Arsensia Serlyani/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Pemerataan kualitas pendidikan di Samarinda tidak hanya bergantung pada distribusi tenaga guru, tetapi juga pada kesetaraan sarana dan prasarana antarsekolah. 

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, Eko Suprayetno, menyebut penerapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) secara daring menjadi salah satu upaya mengurangi anggapan sekolah favorit, sementara pembenahan ruang belajar dan fasilitas pendidikan terus dilakukan bertahap di tengah keterbatasan anggaran.

    Eko mengatakan, pemerataan distribusi guru menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi penumpukan tenaga pendidik berkualitas di sekolah tertentu. 

    Meski baru beberapa hari bertugas di Disdikbud Samarinda, ia meyakini jajaran dinas telah memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut.

    “Saya yakin konsentrasi teman-teman di dinas ini terhadap pemerataan distribusi tenaga guru, supaya tidak terjadi penumpukan dalam satu sekolah tertentu,” ujar Eko, Senin (12/10/2026).

    Menurut Eko, pelaksanaan SPMB secara daring diharapkan turut mengikis anggapan masyarakat yang masih mengelompokkan sekolah ke dalam kategori favorit dan nonfavorit. 

    Namun, ia mengakui pandangan tersebut masih melekat di tengah masyarakat meskipun sekolah-sekolah telah diupayakan memperoleh perlakuan yang setara.

    Selain pemerataan tenaga pendidik, Disdikbud juga berupaya meningkatkan kualitas fasilitas sekolah melalui perencanaan pembangunan fisik, perbaikan sarana dan prasarana, serta pemenuhan kebutuhan ruang belajar. 

    Persoalan ini masih menjadi tantangan karena sejumlah sekolah di Samarinda belum memiliki ruang belajar yang memadai.

    Eko mencontohkan, terdapat SD dan SMP yang harus menggunakan lokasi secara bergantian untuk kegiatan belajar mengajar. 

    Kondisi tersebut membuat proses pembelajaran belum dapat berlangsung secara optimal karena keterbatasan ruang yang tersedia.

    “Ini sangat tidak nyaman untuk proses belajar mengajar, tetapi tidak ada pilihan yang harus kita lakukan karena keterbatasan sarana prasarana yang ada,” jelasnya.

    Ia mengatakan, keterbatasan anggaran yang diperkuat kebijakan efisiensi turut memengaruhi pemenuhan kebutuhan fasilitas pendidikan. 

    Karena itu, pembenahan dilakukan secara bertahap dengan memanfaatkan dukungan program revitalisasi dari kementerian. Menurut Eko, sejumlah usulan revitalisasi telah mendapatkan persetujuan. 

    Dukungan tersebut diharapkan membantu mengatasi kekurangan ruang belajar, meningkatkan kualitas bangunan sekolah, serta memenuhi kebutuhan perlengkapan pembelajaran, seperti meja, kursi dan alat peraga digital.

    Disdikbud Samarinda juga merencanakan pengadaan papan tulis interaktif untuk mendukung pembelajaran berbasis teknologi. 

    Eko menyebut anggaran pengadaan perangkat tersebut telah turun dan diharapkan dapat segera direalisasikan sesuai perencanaan, sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah yang menjadi sasaran.

    Ia berharap pemerataan guru, peningkatan fasilitas dan dukungan teknologi dapat berjalan beriringan, supaya kualitas layanan pendidikan tidak terpusat pada sekolah tertentu. 

    Dengan demikian, upaya menghapus stigma sekolah favorit dapat didukung oleh kondisi pembelajaran yang semakin setara di seluruh wilayah Samarinda.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Masih Ada Sekolah Bergantian Ruang Belajar, Disdikbud Samarinda Pastikan Pembenahan Bertahap

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    14 Oktober 2026 pukul 22:41 WITA

    Gedung Disdikbud Kota Samarinda. (Foto: Arsensia Serlyani/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Pemerataan kualitas pendidikan di Samarinda tidak hanya bergantung pada distribusi tenaga guru, tetapi juga pada kesetaraan sarana dan prasarana antarsekolah. 

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, Eko Suprayetno, menyebut penerapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) secara daring menjadi salah satu upaya mengurangi anggapan sekolah favorit, sementara pembenahan ruang belajar dan fasilitas pendidikan terus dilakukan bertahap di tengah keterbatasan anggaran.

    Eko mengatakan, pemerataan distribusi guru menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi penumpukan tenaga pendidik berkualitas di sekolah tertentu. 

    Meski baru beberapa hari bertugas di Disdikbud Samarinda, ia meyakini jajaran dinas telah memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut.

    “Saya yakin konsentrasi teman-teman di dinas ini terhadap pemerataan distribusi tenaga guru, supaya tidak terjadi penumpukan dalam satu sekolah tertentu,” ujar Eko, Senin (12/10/2026).

    Menurut Eko, pelaksanaan SPMB secara daring diharapkan turut mengikis anggapan masyarakat yang masih mengelompokkan sekolah ke dalam kategori favorit dan nonfavorit. 

    Namun, ia mengakui pandangan tersebut masih melekat di tengah masyarakat meskipun sekolah-sekolah telah diupayakan memperoleh perlakuan yang setara.

    Selain pemerataan tenaga pendidik, Disdikbud juga berupaya meningkatkan kualitas fasilitas sekolah melalui perencanaan pembangunan fisik, perbaikan sarana dan prasarana, serta pemenuhan kebutuhan ruang belajar. 

    Persoalan ini masih menjadi tantangan karena sejumlah sekolah di Samarinda belum memiliki ruang belajar yang memadai.

    Eko mencontohkan, terdapat SD dan SMP yang harus menggunakan lokasi secara bergantian untuk kegiatan belajar mengajar. 

    Kondisi tersebut membuat proses pembelajaran belum dapat berlangsung secara optimal karena keterbatasan ruang yang tersedia.

    “Ini sangat tidak nyaman untuk proses belajar mengajar, tetapi tidak ada pilihan yang harus kita lakukan karena keterbatasan sarana prasarana yang ada,” jelasnya.

    Ia mengatakan, keterbatasan anggaran yang diperkuat kebijakan efisiensi turut memengaruhi pemenuhan kebutuhan fasilitas pendidikan. 

    Karena itu, pembenahan dilakukan secara bertahap dengan memanfaatkan dukungan program revitalisasi dari kementerian. Menurut Eko, sejumlah usulan revitalisasi telah mendapatkan persetujuan. 

    Dukungan tersebut diharapkan membantu mengatasi kekurangan ruang belajar, meningkatkan kualitas bangunan sekolah, serta memenuhi kebutuhan perlengkapan pembelajaran, seperti meja, kursi dan alat peraga digital.

    Disdikbud Samarinda juga merencanakan pengadaan papan tulis interaktif untuk mendukung pembelajaran berbasis teknologi. 

    Eko menyebut anggaran pengadaan perangkat tersebut telah turun dan diharapkan dapat segera direalisasikan sesuai perencanaan, sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah yang menjadi sasaran.

    Ia berharap pemerataan guru, peningkatan fasilitas dan dukungan teknologi dapat berjalan beriringan, supaya kualitas layanan pendidikan tidak terpusat pada sekolah tertentu. 

    Dengan demikian, upaya menghapus stigma sekolah favorit dapat didukung oleh kondisi pembelajaran yang semakin setara di seluruh wilayah Samarinda.

    (Sf/Lo)